Opini

Surat Cinta Buat Aceh

Alhamdulillah `Ala Kulli Hal, kalimat itulah yang saat ini patut diucapkan oleh seluruh masyarakat Aceh atas nikmat kedamaian

Surat Cinta Buat Aceh
IST
Dr. Munawar A. Djalil, MA, PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh

Kita terlalu hipokrit dan hanya bisa membangun impian kosong dan harapan semu, dalam kemasan ideologi kebenaran yang diberhalakan, lalu kita mencari pembayaran dengan nama Allah menyepelekan hak hidup serta hakikat kehidupan. Hipokrit memang, atas nama dan demi atas nama segala nama kebenaran, demi keadilan dan cita-cita tinggi yang tak tergoyahkan, kita tawarkan syurga dan masa depan kepada dunia sambil bersiap menggali kubur-kubur peradaban.

Keindahan dan peringatan-peringatan yang disampaikan oleh agama menjadi gaung tanpa nama. Surga dilangit yang dijanjikan menjadi dongeng yang tak pernah dituturkan. Surga seperti apakah yang sedang kita rancang dengan tumpukan mayat dan nisan tanpa nama? Masa depan seperti apakah yang sedang kita ukir dengan tinta darah dan kubangan-kubangan dendam? Surga dan masa depan seperti apakah yang kini sedang sengit kita perdebatkan dengan mengeraskan gumpalan kebencian sambil menebarkan rasa takut dan kecemasan?

Dekade lalu, pertikaian, dendam, kebencian menjadi bahasa keseharian masyarakat Aceh. Kehidupan rakyat terkapar oleh pelor dan timah panas. Peradaban telah terlempar ke jurang dalam dan kembali kegelindapan masa silam, jauh dan purba, tempat segala urusan mengucurkan darah, dan nyawa manusia digantungkan di dahan-dahan pohon, berserakan di jalan-jalan.

Kita pun terperangah, agama dan cinta hanya sebuah surat dan kabar, yang samar-samar dan seolah-olah saja tak pernah didengar, namun kini ketika angin kedamaian di Aceh mulai berhembus sepoi, jika agama tak bisa dan bukan lagi sebuah jawaban, lantas bagaimana bisa kedamaian bisa dilanggengkan?

Ketika surat ini saya tulis potret damai kita agaknya masih buram, sebut saja seteru internal para elit Aceh yang belum dapat diurai. Ingat sebuah kearifan lokal Aceh (Aceh Wisdom): "uleu beu matee, ranteng bek patah" (ular harus mati, ranting jangan patah), bathat tameh sarang-sareng, asai puteng jilob lam bara (meskipun tiang bengkok asalkan cocok ketika dipasang), "nibak buta bah got juleng, nibak putoh bah got genteng" (daripada buta baikan juling, daripada putus baikan genting). Hakikatnya itulah norma agama terpenting dalam Islam yang sering kita lupakan, memang kita telah tua dan kerap terlupa.

Berangkat dari norma agama itu pula maka orang bisa melihat potret hitam, potret putih, kelabu di atas sebuah kanvas kehidupan. Ketika filosof Plato berkata: "Kita tak akan tahu mana tongkat yang lurus kalau kita tidak pernah melihat tongkat yang bengkok." Plato sebenarnya ingin mengingatkan kita tentang aturan-aturan, nilai-nilai dan tentang sesuatu yang baku. Dengan kata lain, sesuatu yang baku baru kita tahu kalau kita juga berhadapan dengan yang tidak baku.

Pembakuan itu datang dari nilai-nilai agama dan dogma. Tuntunan agama dan dogma masyarakat Aceh telah mengajarkan bahwa manusia harus memiliki rasa cinta sesama. "Tidak beriman seseorang kamu sehingga dia mencintai saudaranya yang lain seperti mencintai dirinya sendiri." (Hadits Rasullullah SAW).

Sebagai catatan akhir surat cinta ini saya mencoba menyentuh hati kita semua, mari bersikap realistis dengan kondisi Aceh saat ini. Kuburkan sikap hipokrisme kita yaitu suatu tatanan hidup yang melanggar prinsip-prinsip agama dan kemanusiaan dan menghilangkan rasa cinta humanisme, hipokrit akan menumbuhkan dendam abadi dan kebencian yang membara. Bisa dikata bahwa hipokrit suatu langgam sikap yakni menghancurkan kebenaran dan menegakan kebatilan.

Semoga Allah SWT memberi tuntunan kepada kita melalui petunjukNya yang kemudian dinamakan agama dalam membumikan rasa cinta dan kedamaian., I Love You, Aceh. Allahu "Alam.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved