Jurnalisme Warga

Mengintip Desa Tanpa Hewan Kurban

Iduladha yang lebih dikenal dengan Hari Raya Kurban mengingatkan saya pada kenangan tahun 2012 saat saya masih

Mengintip Desa Tanpa Hewan Kurban
IST
AHMAD MUHARRIA RAJHASLA, S.T, M.Kom., alumnus Ruhul Islam Anak Bangsa, pernah jadi relawan di Majalah Muzakki Jakarta, melaporkan dari Kutai Timur

OLEH AHMAD MUHARRIA RAJHASLA, S.T, M.Kom., alumnus Ruhul Islam Anak Bangsa, pernah jadi relawan di Majalah Muzakki Jakarta, melaporkan dari Kutai Timur

Hari Raya Iduladha 1440 Hijriah sebentar lagi akan diperingati oleh umat muslim di seluruh dunia. Iduladha yang lebih dikenal dengan Hari Raya Kurban mengingatkan saya pada kenangan tahun 2012 saat saya masih berdomisili di Jakarta. Saat itu saya lakukan lawatan ke sebuah kampung pedalaman di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Rantau Sentosa namanya.

Kampung ini berada di hulu Sungai Atan, Kecamatan Busang. Mendengar kata Busang mayoritas orang akan teringat skandal Bre-X, penipuan tambang emas terbesar di dunia yang dilakukan petualang tambang asal Filipina, Guzman pada tahun 1990-an. Busang merupakan kecamatan yang berada di pedalaman Kutai Timur.

Untuk sampai ke Rantau Sentosa saya naik pesawat dari Jakarta ke Balikpapan. Saat itu belum ada pesawat langsung dari Jakarta ke Samarinda. Perjalanan dari Jakarta ke Balikpapan sekitar dua jam. Mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan saya lanjutkan perjalanan darat menggunakan jasa travel menuju Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur. Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda menghabiskan waktu tiga jam. Esoknya saya lanjutkan perjalanan darat dari Samarinda ke tempat tujuan, Rantau Sentosa, tujuh jam lamanya.

Sebelum memutuskan waktu berangkat, saya terlebih dahulu menghubungi masyarakat di sana untuk menanyakan keadaan cuaca. Sebab, jika memaksakan perjalanan di saat cuaca sedang hujan, bisa-bisa akan menginap di tengah hutan.

Memasuki Rantau Sentosa saya terheran-heran. Di sini listrik hanya nyala dari pukul 18.00 hingga pukul 00.00. Sangat susah mendapatkan sinyal hp. Warga memberi tahu saya lokasi yang ada sinyalnya, yakni dekat kuburan di belakang rumah salah satu kiai dan dekat pinggir sungai. Di dua tempat inilah warga jika ingin menelepon via hp.

Masyarakat Rantau Sentosa sendiri terdiri atas beberapa suku, yaitu Dayak, Kutai, Jawa, dan Bugis. Mayoritas penduduknya beragama Kristen, bersuku Dayak Kenyah. Sisanya sekitar 40% beragama Islam. Aktivitas sehari-hari masyarakatnya bercocok tanam. Jarang kita jumpai peternak kambing atau sapi di sini.

Walaupun minoritas Islam, anak-anak di kampung ini sangat rajin mengaji dan menghafal Quran. Bahkan di sini sudah lama berlaku gerakan Magrib Mengaji. Kadang jarak tempuh dua jam dilalui anak-anak perkampungan tetangga untuk dapat mengaji di rumah kiai. Hebatnya, beberapa anak mengaji sudah dapat mewakili Kalimantan Timur ke ajang MTQ maupun STQ Nasional bahkan ada yang mendapatkan beasiswa belajar ke Yaman.

Berberapa hari berada di lingkungan masyarakat di sini, saya coba gali informasi tentang pelaksanaan kurban. Ternyata di kampung ini tak ada sama sekali pelaksanaan kurban, kecuali sekali saat akan ada pemilu. Ada yang sumbang seekor sapi saat itu. Tapi tidak cukup karena seekor sapi dibagikan untuk beberapa kampung. Ada kepala keluarga yang tak kebagian.

Saya termenung sejenak, ingat saat di Jakarta saya saksikan setiap keluarga bisa mendapatkan banyak daging kurban, bahkan bertahan beberapa hari. Sedangkan di sini paling banyak 2-5 ons per kepala keluarga dan tidak setiap tahun dapat mereka rasakan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved