Opini

Surat Cinta Buat Aceh

Alhamdulillah `Ala Kulli Hal, kalimat itulah yang saat ini patut diucapkan oleh seluruh masyarakat Aceh atas nikmat kedamaian

Surat Cinta Buat Aceh
IST
Dr. Munawar A. Djalil, MA, PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh

Oleh Dr. Munawar A. Djalil, MA, PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh

 Alhamdulillah `Ala Kulli Hal, kalimat itulah yang saat ini patut diucapkan oleh seluruh masyarakat Aceh atas nikmat kedamaian yang dirasakan selama 14 tahun (2005-2019). Syahdan, surat ini saya awali dengan sebuah falsafah cinta bahwa hanya orang yang masih memiliki dogma agama sajalah yang selalu menjunjung tinggi kedamaian dan keharmonian.

Damai Aceh bernilai mahal, begitu banyak korban nyawa akibat konflik dengan kepedihan yang tak terperi. Namun meskipun terbilang waktu terabaikan, kita bisa menjadi saksi dengan melihat, membaca dan mendengar ketika itu hari-hari kian genting petaka perseteruan membusuk dalam musim.

Kita sebagai manusia terkadang mempertahankan kebencian sedang Allah saja rela memaafkan. Semestinya kita tidak hipokrit karena cinta itu selalu bisa mencoba memperbaharui cinta seperti cemara dan bunga-bunga yang memperbaharui ranting, pucuk daun setiap musim semi tiba.

Namun di Aceh kini tiada yang lebih indah selan tilawah kesabaran dan mazmur kedamaian, namun kadang-kadang kita lalai jua dan terpedaya. Filsafat itu tak sungguh-sungguh dapat menjelaskan dan memuaskan, apalagi membebaskan.

Mohandes Karamchand Gandhi (1869-1984), yang negerinya terbelah-belah oleh agama dan masyarakatnya yang hipokrit terkoyak pertarungan antaretnik dan ia sendiri tersungkur di tengahnya setelah bertahun-tahun lamanya memperjuangkan perlawanan damai Abimsa, Swadeshi, Satyagraha. Ia akhirnya juga tidak menemukan jawaban, setelah merasa sudah menemukannya, Gandhi kembali meratap bahwa semua agama besar di dunia memiliki kebenaran fundamental. Maka tibalah Gandhi pada suatu kesimpulan sejak lama bahwa semua agama itu mengajarkan kebaikan dan hanya pelakunya mengandung error.

Kita tak habis pikir, semua agama menyerukan kesabaran dan kedamaian, menghilangkan benci dan dendam. Tetapi fakta berabad-abad menyatakan lain. Maka, kita paham apabila orang risau dan mencari jalan tengah. Kita harus menghormati agama karena selalu mengajarkan cinta, melarang permusuhan, menjunjung kemanusiaan dan mengindahkan akhlak. Lebih-lebih agama Islam adalah sesuatu yang menghormati segalanya.

Agama bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan, malah hidup sendiri harus dipandang sebagai religi. Kehidupan yang bercerai dari agama bukanlah kehidupan manusia, melainkan satwa. Agama dan akal adalah dua hal yang membedakan manusia dengan satwa. Namun justru karena kita manusia, maka kita lebih sering menghewan ketimbang memanusia.

Pilihan kita seakan-akan terbatas; menjadi manusia seutuhnya atau menyeleweng sedikit menjadi satwa. Memang ada pandangan yang lebih optimis, namun seakan akan juga tanpa harapan. Sekurang-kurangnya ketimbang secara mental menjadi hewan, maka kita mungkin bisa menyepakati Jean Jacques Rousseau (1712-1778): "Manusia dilahirkan bebas, dan dimana-mana ia terbelenggu".

Dalam hal pertama kita sungguh-sungguh manusia. Dalam hal terakhir kita masih bisa memilih bentuk dan jenisnya. Bisa cinta, bisa agama atau keduanya, kecuali kita bukan lagi manusia. Kehipokritan manusia membuat manusia buta, agama menjadi pegangan rapuh, cinta berubah dan menjelma menjadi kebencian dan dendam.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved