Opini

ASI; Ayah Milenial

Sekarang ini kita hidup di zaman yang disebut era milenial. Apa sebenarnya pengertian milenial

ASI; Ayah Milenial
IST
dr. Aslinar, SpA, M.Biomed, Ketua Aceh Peduli ASI, Sekretaris IDAI Aceh

Oleh dr. Aslinar, SpA, M.Biomed, Ketua Aceh Peduli ASI, Sekretaris IDAI Aceh

 Sekarang ini kita hidup di zaman yang disebut era milenial. Apa sebenarnya pengertian milenial? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), milenial adalah berkaitan dengan generasi yang lahir di antara tahun 1980-an dan 2000-an. Kehidupan generasi yang tidak dapat dipisahkan atau dilepaskan dari teknologi informasi, terutama internet. Nah, bagaimana halnya dengan proses pemberian ASI atau menyusui di era millennial ini?

Saat ini informasi seputar Air Susu Ibu (ASI) dan menyusui banyak bertebaran di internet termasuk di media sosial. Berbagai informasi dengan mudah bisa diakses. Tinggal kita pilah pilih saja mana yang benar dan tentu saja harus sesuai dengan pendapat para ahli di bidang ini. Di era milennial ini, kesadaran akan pentingnya menyusui dan ASI sebagai makanan terbaik bagi seorang bayi makin meningkat.

Hal tersebut terlihat dari mulai bermunculan berbagai organisasi ataupun lembaga atau komunitas yang bergerak di dunia per-ASI-an. Antusiasme juga ditampakkan dari keikutsertaan para ibu hamil dan menyusui untuk hadir di setiap kegiatan tersebut baik berupa kelas edukasi menyusui, maupun seminar seputar ASI dan menyusui.

Selain antusiasme mencari ilmu, saat ini bukan hal yang aneh melihat para ibu muda membawa tas kecil untuk keperluan memompa ASI saat bekerja. Sudah banyak tersedia berbagai jenis pompa ASI dengan berbagai ragam model serta harganya. Ibu bisa tetap memerah ASI walaupun sedang berada di perkantoran ataupun saat sedang bepergian dan berjauhan dengan bayinya, walaupun menyusui langsung (direct breastfeeding) jauh lebih disarankan dan karenanya menjadi bagian utama dari hirarki pemberian makanan dan minuman pada bayi.

Ruang laktasi juga mulai terlihat di beberapa tempat baik itu di bandara, rumah sakit, dan sebagian kecil di kegiatan seminar (biasanya yang berhubungan dengan ASI). Dalam Undang Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 3 disebutkan bahwa penyediaan fasilitas khusus menyusui diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. 

Selanjutnya Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, pada pasal 30, 31, 32 disebutkan tentang tempat kerja dan sarana umum harus mendukung program pemberian ASI dengan menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan memerah ASI. Tempat sarana umum yang dimaksud adalah fasilitas pelayanan kesehatan, hotel, tempat rekreasi, terminal, stasiun, bandara udara, pelabuhan, tempat perbelanjaan, gedung olahraga, dan termasuk juga lokasi pengungsian.

Pengaturan tentang ruang laktasi tersebut juga dicantumkan dalam Peraturan Gubernur Aceh No. 49 tahun 2016 yang disahkan tahun lalu, Agustus 2016. Jadi wacana tentang penyediaan ruang laktasi bukanlah hal yang baru. Akan tetapi pelaksanaannya yang masih belum memadai, khususnya di Aceh.

Menurut pengamatan penulis, ada beberapa kantor yang sudah menyediakan ruang laktasi, akan tetapi letak ruangan yang tidak sesuai standar juga fasilitas yang terdapat di dalamnya sama sekali tidak memenuhi syarat. Malah terkesan seperti `gudang kebersihan" yang berarti dijadikan ruang penyimpanan sapu, kain pel, dan sebagainya.

Juga terdapat ruang laktasi di instansi publik pelayan masyarakat akan tetapi ruangannya dalam keadaan selalu terkunci. Dan sebagian besar kantor malah tidak memilikinya sama sekali. Apalah lagi di berbagai tempat umum seperti terminal, pusat perbelanjaan, tempat wisata, hotel, gedung kegiatan. Sangat berharap semoga ke depan Pemerintah Aceh bisa memfokuskan membenahi permasalahan ini.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved