Jurnalisme Warga

Pesta Muloh Panggang di Darul Aman

KESIBUKAN masyarakat Gampong Darul Aman, Kemukiman Simpang Tanjung, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen

Pesta Muloh Panggang di Darul Aman
IST
TEUKU MUTTAQIN MANSUR, Dosen Pembimbing Lapangan KKN Universitas Syiah Kuala Periode Ke-17 di Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Darul Aman, Bireuen

OLEH TEUKU MUTTAQIN MANSUR, Dosen Pembimbing Lapangan KKN Universitas Syiah Kuala Periode Ke-17 di Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Darul Aman, Bireuen

KESIBUKAN masyarakat Gampong Darul Aman, Kemukiman Simpang Tanjung, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen kala pesta perkawinan salah seorang warga mereka dilaksanakan Sabtu lalu sangatlah terasa. Orang tua mempelai pria dengan baju hitam dan kopiah nasional menyapa setiap tamu yang datang dan pamit pulang seusai menyantap menu khas meuloh panggang (ikan bandeng bakar) yang disediakan.

Saya bersama tiga orang teman yang sedang melaksanakan tugas monitoring dan evaluasi terhadap mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) periode ke-17 di Bireuen mendapat undangan dadakan. Agus Mulyadi, Ketua Kelompok KKN Gampong Darul Aman mengirimkan pesan melalui WhatsApp (WA), “Pak, langsung ke pesta Pak ya, makan siang di sini. Bapak diundang oleh Pak Keuchik dan Ketua Pemuda Gampong Darul Aman.”

Mendapat pesan itu, saya masih sedikit ragu, kemudian menegaskan kembali kebenaran undangan pesta melalui balasan WA juga. Walaupun, sejujurnya perut mulai terasa lapar karena kami tiba di lokasi pas menjelang waktu siang, apalagi setelah menempuh perjalanan lebih kurang enam jam dari Banda Aceh.

Tiba di lokasi pesta, adik-adik mahasiswa KKN telah menunggu, lengkap dengan jaket almamater dan topi KKN yang juga berlogo Unsyiah.

Setelah turun dari mobil, bersalaman dengan mereka, saya bersama teman-teman diarahkan menuju lokasi pesta. “Pak Keuchik dan Ketua Pemuda sedang menunggu Bapak di sana,” kata Karina, sekretaris kelompok yang ikut menjemput kami.

Memang, pada setiap periode KKN, sering kali mahasiswa selain melaksanakan tugas pokok yang sudah teragenda dalam program kerja (progja), mereka juga berbaur bersama masyarakat pada acara keramaian seperti pesta perkawinan, khitanan, atau kenduri maulid.

Ini salah satu cara mereka bersosialisasi dan belajar hidup bermasyarakat. Tak kalah penting adalah “perbaikan gizi” saat jauh dari orang tua. Hehehe.

Malah, ketika saya membimbing mahasiswa KKN dua tahun lalu di Pidie yang bertepatan pada musim maulid nabi, hampir setiap hari mahasiswa mendapat undangan “makan besar” ala kenduri maulid dari warga. Ada yang berseloroh ketika itu,”Kami tambah kilo (berat badan) sampai di lokasi KKN, Pak.”

Setelah bersalaman dengan tuan rumah, Pak Mukhlis, Ketua Pemuda Gampong Darul Aman langsung mengarahkan kami ke meja ala Prancis (prasmanan) yang tersedia. Mata saya melirik ke sana kemari mencari menu kuah beulangong yang memang biasanya tersedia sebagai menu khas setiap pesta di Aceh. Namun, saya tidak menemukan menu tersebut ketika itu.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved