Salam

Bank Aceh Syariah, Segeralah Berbenah

PT Bank Aceh Syariah (BAS) akan menerapkan aturan tegas terhadap seluruh karyawannya dalam upaya membenahi kultur atau budaya kerja

Bank Aceh Syariah, Segeralah Berbenah
DOK/HUMAS PEMERINTAH ACEH
Direktur Utama PT Bank Aceh Syariah, Haizir Sulaiman memotong kue ulang tahun ke-46 Bank Aceh Syariah untuk diserahkan kepada Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah beserta istri, Dyah Erti Idawati, di Kantor Pusat Bank Aceh Syariah, kawasan Batoh, Banda Aceh, Selasa (6/8). 

PT Bank Aceh Syariah (BAS) akan menerapkan aturan tegas terhadap seluruh karyawannya  dalam upaya membenahi kultur atau budaya kerja di lingkungan bank milik daerah itu. Sikap tegas itu antara lain, pemecatan bagi yang tidak becus bekerja. “Selama ini, budaya kerja para karyawan BAS sangat santai, terkesan semi PNS. Sekarang nggak bisa lagi, harus profesional,” kata Direktur Utama (Dirut) PT BAS, Haizir Sulaiman.

Berbicara dalam rangka peringatan HUT ke-46 Bank Aceh Syariah, Haizir menjelaskan, perubahan budaya kerja ini merupakan fokus utama yang akan dilakukan dan juga merupakan yang paling berat. Sebab, budaya tersebut telah berlangsung sejak lama, ditambah lagi bahwa dia mengenali hampir sebagian besar karyawan BAS. Namun pilihan itu harus diambil demi keberlangsungan bank tersebut.

Dua hal lain yang akan ditransformasi adalah performans bisnis bank dan tampilan bank. “Saya menyebutnya transformasi karena ini perubahannya menyeluruh. Tidak hanya bentuk, tetapi semua aspek, mulai dari sifat, fungsi, dan lain–lain,” terangnya.

Terkait dengan bisnis, dia menyebutkan, ada dua hal yang akan dibenahi yaitu pembiayaan produktif dan teknologi informasi (information technology/IT). Saat ini sistem IT di BAS sedang diupgrade. BAS bahkan harus menggunakan jasa tenaga IT dari luar yang memang benar-benar mumpuni. Ini semua dilakukan untuk mempercepat pembaruan sistem teknologi informasi di Bank Aceh Syariah yang selama ini dianggap sangat ketinggalan.

Orang yang paling serius menyorot sistem IT BAS yang ketinggalan adalah Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Dia bahkan mengultimatum manajemen BAS supaya paling lambat pada Desember 2019, sistem IT baru BAS sudah diterapkan secara mapan sehingga Bank Aceh Syariah bisa bersaing dengan bank konvensional lainnya. "Jangan ada lagi ada keluhan teknologi Bank Aceh yang ketinggalan zaman. Updating dan kehandalan IT kita selambat-lambatnya akhir tahun ini. Kita sudah harus tampil sejajar dengan bank lain,” tegas Nova yang meminta agar manajemen BAS memperbanyak diklat dan workshop IT, sehingga penguasaan teknologi bisa terus meningkat.

Kita tidak menyoal BAS menggunakan tenaga IT dari luar atau lokal, yang ingin kita ingatkan bahwa, baru-baru ini salah satu bank nasional di Indonesia mengalami error di sistem IT-nya. Dampaknya adalah beribu-ribu rekening nasabahnya terjadi perubahan nominal saldo dan itu menuai banyak kritik. Paul Sutaryono (seorang pengamat perbankan) dan Pitter Abdullah (Direktur Riset CORE Indonesia) mengingatkan, risiko IT akan selalu ada bagaimanapun kuatnya sistem IT yang sudah dikembangkan suatu bank. "Risiko itu bisa bersumber dari manusianya (bisa karena tadak sengaja maupun sengaja) atau karena kegagalan IT itu sendiri (teknis)," jelasnya.

Akan tetapi, bukan berarti keamanan IT itu lemah. Kekuatan IT tidak diukur semata oleh tidak adanya error. Demikian juga sebaliknya, adanya kejadian atau error di bidang IT tidak otomatis menunjukkan kelemahan IT. "Sekali lagi risiko error tetap ada walaupun sistem IT sudah demikian canggih dan kuat," ungkapnya.

Terpenting adalah bagaimana sistem yang ada di bank memitigasi risiko tersebut dan dapat melakukan perbaikan atau koreksi secara cepat ketika terjadi error. "Sistem back up ini saya kira adalah bagian yang tidak bisa kita pisahkan dalam menilai keamanan sistem IT perbankan," imbuh Pitter.

Jadi, kepada Bank Aceh Syariah yang kini sedang memperbaiki sistem IT-nya, kita harapkan memiliki dan menerapkan standar operasional yang baik. Bila suatu saat gangguan sistem terjadi, pemulihan layanan harus cepat dan aspek perlindungan konsumen terkait dengan hak nasabah jangan ada yang terabaikan.

Yang pasti kita sangat berharap sistem layanan dan fasilitas yang diberikan BAS kepada nasabah akan lebih baik dan lancar. Misalnya, sederhana saja, kartu debet (ATM) BAS hendaknya bisa dipakai untuk membayar saat berbelanja di mall, supermartket, atau online shop.

Kemudian, ke depannya, kontribusi BAS kita harap akan terus lebih baik dalam menyalurkan kredit-kredit ke sektor produktif. Tentu saja jangan hanya main di zona nyaman, kan?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved