Opini

Haji; Harapan Kesalehan Sosial

Musim haji tahun ini kembali hadir "menyapa" calon jamaah haji untuk menghadap Kakbah di tanah suci (Mekah)

Haji; Harapan Kesalehan Sosial
IST
Zulfata, S.Ud., M.Ag, Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Oleh Zulfata, S.Ud., M.Ag, Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Musim haji tahun ini kembali hadir "menyapa" calon jamaah haji untuk menghadap Kakbah di tanah suci (Mekah). Historis dan hikmah di balik peristiwa haji hampir tidak ada umat muslim yang tidak paham, karena kesadaran tentang haji merupakan bagian dari rukun Islam yang ke lima (naik haji bagi yang mampu). Terlepas dari tafsir tentang pahala haji bagi yang mampu atau tidak mampu. Pada prinsipnya menunaikan ibadah haji memiliki tujuan utamanya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt.

Sebagai hamba, umat muslim mesti menjalani segala ujian dan rintangan agar mendapat ridha ilahi layaknya apa yang pernah dialami keluarga Ibrahim. Sungguh banyak pembelajaran yang dapat dipetik tentang peristiwa haji, tidak hanya bagi kalangan yang berhaji, tetapi juga bagi umat muslim dan non-muslim sekalipun.

Hadirnya kajian ini sejatinya ingin membangun paradigma atau narasi harapan publik demi terciptanya solidaritas masyarakat berbasis ketaqwaan sosial (kesolehan sosial) melalui momentum haji saat ini. Pemahaman sedemikian menjadi penting karena pada prinsipnya ibadah haji bukanlah ibadah privasi bagi yang sedang berhaji, tetapi juga diperuntukkan pada publik di dunia. Ibadah haji bagi yang berhaji karena mereka mendapat rezeki istimewa dan berkesempatan menunaikan segala tahapan-tahapan haji (syarat dan rukun haji). Disebutibadah publik karena nilai pembelajaran haji dapat dimaknai oleh umat Islam yang beriman dan berilmu pengetahuan.

Persoalan haji memiliki sudut pandang yang luas (universal), ibadah haji bukan sekadar pelepas kewajiban yang sekadar datang dan pulang dari Mekah, tetapi juga mendorong pembentukan situasi sosial akibat momentum haji. Artinya dengan momentum haji ini, senantiasa publik dapat mengambil hikmah untuk bersama-sama menerapkan hikmah haji dalam aktivitas sosial kekinian. Hikmah haji tersebut misalnya membangun spirit iklas, bertanggung jawab hingga beramal shaleh.

Menyesuaikan pengaruh antara momentum haji dengan keadaan daerah (domisili calon jamaah haji) menjadi menarik karena tidak hanya membangun spirit religi di sekitar rumah calon jamaah haji, tetapi juga diyakini sebagai meningkatnya jumlah orang shaleh saat jamaah haji telah kembali dari tanah suci (Mekah). Tidak hanya itu, calon jamaah haji akan berpotensi menjadi orang yang diteladani, diminta nasihatnya untuk kemaslahatan bersama dalam konteks daerahnya masing-masing. 

Dalam tradisi di Aceh misalnya, beberapa hari sebelum calon jamaah haji hendak menuju tanah suci, pada waktu itu pula para kerabat dan sanak-saudara berbondong-bondong mengunjungi rumah calon jamaah haji guna memberikan doa atau nasehat terkaitan ibadahan haji. Prosesi kunjungan yang dilakukan tersebut tidak hanya membangun silaturahmi, tetapi juga mengikat tali persaudaraan sesama muslim, baik di perkampungan maupun di derah. Menariknya, setelah pulang dari tanah suci pun prosesi silaturahmi masih dilakukan. Artinya sebelum dan setelah berangkat haji masyarakat turut menjalin kedekatan sosial dengan subjek yang hendak atau telah menunaikan haji secara seremoni adat-istiadat (tepung tawar).

Tidak hanya itu, para kerabat juga beramai-ramai mengantarkan rombongan calon jamaah haji hingga ke bandara. Keakraban dan semangat religi para kerabat calon jamaah haji ini terbukti melalui semangat memantau di sela keterbatasan waktu saat berjumpa calon jamaah haji. Tentunya soal teterbatasan waktu tersebut merupakan ketentuan serta memiliki maksud tertentu yang telah diamanahkan negara pada petugas haji.

Memamhami gambaran singkat dari situasi sosial kultural terkait dampak berhaji di atas, seyogianya tidak ada alasan mengatakan bahwa tidak ada pengaruhnya antara haji dengan kesolehan sosial, sebab keselahan sosial terbangun dari semangat masyarakat yang bersatu atas dasar kesadaran religi dan kemudian dipraktikkan dalam aktivitas sosial. Kesalehan sosial menciptakan sesama masyarakat yang mengedepankan tenggang rasa, empati dan gotong-royong antarsesama atas nama ukhuwah islamiyah.

Jika dipahami secara komprehensif, sungguh tak terhitung perubahan sosial yang terjadi di semua daerah akibat haji. Terlebih yang melakukan ibadah haji bukan saja orang Aceh atau Indonesia, tetapi ibadah haji juga dilakukan umat muslim yang "terpanggil" dari seluruh manca negara. Semua warga negara berkumpul tanpa memperdulikan warna kulit, tinggi badan atau membedakan kualitas iman sesama jamaah haji.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved