Jurnalisme Warga

Sensasi Berkhutbah di Depan Tujuh Jamaah

Beberapa hari lalu, saya bersama mujahid lainnya yang tergabung dalam Forum Dakwah Perbatasan (FDP) melaksanakan program dakwah

Sensasi Berkhutbah di Depan Tujuh Jamaah
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Sekretaris Jenderal Warung Penulis, dan peserta Forum Dakwah Perbatasan, melaporkan dari Aceh Singkil

OLEH AMIRUDDIN (Abu Teuming), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Sekretaris Jenderal Warung Penulis, dan peserta Forum Dakwah Perbatasan, melaporkan dari Aceh Singkil

Beberapa hari lalu, saya bersama mujahid lainnya yang tergabung dalam Forum Dakwah Perbatasan (FDP) melaksanakan program dakwah di Kabupaten Aceh Singkil. Tim dakwah terbagi dalam beberapa gelombang. Kelompok pertama melawat lebih dahulu dari Banda Aceh ke Aceh Singkil. Tepatnya di Pulau Haloban, Desa Ujung Sialit, Kecamatan Pulau Banyak Barat. Lokasi yang mayoritas ditempati oleh nonmuslim.

Para dai perbatasan melihat langsung kondisi Desa Ujung Sialit. Kehidupan masyarakatnya terbilang jauh dari nilai-nilai Islam. Di desa ini sulit sekali menemukan orang Islam. Jika pun ada, hanya pengunjung yang bermalam beberapa hari saja. Tim dai bermalam di sebuah masjid yang dapat dikategorikan masjid bernasib tragis. Masjid berukuran kecil ini terlihat kotor, banyak laba-laba bergelantungan di atap. Atapnya rusak seperti tak terurus.

Sebelum para dai FDP tiba di lokasi, tidak pernah terdengar suara azan di masjid kecil ini. Namun, denyut lantunan azan lima waktu mulai terdengar saat tim safari perbatasan masuk wilayah itu. Mereka mengadakan daurah, mendidik anak-anak perbatasan memperkuat akidah. Sayangnya, tim safari hanya melaksanakan program dakwah selama lima hari. Mereka manfaatkan waktu libur sekolah agar anak-anak bisa belajar agama Islam dalam bentuk pesantren kilat. Kini, para dai tanpa bayaran itu telah kembali ke Banda Aceh.

Kelompok dua

Saya tergabung dalam kelompok 2 dari FDP. Kami berangkat dari Banda Aceh dua hari setelah berangkat rombongan gelombang pertama. Jumlah kami delapan orang, lebih sedikit dari gelombang pertama yang mencapai dua belasan dai.

Target dakwah kami di Lae Balno, Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil. Kami bermalam di Masjid Baitul Makmur Lae Balno. Masjid ini lumayan besar, tapi sepi dari kegiatan keagamaan. Jarang dilaksanakan shalat berjamaah. Saat tiba di lokasi, kami harus membersihkan masjid yang terlihat kotor dan menyapu ruang-ruang imam yang banyak sampah seperti tiada pengurus. Ruang itu pula kami gunakan sebagai tempat istirahat dan menyimpan barang.

Lae Balno merupakan desa yang penduduknya 50% muslim, selebihnya nonmuslim. Desa yang berada di Aceh itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Gerbang perbatasan hanya berjarak satu kilometer dari tempat kediaman kami (masjid).

Saya berkesempatan melihat tugu/gerbang perbatasan yang berada di kaki gunung agak terjal. Di sini ada dua tugu. Tugu yang dibangun oleh Pemerintah Aceh (Aceh Singkil), berukuran besar dan berbentuk gerbang yang dominannya warna kuning. Satu lagi tugu yang dibangun oleh Pemerintah Sumatera Utara. Tugu ini hanya berjarak 10 meter dengan tugu Aceh. Ukuran tugu lebih kecil, tanpa atap, dan dicat kuning. Di seputaran lokasi inilah kami menjalankan misi dakwah. Memperkuat akidah mat Islam perbatasan. Terutama para remaja yang jauh dari sentuhan agama.

Setelah dua hari melaksanakan kegiatan pembinaan agama Islam, beberapa orang di antara kami mendapat undangan khutbah Jumat di masjid berbeda. Tapi masih dalam Kecamatan Danau Paris.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved