Info Haji 2019

Jamaah Masjidil Haram Menggigil Meski Suhu 40  Derajat Celcius

Mekkah - Suhu di Kota Mekkah, Arab Saudi, saat ini rata-rata di atas 40 Celcius dan bahkan saat puncak haji diperkirakan bisa mencapai 50 Celcius

Jamaah Masjidil Haram Menggigil Meski Suhu 40  Derajat Celcius
ANADOLU IMAGES/Halil Sagirkaya
Seorang pria membawa putranya di pundaknya saat Jamaah Calon Haji (JCH) melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah di Masjid al-Haram, Mekah, Arab Saudi, Jumat (2/4/2019). ANADOLU IMAGES/Halil Sagirkaya 

Mekkah - Suhu di Kota Mekkah, Arab Saudi, saat ini rata-rata di atas 40 Derajat Celcius dan bahkan saat puncak haji diperkirakan bisa mencapai 50 Derajat Celcius. Kendati demikian, sejumlah jamaah calon haji saat berada di dalam Masjidil Haram tak jarang yang merasakan hawa cukup dingin hingga ada di antara mereka yang menggigil. Hal itu tentu merupakan suatu kondisi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh siapapun. Pasalnya, Arab Saudi pada umumnya dan Mekkah pada khususnya secara geografis merupakan salah satu negara dan kota di kawasan gurun yang rata-rata kondisi suhunya relatif tinggi.   

Sejak ratusan tahun lalu tidak ada yang membayangkan jika Masjidil Haram, kompleks yang melingkari Kakbah, memiliki lantai dan ruangan yang sangat dingin. Meski Kota Mekkah berada dalam musim panas hampir sepanjang tahun dengan suhu ekstrem, namun udara di dalam masjid tersebut sangat nyaman.

Konon, dinginnya lantai (baik lantai terbuka dekat Kakbah maupun dalam bangunan masjid) serta semua ruangan di dalamnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, lantai marmer masjid memiliki kualitas terbaik. Kedua, pendingin atau air conditioner (AC) dipancarkan dari dua arah yaitu atas dan bawah ruangan dalam volume atau skala besar. Selain itu di bawah (tanah) lantai masjid, tersedia mesin pendingin yang sangat besar hingga mampu mengeluarkan hawa dingin dalam volume tinggi pula.

Maka, tidak heran meski saat ini suhu di Mekkah pada siang hari cukup panas yaitu rata-rata di atas 40 Derajat Celcius dan bahkan pada saat puncak haji bisa mencapai 50, namun lantai terbuka marmer Masjidil Haram yang berada di dekat Kakbah tidak pernah terasa panas sedikit pun. Kondisi ini tentu saja memudahkan jamaah terutama yang berasal dari negara beriklim tropis, untuk melakukan tawaf dan berbagai ibadah lainnya di temapt tersebut.

Di musim haji seperti tahun ini di mana Kota Mekkah sedang berada dalam musim panas kering, kunjungan jamaah ke Masjidil Haram tetap melebihi kapasitas. Namun, di sudut-sudt tertentu terutama lokasi yang terbuka, terkadang cucanya terasa agak hangat. Tapi, rata-rata suhu dalam ruangan tertutup di Masjidil Haram bisa mencapai 18 DerajatCelcius. Bagi jamaah dari daerah tropis seperti Aceh, bila terpapar dengan suhu sedingin itu dalam waktu yang relatif lama, tentu bisa membuat mereka menggigil.

Suhu udara di dalam Masjidil Haram sangat kontras dengan di luar masjid yang pada siang hari bisa mencapai di atas 40 Derajat Celcius. "Saya hampir tidak tahan kalau lama-lama berada di dalam Masjidil Haram. Dingin sekali, saya terpaksa beberapa kali pindah lokasi shalat. Bila dari luar masuk ke Masjid, perasaan kita langsung nyaman setelah berada di dalamnua. Sebaliknya, jika kita keluar dari masjid, tubuh kita terasa seperti sedang berada di dekat api unggun," kata Yusli Abdullah, Jamaah Calon Haji (JCH) asal Banda Aceh yang masuk dalam Kelompok Terbang (Kloter) 7 Embarkasi Aceh, kemarin.

Di lokasi sai, lanjut Yusli, dirinya juga tidak tahan dengan suhunya yang cukup dingin. “Saya baru tahan jika lokasi tawaf di dalam Masjidil Haram dekat dengan ruang terbuka menghadap Kakbah. Waktu tawaf dekat Kakbah, kaki saya terasa dingin. Saya heran, marmer di ruang terbuka kok bisa dingin. Apa karena kualitas marmernya cukup bagus,” timpal Yusli terheran-heran.

Setelah mengalami beberapa kali pelebaran, luas Masjidil Haram kini mencapai 369 ribu meter persegi atau 36 hektare (4 kali lebih besar dari Lapangan Blangpadang, Banda Aceh) dengan kapasitas 900 ribu jamaah. Namun, pada puncak musim haji Kompleks Masjidil Haram bisa menampung sekitar 4 juta jamaah. Dengan luas yang dimiliki, Masjidil Haram menjadi masjid terbesar di dunia dan dengan infrastruktur yang canggih.

Masjidil Haram, khususnya di lokasi yang mengelilingi Kakbah sudah mengalami perombakan hingga kondisinya seperti sekarang. Bahkan, menurut masterplan pengembangannya, kompleks Masjidil Haram akan terus diperluas hingga suatu saat nanti mampu menampung lima juta jamaah.

Di sekitar Masjidil Haram juga berdiri megah sejumlah hotel mewah berjaringan internasional. Tiap tahun ada saja bangunan di sekitar masjid yang dirombak dan yang dibangun baru. Masjidil Haram bukan hanya semakin luas, tapi juga semakin indah karena arsitektur bangunan di sekitarnya merujuk pada tampilan Masjidil Haram.

Sementara itu, Kakbah--bangunan yang menjadi simbol sentral kiblat shalat umat Islam--juga sudah beberapa kali dibangun ulang. Bangunan dasar yang dibangun pada zaman Nabi Adam ini pernah hancur di masa Nabi Nuh akibat banjir besar. Lalu, dibangun kembali pada masa Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail. Antara periode Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad SAW, Kakbah juga beberapa kali rusak dan dibangun ulang.

Untuk menampung empat juta jamaah seperti pada musim haji kali ini, Pemerintah Arab Saudi harus menyiapkan fasilitas yang superbagus dengan biaya yang tidak kecil. Listrik misalnya, satu detik pun tidak boleh padam. Bisa dibayangkan bila suplai arus terhenti akan terjadi kekacauan dan sangat mengganggu kenyaman jamaah.

Demikian juga dengan toilet. Untuk melayani jamaah yang begitu banyak, bukan saja membutuhkan jumlah toilet dalam jumlah yang cukup banyak pula. Tapi, arus (flow) jamaah yang mau ke toilet harus diatur sedemikian rupa. Sehingga jamaah tidak menumpuk. Tentu saja, untuk mendukung kebersihan Masjidil Haram, suplai air pembersih dan drainase pembuang juga tidak boleh macet sedetik pun.

Meski sistem pengelolaannya yang sudah begitu canggih dan ketat, tapi tetap ada juga sebagian toilet yang tidak bersih. Hal ini disebabkan oleh perilaku jamaah yang membawa budaya di negara mereka masing-masing ke Tanah Suci. Petugas kebersihan dan keamanan sering repot dengan perilaku jamaha seperti itu.

Untuk menunjang kenyaman jamaah di Masjidil Haram, Pemerintah Kota Mekkah juga menyiapkan infrastruktur pendukung yang canggih. Transportasi misalnya. Saat ini Pemerintah Arab Saudi sedang menyiapkan kereta cepat ke berbagai jalur di sekitar Mekkah dan ke kota-kota lain termasuk Madinah.(*)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved