Salam

Awas, Cuaca Buruk Bisa Menjadi Bencana Besar

Badai yang disertai hujan lebat melanda sabagian wilayah Kabupaten Aceh Singkil dua hari malam lalu

Awas, Cuaca Buruk Bisa Menjadi Bencana Besar
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Rumah penduduk Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, Aceh Singkil, rusak akibat puting beliung, Minggu (11/8/2019) sekitar pukul 23.50 WIB malam 

Badai yang disertai hujan lebat melanda sabagian wilayah Kabupaten Aceh Singkil dua hari malam lalu. Selain menambulkan ketakutan, malapetaka itu juga merusak sejumlah rumah warga. Yang lebih menakutkan lagi, badai yang datang menjelang tengah malam itu juga dibarengi dengan gemuruh yang menurut warga seperti tsunami. Kerusakan rumah warga antara lain banyak atap yang diterbangkan angin dan sebagian lainnya rusak karena dihantam pohon-pohon yang mendadak tumbang.

Pejabat-pejabat berwenang mengingatkan, badai serupa juga dapat menimpa daerah-daerah lainnya secara tiba-tiba. Sebab, saat ini Aceh sedang dilanda angin barat, yang kecepatannya sangat tinggi. Pejabat di Stasiun Meteorologi Kelas 1 Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar, mengatakan saat ini kecepatan angin mencapai 90 kilometer/jam apabila ada awan konvektif. Padahal, normalnya 10-40 kilometer/jam. Dalam sebulan terakhir, menurut catatan Serambi setidaknya ada lima puluh warga di Aceh yang rusak akibat hantaman badai dan angin puting beliung.

Kita sebagai masayarakat memang tak punya kemampuan untuk menghadang badai atau menghalau angin puting beliung. Namun, UNISDR (United Nations International Strategy for Disaster Reduction) badan khusus PBB yang mengatur tentang kebencanaan masyarakat hanya mengurangi risiko bencana seperti gempa bumi, banjir, kekeringan dan badai, melalui etika pencegahan.

Diingatkan kita semua bahwa keparahan bencana diukur dari seberapa besar dampak bahaya pada masyarakat dan lingkungan. Skala dampak pada gilirannya tergantung pada pilihan yang kita buat untuk hidup kita dan lingkungan kita. Pilihan ini berhubungan dengan bagaimana kita mengelola bahan pangan kita, di mana dan bagaimana kita membangun rumah kita, seperti apa pemerintah yang kita miliki, cara kerja sistem keuangan dan bahkan apa yang diajarkan di sekolah. Setiap keputusan dan tindakan yang membuat kita lebih rentan terhadap bencana – atau lebih tahan terhadap bencana tersebut.

Jadi, menghadapi berbagai malapetaka itu, pilihan kita adalah berusaha mengurangi dampak buruknya, Dan ini merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan. Agar kegiatan pembangunan dapat berkelanjutan mereka juga harus mengurangi risiko bencana. Di sisi lain, kebijakan pembangunan yang tidak sehat akan meningkatkan risiko bencana – dan kerugian bencana. Dengan demikian, pengurangan risiko bencana ini melibatkan setiap bagian dari masyarakat, pemerintah, sektor profesional dan swasta untuk secara bersama-sama bertindak.

Angin kencang atau badai tropis yang kerap melanda Aceh ini membawa dampak langsung yang menggangu aktivitas masyarakat. Di antaranya, gelombang laut yang tingginya bisa mencapai lebih lima meter akan menyulitkan para nelayan. Bahkan tak jarang banyak boat-boat dan kapal-kapal bersama nelayannnya menjadi korban hantaman badai di laut. Makanya, BMKG sering mengingatkan agar nalayan berhati-hati atau bahkan dianjurkan tidak melaut pada saat-saat angin kencang melanda. Dampak lain dari badai tropis dan curah hujan tinggi akan memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, petir, dan lain-lain di wilayah-wilayah tertentu.

Di Indonesia, 98 persen merupakan bencana hidrometeorologi atau bencana alam yang terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologi. Sedangkan 2 persen merupakan bencana geologi. Selain bencana-bencana alamiah itu, Aceh ini juga akrab dilanda bencana akibat kelalaian manusia. Antara lain terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang dalam dua pekan terakhir sangat mengganggu aktivitas masyarakat di kawasan barat dan selatan Aceh. Upaya pemadaman api yang dilakukan secara terpadu belum sepenuhnya berhasil.

Bencana lain akibat ulah manusia di Aceh adalah pencemaran lingkungan. Antara lain penggunaan mercuri dalam kegiatan penambangan. Para aktivis lingkungan hidup sudah lama mengingatkan bahwa pada waktunya akan menimbulkan bencana besar. Maka, sebaiknya sejak kini kita menjadi warga yang sadar bencana. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved