Opini

Kibor dalam Kontek Keacehan

Petaka tragis, miris dan menyayat hati terjadi di Aceh Singkil pada Ahad (14/7). Dedi Kasih (19), warga Desa Sebatang

Kibor dalam Kontek Keacehan
IST
Drs. Mardin M. Nur, MA, Dosen Luar Biasa dan Mahasiswa S3 Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Oleh Drs. Mardin M. Nur, MA, Dosen Luar Biasa dan Mahasiswa S3 Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Petaka tragis, miris dan menyayat hati terjadi di Aceh Singkil pada Ahad (14/7). Dedi Kasih (19), warga Desa Sebatang, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit Medan setelah kepalanya tertembak saat menonton kibor di sebuah pesta pernikahan di Desa Siderejo, lewat tengah malam. Korban tertembak pada bagian dahi yang diduga dilakukan oknum anggota Polres Aceh Singkil, yang berupaya menenangkan keributan antarpenonton yang lagi mabuk dan terinjak-injak.(Serambi Indonesia 15 dan 17/7). Memperihatinkan sekali memang.

Kibor di Aceh
Kibor, bahasa Inggris keyboard adalah alat musik yang memiliki ragam suara yakni trompet, suling, gitar, biola, piano, derap drum sampai perkusi. Kibor elektronik dipasarkan pertama kali oleh Laurens Hammond di Amerika Serikat, tahun 1935. Tahun 1980, era digital kibor dimulai. Kibor digital pertama adalah Yamaha DX-7, keluar 1983 dirancang olehg John Chowning dari Stanford University di Palo Alto, California. Bermain kibor layaknya bermain sebuah band.

Di Aceh, kibor mulai masuk dan dimainkan pada 1984. Ada yang memainkankan musik kibor pada pagi hari, siang, sore dan malam hari. Tidak dapat disangkal, permainan kibor diringi joget-jogetan, mabuk-mabukan, mesum-mesuman, dan sejumlah maksiat lainnya. Karenanya, ada yang mengharamkan dan ada pula yang membolehkannya.

Ironisnya, sampai hari ini setelah 35 tahun berjalan belum ada ketegasan pemerintah Aceh, membolehkan atau melarangnya. Bahkan juga setelah keluarnya Fatwa MPU Aceh Nomor 12 Tahun 2013 tentang Seni Budaya dan Hiburan di Aceh, 5 tahun silam. Hanya Kota Langsa yang dengan tegas melarangnya sesuai qanun nomor 6 tahun 2006.

Konsep Islam
Alquran tidak menyebut secara qat’i (mutlak) tentang pengharaman seni musik. Di kalangan mufassirin seperti Al-Qurtubi menegaskan di antara ayat-ayat yang berhubungan dengan seni musik adalah Qs. al-Isra’ (17): 64, al-Qasas (28): 55 dan Qs. Luqman (31): 6. Esensinya adalah memperdaya dengan suara yang memukau, mendengar perkataan buruk dan membeli perkataan sia-sia. Karenanya, para ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan dengan substansi tertentu dan ada pula yang dengan tegas mengharamkannya.

Menurut Al-Gazali, haram tidaknya musik tergantung pada faktor penyanyinya, alat yang digunakan, pendengarnya, isi syairnya, dan keawaman nyanyian. Menurutnya, nyanyian yang membangkitkan nafsu dan sejenisnya diharamkan. Nyanyian yang bermuatan dakwah, dibolehkan. Ibnul Qayyim amat menentang musik dengan segala jenisnya. Hukum dasar musik menurutnya haram keculi nazar, nyanyian anak kecil atau nyanyian di tempat pernikahan yang tidak mengumbar syahwat. Menurutnya, musik memabukkan jiwa, melalaikan dan menghalangi zikir kepada Allah.

Sedangkan Al-Qardawi, nyanyian adalah ekspresi jiwa dan tidak semuanya sia-sia. Hukumnya sesuai niat penyanyinya. Niat dapat mengubah hiburan, menjadi taqarrub kepada Allah. Menurut Syekh Mahmud Saltut, mendengar suara yang indah selama tidak melalaikan kewajiban agama dan tidak menurunkan akhlak mulia adalah tidak dilarang.

Imam mazhab sedikit berbeda pendapat tentang musik. Mazhab Hanafi melarang nyanyian dan mendengarnya adalah berdosa. Mazhab Maliki, mendengarkan nyayian tanpa alat dan syair yang digunakan tidak mengumbar syahwat dan sejenisnya, hukumnya makruh. Nyanyian yang diiringi alat musik, gambar, nafsu dan syahwat hukumnya haram. Menurut Anas bin Malik, nyanyian hanya dilakukan oleh orang-orang yang fasiq.

Menurut Mazhab Syafi’i, mendengarkan musik yang tidak disertai alat seperti gambus, rebab, biola, serunai dan syairnya tidak mengobral nafsu syahwat atau sejenisnya yang dilarang, hukumnya makruh. Jika syair yang digunakan mengumbar syahwat, percintaan dan sejenisnya hukumnya haram.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved