Opini

Kurban Persiapan "Kenderaan Ukhrawi"

Hari Raya Idul Adha yang secara harfiah berarti "kembali berkurban", akan tetapi bila dipahami lebih jauh hidup ini sesungguhnya adalah perjuangan

Kurban Persiapan
IST
Mukhsinuddin, SAg, M.M., Mahasiswa Doktor Ilmu Manajemen Unsyiah, Dosen Ekonomi Syariah STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

Oleh Mukhsinuddin, SAg, M.M., Mahasiswa Doktor Ilmu Manajemen Unsyiah, Dosen Ekonomi Syariah STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

 Hari Raya Idul Adha yang secara harfiah berarti "kembali berkurban", akan tetapi bila dipahami lebih jauh hidup ini sesungguhnya adalah perjuangan dalam sebuah kehidupan. Setiap perjuangan butuh pengorbanan, maka Idul Adha merupakan upaya membangkitkan kembali kesadaran kita semua untuk berjuang menuju pengorbanan demi kehidupan kita yang lebih baik masa datang.

Hari Raya Idul Adha juga sering disebut Idul Kurban dapat diartikan "kembali pada pendekatan" kepada Allah Swt. Artinya secara tidak langsung menegaskan bahwa kedekatan kepada Allah Swt kadangkala  bisa labil, tetapi pada waktu yang lain bisa jauh. Itulah sebabnya Hari Raya Idul Kurban merupakan momentum yang sangat penting bagi proses penyadaran kembali mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui pelaksanaan penyembelihan hewan kurban.

Perintah menyembelih

Perintah kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam menyembelih anaknya Nabi Ismail As adalah perintah yang tidak pernah ditolak dan ragu-ragu atas perintah tersebut. Ini adalah manifestasi keimaman yang tinggi serta patuh pada sang Khaliq kedua insan tersebut.

Rasulullah Saw telah memberikan apresiasi dalam nilai-nilai ibadah kurban di Hari Raya Idul Adha sebagaimana yang beliau contohkan  ketika masih hidup. Perintah berkurban tidak akan mendapatkan  nilai darah dan daging dari hewan yang disembelih, tetapi yang diharapkan adalah keridhaan dari Allah Swt, itulah hakikat penyembelihan kurban. Penyembelihan kurban ini memiliki nilai sosial yang tinggi, dimana daging sembelihan tersebut dibagikan kepada para fuqara dan masakin.

Prosesi penyembelihan hewan kurban disebut dengan ibadah kurban adalah sebagai apresiasi kita terhadap ujian yang telah dihadapi oleh Ibrahim As bersama putranya, Ismail As. Alquran menjelaskan sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Shaffat ayat 99-107 dapat kita petik pemaknaan bahwa ketika Ismail As beranjak remaja, Ibrahim As berkata kepadanya "Wahai putraku, di dalam mimpiku aku melihat bahwa aku mengorbankan (menyembelih) kamu. Bagaimana pendapatmu?"

Di sini kita diberi teladan bahwa seorang ayah hendaknya berkomunikasi dengan anaknya. Nabi Ibrahim AS pun menyampaikan secara lembut dan menunggu tanggapan dari putranya. Hal ini membuka kesempatan untuk terjadinya dialog, juga proses penjajakan kadar kesadaran sang putra dalam berserah diri kepada Allah Swt. Selanjutnya dapat pula kita petik teladan bahwa di usia inilah seorang anak bisa mulai membantu orang tuanya saat anaknya beranjak remaja.

Allah menyuruh Ibrahim mengorbankan putranya di usia prima ini adalah suatu ujian berat bagi Ibrahim. Jawaban Ismail sungguh  mempesona "Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan-Nya kepadamu", betapa seorang remaja belia ini sangat jelas kepahamannya atas mimpi ayahnya. Ismail yang masih belia melanjutkan jawabannya "Insya Allah ayah akan mendapatiku tergolong orang-orang yang sabar".

Kedua hamba Allah ini berjalan kaki menuju ke suatu tempat di Mina. Di perjalanan itu syaitan menggoda mereka dengan mengatakan "yang kamu lihat itu hanyalah mimpi, mengapa hendak kamu sembelih putramu di usia yang kamu dambakan itu?", maka nabi Ibrahim mengusir syaitan dengan cara melemparinya batu-batu kerikil. Syaitan pantang menyerah, dirayu juga Ismail namun kedua mereka lolos dari bujuk rayuan syaitan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved