Jurnalisme Warga

Sensasi Berkhutbah di Depan Tujuh Jamaah

Beberapa hari lalu, saya bersama mujahid lainnya yang tergabung dalam Forum Dakwah Perbatasan (FDP) melaksanakan program dakwah

Sensasi Berkhutbah di Depan Tujuh Jamaah
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Sekretaris Jenderal Warung Penulis, dan peserta Forum Dakwah Perbatasan, melaporkan dari Aceh Singkil

Saya diundang ke Desa Situbuh-Tubuh. Saat pertama mendengar nama desa ini, saya hampir tak bisa menyebutnya sebelum melihat bagaimana tulisan sebenarnya. Takut terdengar lain saat melafalkannya. Menurut penjelasan warga setempat, kata 'si' berarti  'tempat'. Sedangkan kata 'tubuh'  berarti 'lahir'. Jadi bila digabungkan dapat dimaknai dengan 'tempat lahir'.

Sebelum berkhutbah, saya harus mempersiapkan materi khutbah secara matang. Terutama menggunakan bahasa yang jauh dari kesan ilmiah, karena audiens saya hanya masyarakat biasa yang terkadang bahasa Indonesia saja sulit mereka pahami.

Ketika tiba di halaman Masjid Baitusshalihin, saya perhatikan kondisi bangunan itu. Ukuran masjid tak lebih dari 5x5 meter. Hanya ada satu tiang penopang di tengah. Dinding masjid memiliki dua bahan dasar, beton, dan papan. Sebagian dinding dibuat beton, sebagiannya dibuat dari papan yang terlihat rapuh. Masjid imut ini hanya mampu menampung 40 jamaah.

Tata laksana shalat Jumat persis seperti mayoritas pelaksanaan Jumat di Aceh. Mereka awali dengan dua kali azan serta pembacaan doa dan selawat ketika menyerahkan tongkat pada khatib.

Sebagai jebolan dayah  yang notabene  bermazhab Syafii, saya tetap mengulangi bacaan rukun dua khutbah setelah menyampaikan nasihat.

Di sini, Danau Paris, umumnya kawasan Aceh Singkil, tidak penting membahas tata cara pelaksanaan shalat Jumat yang mesti dilakukan azan dua kali. Tidak penting pula membahas khatibnya memegang tongkat atau tidak. Atau memperdebatkan persoalan khutbah yang wajib diulang pascatausiah. Apalagi hendak mengklaim tidak sah Jumatnya bila tiada ulang khutbah.

Perselisihan seperti tongkat, azan dua kali, dan ulang khutbah cukup terjadi di wilayah lain seperti, Banda Aceh dan pantai timur utara Aceh. Di sini yang penting dilakukan adalah mengajak masyarakat agar taat pada Allah dan memperkokoh akidah dalam pergaulan dengan nonmuslim.

Hanya tujuh orang

Saya ingin mengabarkan bahwa jumlah jamaah Jumat tujuh orang. Ditambah satu anak kecil yang usianya sekitar empat tahun. Ia duduk manis di tiang tengah masjid. Sambil khutbah, saya perhatikan bocah cilik itu dengan pakaian rapi ala muslim, peci terhias indah di kepalanya. Matanya tajam, terus perhatian ke arah saya yang memberikan tausiah. Terlintas di benak saya, "Semoga Allah menjadikan anak ini dai di tempat ia dilahirkan."

Berselang dua meter, duduk seorang pemuda berseragam ala hitam, tanpa peci. Selebihnya, di barisan depan terlihat imam masjid yang usianya entah 70-an. Di sebelahnya ada sosok bilal yang sebelumnya mengumandangkan azan. Usianya tak kurang dari 50 tahun. Di sampingnya juga terdapat manusia paruh baya yang khusyuk mendengar nasihat khatib.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved