Salam

Mahasiswa Potensial Perangi Sampah

Berita ini berkisah tentang belasan mahasiswa yang sibuk memilah sampah di teras Kantor Urusan Internasional (Office International Affair)

Mahasiswa Potensial Perangi Sampah
Serambi/Herianto
Plt Kadis Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh, Ir Jalaluddin MT memberikan pengarahan kepada Kepala UPTD Balai Penanganan Sampah Regeonal TPA Blang Bintang, Ir Mardiana di lokasi TPA Blang Bintang, Aceh Besar, Rabu (30/7). 

Sebuah berita kecil tapi menarik tersaji di Rubrik Mihrab Harian Serambi Indonesia kemarin. Judulnya, Relawan Green Campus Kerja  Ekstra di Lokasi MTQMN.

Berita ini berkisah tentang belasan mahasiswa yang sibuk memilah sampah di teras Kantor Urusan Internasional (Office International Affair) Universitas Syiah Kuala (OIA Unsyiah). Kegiatan itu rutin mereka lakukan setiap hari. Beberapa menit kemudian, suara deru becak memecah kesibukan mereka. Seorang lelaki menurunkan setumpuk sampah dan meletakkannya di teras. Dua mahasiswi mengambil dan segera memilah sampah tersebut. Gambaran itu menjadi rutinitas harian mahasiswa yang tergabung dalam relawan Bank Sampah Unsyiah (BSU). Mereka bukan hanya mahasiswa Unsyiah, tapi juga ada yang berasal dari UIN Ar-Raniry.

Menurut Rama Herawati, Ketua BSU, sejak berdiri Januari 2019, sudah sekitar 65 relawan green campus yang bergabung di bank sampah ini dan mereka bukan hanya berasal dari Unsyiah. “Demi kebersihan lingkungan, kita sepakat untuk tidak mengotak-ngotakkan kampus, sebab ini adalah tanggung jawab bersama,” ujar Rama Herawati.

Menurutnya, setiap hari para relawan bekerja mengumpulkan sampah di lingkungan Unsyiah. Pekerjaan ini menjadi lebih padat dan penuh tantangan ketika berlangsung MTQ Mahasiswa tingkat nasional di kampus negeri tertua di Aceh itu sejak 28 Juli-4 Agustus 2019.

Dalam praktiknya, sampah-sampah yang dikumpulkan kemudian dipilah berdasarkan jenisnya, yakni sampah organik, sampah plastik, dan sampah residu. Di sudut halaman, terdapat dua mesin pencacah plastik dan daun. Mesin ini dianggap kurang karena belum mampu mencacah sampah yang menumpuk.

Di ajang MTQMN tahun ini, para relawan bekerja lebih ekstra. Ini karena, jumlah massa yang berkumpul di Unsyiah begitu ramai, hampir mencapai 3.000 orang. Jumlah massa pun tersebar di banyak lokasi dan asrama. Untuk mengantisipasi membeludaknya sampah di Unsyiah, para relawan sudah bekerja jauh sebelum pelaksanaan MTQMN. Bahkan, Rama mengedukasi langsung liason officer (LO) untuk dapat mendampingi kafilah dalam pemilahan sampah.

Rama yang setiap hari bergelut di Bank Sampah Unsyiah mengaku menerima banyak kunjungan dari berbagai instansi. Mereka ingin melihat lebih dekat cara pengelolaan sampah dan sistem yang dijalankan BSU. Banyak dari mereka yang terinspirasi dan termotivasi untuk melakukan langkah serupa.

Sungguh menakjubkan kiprah para relawan sampah tersebut. Patut kita apresiasi dan acungi jempol ketika sekelompok mahasiswa memiliki prakarsa terpuji seperti ini. Mereka termasuk generasi muda yang galau melihat lingkungan sekitar yang hari ke hari bukannya tambah bersih. Oleh karenanya, prakarsa seperti ini sangat pantas didukung, sehingga Unsyiah benar-benar bersih dari sampah. Dengan demikian, cita-cita menjadi university world class bisa lebih cepat terwujud, karena didukung oleh lingkungan yang bersih dan asri.

Bukan hanya di Unsyiah, tapi di kampus-kampus lainnya pun, baik negeri dan swasta di Aceh perlu ditumbuhkan komunitas relawan green campus ini, sehingga ke kampus mana pun di Aceh kita berkunjung yang kita temui adalah kampus yang bersih alias bebas sampah, asri, dan sehat. Kampus harus menjadi inspirasi untuk gerakan bersih-bersih ini. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved