Kamis, 16 April 2026

Produksi Kopi Arabika Gayo Masuki Masa Jeda, Ini Penyebabnya

Kopi arabika yang merupakan komoditi unggulan dari Dataran Tinggi Gayo (DTG) memasuki masa jeda produksi. Pada Agustus tahun ini, hampir sebagian....

Penulis: Mahyadi | Editor: Jalimin
SERAMBINEWS.COM/MAHYADI
Foto seorang petani kopi warga Kampung Blanggele, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah sedang memetik kopi, beberapa waktu lalu. 

Produksi Kopi Arabika Gayo Masuki Masa Jeda

Laporan Mahyadi | Aceh Tengah

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON – Kopi arabika yang merupakan komoditi unggulan dari Dataran Tinggi Gayo (DTG) memasuki masa jeda produksi.

Pada Agustus tahun ini, hampir sebagian besar areal perkebunan kopi di Aceh Tengah maupun Bener Meriah, telah berhenti panen karena memang buah kopi telah habis.

Setiap tahunnya, puncak panen kopi tahap pertama, dimulai dari bulan Maret hingga Mei. Untuk panen kopi tahap kedua, berada di awal Oktober hingga akhir Desember.

Warga Yang Meninggal Dalam Laka Tunggal di Aceh Barat, Ternyata Imum Mukim Kuala Baru Aceh Singkil

Belum Pernah Lihat Telur Bertangkai? Ternyata Ada di Aceh Selatan, Ini Penampakannya

Link Live Streaming Perempat Final Thailand Open 2019 - Menanti Aksi ‘Balas Dendam’ Marcus/Kevin

Sedangkan untuk masa jeda produksi, terjadi di bulan Januari hingga pertengahan Maret. Begitu juga di bulan Juni hingga penghujung September, buah kopi masih dalam keadaan hijau belum bisa dipetik.

Seorang pelaku usaha kopi arabika Gayo, Armiyadi kepada Serambinews.com, Jumat (2/8/2019) menyebutkan, ada dua kali masa panen kopi dalam setahun.

Sedangkan kondisi saat ini, hampir tidak ada yang bisa dipetik karena sebagian masih dalam proses pembesaran buah.

“Kalau melihat buah kopi muda yang ada saat ini, diperkirakan akhir September nanti sudah ada yang bisa dipetik, walaupun jumlahnya belum terlalu banyak,” kata Armiyadi.

Masyarakat Birem Bayeun Aceh Timur Dilatih Membuat Pupuk Cair dari Air Seni Sapi, Ini Caranya

Bantu Korban Kebakaran, Pemkab Aceh Singkil Salurkan Bantuan Masa Panik ke Bulusema

Setelah Darmili Ditahan, Giliran Mantan Dirut PDKS Diperiksa Penyidik Kejati Aceh

Disebutkan, masa panen maupun saat jeda produksi, sudah menjadi siklus setiap tahun. Bahkan jadwal masa panen hampir serupa setiap tahun yaitu pada bulan Maret hingga Mei dan bulan Oktober hingga Desember.

“Kalau pun ada pergeseran, hanya sekitar 15 hari atau paling lama satu bulan. Salah satunya, faktor cuaca yang terkadang bisa mempercepat bahkan memperlambat masuk masa panen,” jelasnya.

Disisi lain, sebut Armiyadi, setiap memasuki bulan Agustus dan September ada beberapa eksportir yang tidak melakukan pengiriman barang, bahkan sebagian tidak membeli kopi dari petani.

“Bagi yang terikat kontrak pengiriman, sudah lebih dulu menstok kopi arabika untuk memenuhi permintaan di saat jeda produksi. Kalaupun saat ini, masih ada satu satu buah kopi, kualitasnya agak kurang bagus,” tuturnya.

Pada saat musim kopi memasuki masa jeda, para petani tetap melakukan aktifitas seperti membersihkan serta membenahi ladang mereka.

Sebagian bercocok tanaman muda sembari menunggu buah kopi merah kembali. Bahkan sebagian diantaranya untuk memenuhi kebutuhan, ada yang beralih profesi sementara menjadi buruh atau kuli bangunan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved