Opini

Melihat Dayah Dari Dekat

Dalam sebuah kunjungan singkat, ada tiga dayah besar di pesisir Timur Aceh yang sempat saya kunjungi dan bersilaturahmi

Melihat Dayah Dari Dekat
IST
Muhibuddin Hanafiah, Dosen PAI FTK UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh

Oleh Muhibuddin Hanafiah, Dosen PAI FTK UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh

Dalam sebuah kunjungan singkat, ada tiga dayah besar di pesisir Timur Aceh yang sempat saya kunjungi dan bersilaturahmi. Pertama, Dayah Babussalam Matangkuli Aceh Utara di bawah pimpinan Tgk Sirajuddin. Kedua, Dayah Malikul Shaleh Tanah Jambo Aye Panton Labu (Abu Panton), dan ketiga dayah Darul Munawarah Kuta Krueng Ulee Gle Bandar Dua Pidie Jaya di bawah pimpinan Abu Usman Kuta Krueng. Melihat dari dekat ketika dayah besar ini rasanya saya tidak percaya bahwa saya memang sedang berada di lingkungan dayah. Sebab pada waktu kecil dahulu, ketika saya dibawa oleh orang tua ke dayah dalam rangka berkunjung ke pimpinan dayah, kondisi dayah waktu itu sangat jauh berbeda dari sekarang dalam banyak aspek. Sekarang saat saya kembali menjenguk dayah, seakan-akan saya berada di tengah sebuah komplek madrasah atau bahkan sebuah universitas dimana lanscape-nya tidak jauh berbeda dengan gedung dan bangunan yang megah dan modern.

Dayah di Aceh jauh sudah berubah. Potret tentang lembaga mencari ilmu agama yang serba sederhana dan serba keterbatasan sudah tidak tepat lagi disematkan pada dayah. Dayah tidak lagi sebagai tempat belajar masyarakat yang kumuh, tidak tertata dan jauh dari standar kesehatan. Dayah dalam wajahnya yang sekarang adalah tempat belajar ilmu keislaman yang sarat fasilitas dan bahkan tergolong modern. Bilik-bilik para santri yang terbuat dari pelapah rumbia, bertiangkan bambu serta beratapkan anyaman daun rumbia tidak ditemukan lagi. Konon lagi lampu teplok (panyeut ceuleut) dengan sumbu kain bekas dan berisikan minyak tanah juga tidak ada jejaknya lagi di balai-bali tempat santri belajar kitab-kitab kuning. Semua itu telah tergantikan dengan aliran listrik yang praktis dan terang-benderang.

Demikian juga lokasi dayah tidak seperti dahulu, dimana dayah terletak di pedalaman dan jauh dari hiruk-pikuk suasana perkotaan. Kini dayah dengan mudah dapat diakses oleh santri, masyarakat, dan pemerintah. Sarana dan prasarana jalan dan jembatan ke lokasi dayah sudah terbangun sedemikian rupa. Televisi, perangkat komputer dan jaringan internet bukan lagi perangkat baru di dayah.

Metamorfis dayah

Semua piranti teknologi informasi sudah hadir dan sudah biasa digunakan oleh santri dalam membuka wawasan dan pengetahuan terhadap perkembangan dunia luar dayah. Bahkan sebagian dayah di Aceh telah berdakwah dan mengajar dengan memanfaatkan perangkat digital berteknologi tinggi. Melalui pemamfaatn kemajuan teknologi ini, para pengajar (gurei) telah mengupload pengajian kitab kuning dan dakwah agama (ceramah) yang kemudian disebarluaskan melalui perangkat internet, seperti mengupload video pengajian ke youtube dan media sosial lainnya. Demikian juga sebagian referensi kitab kuning sudah dikemas dalam bentuk kitab digital (e-kitab). Akibatnya belajar ilmu agama lebih mudah, murah dan menyenangkan. Konon lagi jika nanti diterapkan pembelajaran melalui daring (e-learning), sehingga guru dan santri memungkinkan tidak bertemu muka (face to face) di ruang atau balai belajar lagi. Dalam kondisi seperti ini dayah tak ubahnya bagai sekolah atau universitas di kawasan pusat perkotaan saja. Jadi tidak mengherankan bila santri dayah tidak lagi gagap teknologi. Mereka dapat berkomunikasi dengan guru dan santri di belahan dunia lain seperti di Timur Tengah dengan pelbagai pengalaman dan sudut pandang keilmuan yang bervariasi. Hal ini berdampak positif pada keterbukaan wawasan dan mengubah mindset santri ke arah yang lebih toleran terhadap perbedaan dan moderat dalam berfikir dan bersikap.

Managerial penyelenggaran pendidikan di dayah juga ikut berubah kepada praktik yang modern dan maju. Penyelenggaraan pembelajaran sudah semakin terstruktur dan tertata dalam kurikulum yang tersusun dan tersajikan secara sistematis. Kegiatan belajar tidak lagi semuanya bertahan di bale atau rangkang, melainkan sudah ada yang menggunakan ruang kelas dengan sistem belajar berkelompok/rombel (halaqah) di masjid dayah.

Kepemimpinan di dayah sudah semakin terbuka dan tertata serta demokratis. Pimpinan dayah sudah terbiasa mendelegasikan otoritasnya kepada anak, menantu dan santri senior. Demikian juga dengan organisasi kesantrian sudah terbentuk dan berfungsi dengan baik sehingga ikatan dan hubungan antarsantri dalam menjalankan proses belajar dan kegiatan yang mendukung lainnya sudah demikian terurus dan tertangani secara optimal.

Reproduksi dayah

Ada satu aspek lagi yang paling unik pada alumnus pendidikan dayah, yaitu tamatan dayah pada umumnya mendirikan dayah baru di kediaman atau kampung halamannya dengan tetap menyematkan nama dayah almamaternya. Hal ini menunjukkan ikatan batin atau hubungan emosional antara dayah dengan santrinya cukup kuat dan jangka panjang. Daya tarik atau daya pikat serta kesan mendalam terhadap dayah sangat membekas di benak santri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved