Info Haji 2019

Syisyah, Mukim Dua Musim

Syisyah, kurang lebih 3,5 hingga 7 km dari Masjidil Haram, salah satu kawasan luar Kota Mekkah, merupakan daerah yang baru tumbuh

Syisyah, Mukim Dua Musim
IST
Laporan MOHD DIN, WARTAWAN Serambi Indonesia

Syisyah, kurang lebih 3,5 hingga 7 km dari Masjidil Haram, salah satu kawasan luar Kota Mekkah, merupakan daerah yang baru tumbuh. Sepuluh tahun yang lalu, wilayah ini hanyalah perkampungan baduyin, orang Badui Arab yang hidupnya cenderung nomaden, pindah-pindah.

Topografi wilayahnya berbukit-bukit gersang. Seperti juga dengan wilayah Arab Saudi lainnya, Syisyah adalah kawasan tandus dengan dikelilingi bukit batu cadas.

Sedikit sekali terlihat tanaman di kawasan ini. Maka, ketika musim panas tiba seperti saat ini, bagi orang dari Asia Tenggara, Syisyah bukan tempat yang nyaman. Orang Arab Saudi pun tidak memilih Syisyah sebagai tempat tinggal, kecuali suku baduyin. Tidak jauh dari Syisyah, hanya ratusan meter, terdapat Mina, tempat para jamaah calon haji melempar jumrah.

Jika berdiri di bukit atau dari lantai 6 hotel di Syisyah, kita dapat melihat kota Mekkah dan Masjidil Haram. Malam adalah waktu yang indah melihat Kota Mekkah dari Syisyah, penuh dengan cahaya terang berwarna-warni.

Sekarang, kawasan Syisyah penuh dengan bangunan baru, terdiri dari rumah-rumah penginapan standar hotel. Banyak juga apartemen baru yang dihuni para pendatang, khususnya Asia Tenggara, yang bekerja di Mekkah dan Jeddah.

Menjelang dan musim haji, Syisyah dipenuhi dengan jamaah haji. Paling banyak berasal dari Indonesia. Setelah musim haji, jumlah kunjungan paling banyak di musim umrah Ramadhan.

Selama bulan Ramadhan, Masjidil Haram banyak dikunjungi jamaah umrah dari berbagai negara. Sehingga, penginapan dan hotel-hotel yang ada di Mekkah, tidak mencukupi, khususnya bagi jamaah umrah yang kemampuan keuangannya terbatas.

Jadilah Syisyah sebagai wilayah dua musim, yaitu musim haji dan umrah di bulan Ramadhan. Di luar musim tersebut, Syisyah sangat sepi. Seperti kota yang ditinggalkan penghuninya.

Menurut informasi dari sejumlah pemukim yang memilih tinggal di Syisyah, pemerintah Arab Saudi, khususnya Provinsi Mekkah, sengaja mengarahkan pengembangan wilayah ini sebagai kawasan penyangga Mekkah, ketika tanah haram tersebut mengalami perluasan karena makin tingginya pengunjung tempat suci itu.

Oleh sebab itu, bangunan yang diizinkan hanya hotel dan penginapan. Sedangkan restoran dan pertokoan sangat terbatas ketersediaannya. Ini juga salah satu strategi dari pemerintah agar pengusaha hotel dan penginapan bukan hanya dapat dari biaya sewa tapi juga penyediaan makanan.

Tarif hotel di Syisyah dengan Mekkah jauh berbeda. Di Syisyah lebih murah dibandingkan di Kota Mekkah. Hanya saja kendaraan atau alat transportasi terbatas menuju Masjidil Haram. Kecuali umrah melalui biro perjalanan, alat transportasi menuju Baitullah ditanggung pihak travel.

Sementara di musim haji, di sana disediakan armada angkutan selama 24 jam. Khusus untuk jamaah calon haji dari Indonesia disediakan bus dengan nama Shalawat.

Bus shalawat mengangkut penumpang dengan pemberhentian delapan halte dari terminal bus dekat Masjidil Haram menuju Syisyah. Busnya cukup nyaman dengan sopir terdiri dari orang Indonesia, Arab dan Afrika.

Hanya saja ketika jamaah calon haji semuanya sudah memasuki kota Mekah, maka antrian jamaah untuk naik dan bus keluar terminal cukup panjang.

Begitulah sepenggal kisah Syisyah, mukim dua musim yang tahun ini menjadi maktabnya jamaah haji asal Aceh.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved