Salam

Edukasi Terus Anak Didik tentang Kebencanaan  

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, antara lain, memberitakan bahwa Dinas Sosial (Dinsos) Aceh Tengah

Edukasi Terus Anak Didik tentang Kebencanaan   
SERAMBINEWS.COM/NASIR YUSUF
Simulasi gempa dan tsunami yang digelar BPBA bekerja sama dengan MAN Model di sekolah/madrasah siaga bencana, Sabtu (19/11/2016) siang. 

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, antara lain, memberitakan bahwa Dinas Sosial (Dinsos) Aceh Tengah mengajarkan materi edukasi tentang kebencanaan kepada para siswa dari sejumlah sekolah di kabupaten itu.

Program ini merupakan program Kementerian Sosial, mengingat sebagian besar daerah di Indonesia merupakan kawasan yang rawan bencana.

Edukasi ini dilakukan di Aceh Tengah karena kabupaten ini merupakan daerah rawan bencana. Ya, 2 Juli 2013 kabupaten ini bersama Kabupaten Bener Meriah porak‑poranda diguncang gempa darat berkekuatan 6,1 skala Richter.

Jadi, edukasi tentang kebencanaan itu diajarkan di Aceh Tengah sebagai upaya untuk mengurangi dampak atau risiko bencana sekaligus untuk membuat anak didik tahu apa yang harus dilakukan jika bencana terjadi lagi.

Sementara itu, pada edisi sebelumnya, Sabtu (17/8), Harian Serambi juga memberitakan bahwa Jumat malam Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) melaksanakan Rapat Paripurna dalam Rangka Persetujuan Rancangan Qanun Aceh tentang Pendidikan Kebencanaan sebagai Usul Inisiatif Komisi VI DPRA Menjadi Usul Inisiatif DPRA.

Draf Rancangan Qanun Kebencanaan itu disusun oleh sebuah tim yang di‑SK‑kan Rektor Universitas Syiah Kuala, karena Unsyiah menganggap sangatlah penting pengetahuan tentang bencana dan upaya pengurangan risiko bencana diajarkan merata kepada seluruh anak didik di Aceh, mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga perguruan tinggi.

Nah, kedua informasi di atas, yakni edukasi kebencanaan terhadap para siswa di Aceh Tengah maupun Raqan Pendidikan Kebencanaan yang dijadikan DPRA sebagai usul inisiatif DPRA, sangat patut kita apresiasi. Kedua hal ini kita maknai sebagai bentuk nyata dari kesadaran berbagai pihak, mulai dari kementerian, perguruan tinggi hingga sekolah dasar bahwa pengetahuan tentang kebencanaan dan pengurangan risiko bencana adalah sesuatu yang urgen dan strategis untuk diajarkan melalui lembaga pendidikan.

Kegiatan‑kegiatan positif seperti ini harus terus digencarkan supaya tidak ada generasi terdidik Indonesia dan Aceh khususnya yang tidak paham tentang potensi bencana apa saja yang ada di daerahnya.

Sebagai warga yang bermukim di jalur rawan bencana atau "ring of fire", anak‑anak Aceh juga harus paham karakteristik bencana yang kerap melanda wilayahnya.

Mereka  yang bertempat tinggal di dataran tinggi tentunya akan menghadapi bencana yang berbeda karakternya dengan bencana yang dihadapi warga yang bermukim di daerah aliran sungai (DAS) maupun mereka yang bermukim di pinggir laut.

Anak‑anak yang bermukim di dataran tinggi tentunya akan lebih sering berhadapan dengan bencana tanah longsor, gempa, banjir bandang, dan puting beliung. Anak‑anak yang bermukim di wilayah pesisir akan lebih sering berhadapan dengan bencana rob (gelombang pasang), intrusi dan abrasi, angin kencang, ombak besar, puting beliung, gempa, bahkan tsunami.

Anak‑anak yang bermukim di kawasan DAS akan lebih sering berhadapan dengan banjir, banjir bandang, serta abrasi.

Oleh karenanya, para peserta didik dan generasi muda Aceh pada umumnya harus terus‑menerus diajarkan tentang edukasi kebencanaan untuk mengurangi dampak kerugian terhadap jiwa, raga, dan harta benda.

Kita semua paham bahwa bencana itu datangnya dari Allah, tapi sebagiannya adalah karena ulah manusia. Tugas kita bersama adalah mengurangi potensi bencana yang disebabkan oleh tangan‑tangan manusia dan menyiapkan generasi yang sadar bahkan tangguh bencana.

Kita memerlukan sebanyak‑banyaknya sekolah siaga bencana dan desa tangguh bencana. Dan yang tak kalah pentingnya adalah menyiapkan diri secara lahir batin untuk tanggap bencana serta hidup harmoni dengan bencana, karena Tuhan telah menakdirkan kita sebagai anak bangsa yang hidup berdampingan sejak dulu kala dengan bencana. Semoga.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved