Info Haji 2019

Syisyah Jadi Kampung Aceh  

Siapa sangka pada musim haji 1440 Hijriah atau 2019 Masehi, Syisyah--sebuah kawasan di sudut Kota Mekkah--menjadi layaknya perkampungan Aceh

Syisyah Jadi Kampung Aceh   
SERAMBI/MOHD DIN
Pedagang menjual sarapan pagi di Syisyah, Sabtu (3/8/2019). SERAMBI/MOHD DIN 

Siapa sangka pada musim haji 1440 Hijriah atau 2019 Masehi, Syisyah--sebuah kawasan di sudut Kota Mekkah--menjadi layaknya perkampungan Aceh. Pasalnya, di mana-mana dalam kawasan itu, bahasa Aceh, Aneuk Jamee, Gayo, Alas, dan Melayu Tamiang, menjadi tidak asing lagi. Canda dalam bahasa Aceh dan bahasa sub-etnis lainnya menjadi suara yang tak henti terdengar. Suara bahasa daerah itu riuh menjelang shalat wajib di masjid, di kaki lima, dan tentu di maktab-maktab yang menjadi "kemah haji" jamaah calon haji dari Aceh.

Satu hal yang tidak bisa dihindari adalah berbagai kebiasaan di Aceh juga menjadi kebiasaan di Syisyah. Merokok misalnya. Di depan hotel, banyak "ahli hisab" dari Aceh berdiri sambil mengepulkan asap ke udara. Siang dan sore hari, kepulan asap itu tidak terlalu nampak karena cahaya matahari begitu terang dan terik. Ditambah lagi angin kering berhembus kencang diikuti sedikit debu. Yang tampak adalah batangan pensip di mulut.

Syisyah dengan luas sekitar 5 km persegi adalah daerah penyanggah Kota Mekkah. Berjarak 3,5 hingga 7 kilometer dan bersebelahan dengan Mina, Syisyah baru dikembangkan 10 tahun lalu. Jumlah pemukimnya sangat terbatas dan konon sebelumnya hanya dihuni oleh beberapa suku baduyin, suku nomaden Arab.

Syisyah, seperti juga sebagian besar daerah lain di Arab Saudi, terdiri atas bukit-bukit tandus dan tanah yang bergelombang. Tidak ada tanaman yang tumbuh, kecuali sengaja ditanam dan disiram setiap waktu. Sekarang sudah banyak bangunan seperti hotel, apartemen, dan pertokoan yang berdiri di kaawasan itu. Apartemen banyak ditinggali oleh pekerja asing, sementara hotel lebih banyak terisi pada musim haji seperti sekarang dan umrah. Pertokoan banyak dibuka ketika dua musim.

Menurut jamaah yang sudah lebih dulu tiba ke Syisyah, beberapa hari lalu belum banyak orang berjualan, khususnya makanan. Tapi, pada Minggu (4/8), pedagang kaget sudah cukup banyak memenuhi depan sejumlah masjid dan emperan toko. Saat siang dan magrib, yang paling banyak adalah pedagang pakaian, kurma, roti, dan barang elektronik. Sedangkan pada pagi hari, di samping barang-barang tersebut, di depan masjid juga paling banyak dijual nasi kotak (kotak plastik).

Sarapan pagi yang dijajakan antara lain nasi kuning, nasi putih, bubur kacang hijau, ketela, bihun, kentang rebus, lontong, ikan asin, ikan teri goreng, dan banyak lagi jenis makanan lainnya. Harganya pun sangat terjangkau. Satu kotak dihargai 3 hingga 4 riyal atau Rp 12 ribu hingga Rp 16 ribu. "4 riyal satu kotak," kata Fatimah, perempuan Melayu Pattani yang bermukim di Arab Saudi. Ia sehari-hari berdagang di Kota Mekkah, namun pada musim haji Fatimah pindah ke Syisyah. Ketika Fatimah menurunkan barang dagangannya, terlihat mobil yang dikendarainya cukup mewah.

Informasi lainnya, beberapa jamaah yang sudah lebih dulu tiba di Syisyah mulai mengeluh dengan nasi jatah, sebab rasanya jauh dari lidah orang Aceh. Sejauh ini, janji penyelenggara haji memberikan 3 kali dalam seminggu menu dengan rasa Aceh, belum terealisasi. Untuk kali ini, tempat penginapan relatif baik. Meski ada jamaah dari salah satu daerah ketika tiba di Syisyah harus sabar atau tidak bisa masuk langsung ke kamar karena harus menunggu dibersihkan dan diisi furniturnya dulu.

Syisyah juga menjadi tempat reuni. Ada kerabat dan teman yang sudah lama tidak bertemu, Syisyah menjadi titik perjuampaan kembali. Begitu juga pejabat di Aceh baik dari kabupaten/kota maupun provinsi banyak bersua di sini dan punya waktu untuk bersama yang relatif panjang. Kadang mereka bersama-sama pergi ke Masjidil Haram atau ziarah ke Arafah, Jamal Rahmah, dan ke pasar hewan.

Suasana keacehan begitu kental di Syisyah. Beberapa hal yang tidak ditemukan adalah warung kopi dan nasi gurih. Karena itu, sebagian besar jamaah calon haji Aceh yang tinggal di Syisyah berburu sarapan yang disediakan oleh pendatang dari Madura, Sunda, Pattani, dan Arab Saudi sendiri.

Hal positif dari pengelompokan satu maktab jamaah yang berasal dari satu daerah adalah para jamaah lebih akrab, sikap bantu dan toleransi lebih besar, dan jarang terjadi gesekan antar satu suku dengan suku lain. Akhirnya, jadilah sebagian wilayah Syisyah selama musim haji kali ini sebagai Kampung Aceh.(mohd din)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved