Produksi Kopi Arabika Gayo Masuki Masa Jeda, Ini Penyebabnya
Kopi arabika yang merupakan komoditi unggulan dari Dataran Tinggi Gayo (DTG) memasuki masa jeda produksi. Pada Agustus tahun ini, hampir sebagian....
Penulis: Mahyadi | Editor: Jalimin
Produksi Kopi Arabika Gayo Masuki Masa Jeda
Laporan Mahyadi | Aceh Tengah
SERAMBINEWS.COM, TAKENGON – Kopi arabika yang merupakan komoditi unggulan dari Dataran Tinggi Gayo (DTG) memasuki masa jeda produksi.
Pada Agustus tahun ini, hampir sebagian besar areal perkebunan kopi di Aceh Tengah maupun Bener Meriah, telah berhenti panen karena memang buah kopi telah habis.
Setiap tahunnya, puncak panen kopi tahap pertama, dimulai dari bulan Maret hingga Mei. Untuk panen kopi tahap kedua, berada di awal Oktober hingga akhir Desember.
Warga Yang Meninggal Dalam Laka Tunggal di Aceh Barat, Ternyata Imum Mukim Kuala Baru Aceh Singkil
Belum Pernah Lihat Telur Bertangkai? Ternyata Ada di Aceh Selatan, Ini Penampakannya
Link Live Streaming Perempat Final Thailand Open 2019 - Menanti Aksi ‘Balas Dendam’ Marcus/Kevin
Sedangkan untuk masa jeda produksi, terjadi di bulan Januari hingga pertengahan Maret. Begitu juga di bulan Juni hingga penghujung September, buah kopi masih dalam keadaan hijau belum bisa dipetik.
Seorang pelaku usaha kopi arabika Gayo, Armiyadi kepada Serambinews.com, Jumat (2/8/2019) menyebutkan, ada dua kali masa panen kopi dalam setahun.
Sedangkan kondisi saat ini, hampir tidak ada yang bisa dipetik karena sebagian masih dalam proses pembesaran buah.
“Kalau melihat buah kopi muda yang ada saat ini, diperkirakan akhir September nanti sudah ada yang bisa dipetik, walaupun jumlahnya belum terlalu banyak,” kata Armiyadi.
Masyarakat Birem Bayeun Aceh Timur Dilatih Membuat Pupuk Cair dari Air Seni Sapi, Ini Caranya
Bantu Korban Kebakaran, Pemkab Aceh Singkil Salurkan Bantuan Masa Panik ke Bulusema
Setelah Darmili Ditahan, Giliran Mantan Dirut PDKS Diperiksa Penyidik Kejati Aceh
Disebutkan, masa panen maupun saat jeda produksi, sudah menjadi siklus setiap tahun. Bahkan jadwal masa panen hampir serupa setiap tahun yaitu pada bulan Maret hingga Mei dan bulan Oktober hingga Desember.
“Kalau pun ada pergeseran, hanya sekitar 15 hari atau paling lama satu bulan. Salah satunya, faktor cuaca yang terkadang bisa mempercepat bahkan memperlambat masuk masa panen,” jelasnya.
Disisi lain, sebut Armiyadi, setiap memasuki bulan Agustus dan September ada beberapa eksportir yang tidak melakukan pengiriman barang, bahkan sebagian tidak membeli kopi dari petani.
“Bagi yang terikat kontrak pengiriman, sudah lebih dulu menstok kopi arabika untuk memenuhi permintaan di saat jeda produksi. Kalaupun saat ini, masih ada satu satu buah kopi, kualitasnya agak kurang bagus,” tuturnya.
Pada saat musim kopi memasuki masa jeda, para petani tetap melakukan aktifitas seperti membersihkan serta membenahi ladang mereka.
Sebagian bercocok tanaman muda sembari menunggu buah kopi merah kembali. Bahkan sebagian diantaranya untuk memenuhi kebutuhan, ada yang beralih profesi sementara menjadi buruh atau kuli bangunan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kopi-arabika-gayo.jpg)