Salam

Siapkah Pengusaha Menangkap Peluang Dagang Aceh - Andaman?

Pemerintah Aceh menunjukkan keseriusan guna menangkap berbagai peluang menyusul adanya sinyal positif dari Pemerintah India

Siapkah Pengusaha Menangkap Peluang Dagang Aceh - Andaman?
Kolase Serambinews.com/FOR SERAMBINEWS.COM
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyurati Kementerian Perhubungan di Jakarta dan Direktur Malindo Air di Kuala Lumpur. Surat ini untuk menindaklanjuti pertemuan Plt Gubernur dengan Duta Besar India untuk Indonesia, Pradeep Kumar Rawat di Rumah Dinas Wakil Gubernur 5 Agustus 2019 

Pemerintah Aceh menunjukkan keseriusan guna menangkap berbagai peluang menyusul adanya sinyal positif dari Pemerintah India. Melalui Dubesnya, beberapa waktu lalu India menyatakan ingin menanamkan modalnya di Aceh serta bersedia menampung produk‑produk dari Aceh untuk masuk ke pasar India, khususnya Kepulauan Andaman yang begitu dekat dengan Sabang.

Di mata Plt Gunernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, dekatnya jarak tempuh dari Aceh ke Kepulauan Andaman, yang hanya sekitar 1 jam penerbangan, adalah peluang dagang yang sangat menguntungkan. Karena itu, Nova Iriansyah terus melakukan berbagai upaya mewujudkan dibukanya penerbangan langsung Aceh‑Andaman.

Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah menyurati Kementerian Perhubungan (Kemenhub), meminta agar Pemerintah bersedia membuka rute terbang dimaksud. Selain itu, Nova juga akan mengirim negosiator untuk melancarkan lobi‑lobi, tidak hanya ke Kemenhub, tetapi juga kepada pihak maskapai dalam hal ini Malindo Air. "Sudah saya surati (Kemenhub)," kata Nova Iriansyah.

Dalam surat bernomor 555/12278, Plt Gubernur menyampaikan bahwa pembukaan rute penerbangan Banda Aceh‑Port Blair adalah hasil kesepakatan antara Pemerintah Aceh dan India, dalam rangka menindaklanjuti Aceh‑Andaman And Nicobar Island Business Connectivity yang juga masuk dalam Indonesia‑Malaysia‑Thailand Growth Triangle Plus India (IMT‑GT plus).

Oleh karena itu, Nova mengajukan permohonan amandement atau perubahan perjanjian layanan udara (air service agreement). Sebab di dalam perjanjian yang disepakati sebelumnya antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah India, belum tercantum nama Bandar Sultan Iskandar Muda (SIM) sebagai salah satu bandara yang dapat dilakukan penerbangan langsung.

“Dalam upaya ini Pemerintah Aceh juga harus piawai bernegosiasi. Bargaining position cukup baik, tapi harus didukung negosiator yang ulung. Nanti kita tetapkan para pebisnis Kadin untuk bernegosiasi," ungkap Nova.

Ya, sesungguhnya, apa yang sedang diupayakan Plt Gubernur Aceh itu adalah membuka peluang. Yang harus memanfaatkan peluang ini adalah para pebisnis Aceh. Mulai para pengusaha bidang pariwisata, industri, pertanian, bahkan termasuk pengusaha jasa konstruksi.

Jika peluang ini tidak bisa dimanfaatkan kalangan pebisnis Aceh, maka rintisan jalan yang sedang dibuka Nova Iriansyah secara susah payah, akan sia‑sia.

Kabar baiknya, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Aceh, Makmur Budiman, menyatakan sangat merespon perintah Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah yang meminta Kadin melakukan negosiasi terkait kerja sama itu. Dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan road show ke India untuk mendalami kerjasama tersebut.

“Kita akan melakukan pertemuan dengan Kadin India menanyakan barang‑barang apa saja yang cocok dikirim dari Aceh. Yang sudah pasti tentu bicara harga dengan harapan kerjasama ini terwujud mengingat jarak angkut yang dekat,” katanya.

Saat ini Andaman sedang membangun secara besar‑besaran. Pemerintah India akan mengembangkan pariwisata di Andaman. “Mereka berharap banyak terjadinya perdagangan antara Aceh dan Andaman. Karena mungkin dari seluruh dunia, jarak angkut yang paling dekat dengan Andaman adalah Aceh,” kata Makmur.

 Yang juga ingin kita katakan bahwa kita tak boleh kalah lagi dalam memanfaatkan peluang‑

peluang bisnis seperti itu. Sebab, Aceh punya catatan buruk masa lalu ketika bagitu banyak MoU dengan pengusaha luar negeri yang akhirnya tak menjadi kenyataan.

Untuk itulah, apa yang sedang dilakukan Pemerintah Aceh ini, selain harus didukung habis‑

habisan oleh kalangan pebisnis, juga perlu mendapat dukungan secara politis, terutama dalam rangka melobi Kementerian Perhubungan dan pengusaha maskapai Malindo Air agar penerbangan langsung Banda Aceh‑Port Blair (Andaman) bisa segera terwujud.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved