Jurnalisme Warga

Aceh Tenggara Punya Kampung Pelajar

Di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) terdapat sebuah kampung pelajar yang dinamakan Babussalam

Aceh Tenggara Punya Kampung Pelajar
IST
DRS. YOES RIZAL SELIAN, warga biasa, tinggal di pinggiran Kutacane dan anggota Deklarator Pendirian Perguruan Tinggi Gunung Leuser, Aceh Tenggara tahun 1993, melaporkan dari Kutacane

OLEH DRS. YOES RIZAL SELIAN, warga biasa, tinggal di pinggiran Kutacane dan anggota Deklarator Pendirian Perguruan Tinggi Gunung Leuser, Aceh Tenggara tahun 1993, melaporkan dari Kutacane

Di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) terdapat sebuah kampung pelajar yang dinamakan Babussalam. Di kampung pelajar ini tersedia sarana pendidikan dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Letaknya strategis, di pinggir jalan raya (kiri dan kanan), tak jauh dari titik kalau kita akan memasuki Kutacane, ibu kota Aceh Tenggara.

Di Kampung Pelajar Babussalam ini setiap hari pada jam-jam masuk dan ke luar sekolah berjubel ribuan siswa dari tingkat SD, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan para guru/dosen/karyawan.

Di kawasan ini juga terdapat sarana olahraga, yakni Stadion Pemuda yang cukup megah, sirkuit atletik, lapangan bola kaki, tenis, dan lapangan basket, serta gedung pelatihan guru dan beberapa sarana ibadah.

Latar belakang sejarah
Terbentuknya kompleks “Kampung Pelajar Babussalam” pada akhir tahun ‘50-an bermula dari gagasan Ali Hasjmy yang saat itu menjadi Gubernur Aceh. Di Banda Aceh ia gagas pembangunan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam sebagai bagian dari solusi penyelesaian konflik Aceh akibat pemberontakan DI/TII.

Pembentukan Kopelma Darussalam yang terletak di pinggiran Kota Banda Aceh itu mendapat tanggapan positif di daerah-daerah di Aceh. Hal ini karena mutu pendidikan di Aceh yang saat itu sangat memprihatinkan, jauh tertinggal dari provinsi lainnya di Indonesia sebagai akibat lamanya Aceh terlibat perang dengan para penjajah yang ingin menguasai Aceh, yakni Portugis, Jepang, dan Belanda.

Terus-menerus berperang dengan pihak kolonial menyebabkan dunia pendidikan Aceh terpuruk. Pemikiran Ali Hasjmy yang juga ulama, pujangga, dan penulis andal itu mendapat respons di Aceh Tenggara.

Kemudian para tokoh masyarakat, pimpinan sipil dan militer di Kutacane melakukan musyawarah (rapat) untuk membahas dan menindaklanjuti gagasan dari Gubernur Ali Hasjmy. Hasil dari musyawarah yang dipimpin Mayor Achmad Amins itu akhirnya disepakati bahwa di Aceh Tenggara juga layak dibentuk kompleks pendidikan yang dinamakan “Kampung Pelajar Babussalam” karena terletak di Kecamatan Babussalam, tepatnya di pinggiran Kutacane.

Mayor Achmad Amins kemudian--setelah berpangkat Kolonel--menjadi Kepala Staf Kodam Iskandar Muda di Banda Aceh dan selanjutnya menjadi Ketua DPRD Provinsi Aceh.

Setelah dilakukan pembebasan lahan maka kemudian di Kampung Pelajar Babussalam didirikan satu unit gedung SMP negeri dan satu unit SMA negeri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved