Salam

Pengeboran Secara Illegal Harusnya Bisa Ditertibkan

Tim teknis dari PT Medco berjanji menutup lubang semburan gas di Dusun Cinta Damai, Gampong Seuneubok Lapang, Kecamatan

Pengeboran Secara Illegal Harusnya Bisa Ditertibkan
FOR SERAMBINEWS.COM
Sumur tua eks (Asamera) yang menyemburkan gas disertai air di Dusun Cinta Damai, Gampong Seuneubok Lapang, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur, Rabu (31/7/2019) 

Tim teknis dari PT Medco berjanji menutup lubang semburan gas di Dusun Cinta Damai, Gampong Seuneubok Lapang, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur. Gas itu menyembur setelah warga secara manual mengebor sumur minyak tua peninggalan PT Asamera tahun 1970-an sampai 1980-an.

"Menurut tim teknis Medco, gas yang menyembur tidak berbahaya atau belum menimbulkan api,  namun, sewaktu-waktu kadar gas bisa berubah serta menimbulkan bahaya,” kata polisi yang sudah mengamankan lokasi itu agar tak didekati warga.

Camat Peureulak Timur, Mukhtaruddin Yusuf mengaku sudah mengimbau warga agar tak mendekati sumur tersebut. Hasil pantauan di lapangan, kata Mukhtaruddin, gas disertai lumpur menyembur setinggi 5 meter, dengan lebar semburan sekitar 20 meter. Semburan pertama kali terjadi pada Selasa (30/7) sekitar pukul 10.00 WIB. Semburannya disertai suara gemuruh. Dan, gas yang menyembur itu berbau hingga radius ratusan meter tercium. Lokasi sumur yang menyemburkan gas ini berjarak sekitar 1 kilometer dari perumahan warga dan dengan jalan lintasan sekitar 30 meter.

Pada 25 April 2018, satu sumur minyak illegal di Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, meledak dan menewaskan 20-an orang serta melukai puluhan warga lainnya. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh, T Ahmad Dadek mengatakan lima rumah hangus terbakar serta banyak tanaman warga yang ikut mati terbakar atau kepanasan. Puluhan KK warga juga harus mengungsi.

Mabes Polri mengungkapkan sumur minyak yang meledak dan terbakar itu tidak memiliki izin alias illegal. Namun, polisi maupun pemerintah daerah kesusahan menertibkannya karena pengeboran ilegal itu menjadi sumber kehidupan warga.

“Keberadaan sumur ilegal ini memang dilematis. Kalau dilarang pasti pemerintah dibilang terlalu keras, tetapi kalau tetap digali oleh masyarakat, tentu membahayakan seperti peristiwa ini. Padahal dalam pengeboran minyak, keselamatan nomor satu, tidak boleh ada gesekan sama sekali,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, waktu itu.

Pihak Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan sumur minyak dan gas liar sang berpotensi potensi meledak. Namun, pejabat SKK Migas mengaku aktivitas pengeboran minyak dam gas secara manual dan liar ini sangat merepotkan pemerintah. Tindakan represif dengan penegakan hukum, dinilai tidak akan efektif  menekan pengeboran minyak liar. “Aktivitas ini menyangkut dengan kebutuhan perut masyarakat.”

Pengeboran minyak oleh masyarakat sebenarnya sah‑sah saja karena sudah diatur Peraturan Menteri ESDM No.1/2008 tentang Pedoman Pengusahaan Minyak Bumi pada Sumur Tua. Sumur tua adalah bekas pengeboran minyak dan gas yang tak lagi dieksploitasi lantasan biaya operasionalnya jauh lebih besar ketimbang hasil yang didapat.

Pengeboran sumur tua harus dilakukan oleh koperasi atau badan usaha milik daerah dan mendapat izin dari pemerintah. Pengeboran tak boleh dilakukan secara perseorangan karena dilarang Undang‑Undang No.22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Namun, dalam beberapa kasus, praktik pengeboran sumur tua tak berdasarkan izin dan dilakukan secara serampangan.

Melihat duduk masalahnya seperti itu, kita berharap pemerintah melakukan penertiban searif  mungkin. Pertama, penertiban itu untuk mencegah warga dari bencana ledakan akibat pengeboran minyak dan gas. Kedua, penertiban ini jangan dimaknai sebagai penghentian total kegiatan pengeboran minyak oleh masyarakat yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Akan tetapi, pemerintah hendaknya mendata warga yang terlibat pengeboran minyak secara tradisional. Lalu, pemerintah perlu memberi pengetahuan teknis kepada mereka agar tercegah dari bahaya dirinya dan orang lain. Yang juga wajib dilakukan adalah pemetaan, wilayah mana yang boleh dibor dan wilayah mana yang sangat dilarang. Ini harus disosialisasikan dan masyarakat hendaknya mematuhi demi terhindar dari ancaman maut!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved