Menelusuri Rawa Singkil, Sensasi Gigitan Manja Kawanan Ikan
Kawasan Suaka Margasatwa yang berada di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam, Provinsi Aceh ini memang menawarkan
Tak melulu berbicara tentang buaya, ada sensasi lain yang kami rasakan saat berada di Rawa Singkil. Kawasan Suaka Margasatwa yang berada di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam, Provinsi Aceh ini memang menawarkan sensasi yang jarang bisa ditemui di daerah lain.
Mesin perahu berulang kali mati, akibat kipas yang berfungsi sebagai pendorong tergulung sampah. Perahu kayu panjang enam meter itu, hanya melaju dengan kekuatan tangan menarik pohon bakung yang menyesaki sungai Lae Treup di tengah hutan Rawa Singkil, Aceh Singkil.
Butuh tenaga ekstra menerobos sesaknya bakung di tengah terik matahari siang itu.
Setelah sekitar empat jam bergelut peluh taklukan padatnya pohon bakung, tibalah di pondok kayu milik pencari lele. Lawah (pondok) Kerabang nama lokasi itu, didirikan di cabang sungai yang lebih luas.
Pukak Dragon, nakhoda perahu langsung menceburkan diri ke sungai. Penduduk Desa Rantau Gedang, Kecamatan Singkil itu, paling kelelahan berjibaku mendorong perahu yang kami tumpangi. "Enak sejuk," pekiknya menyertai jeburan badan masuk sungai.
Sementara Serambi, memilih merendam kaki yang terasa kaku berjam-jam duduk terlipat di atas perahu. Benar saja air sungai berwarna hitam itu terasa dingin merasuk ke otot kaki.
Saat sedang asik, tiba-tiba gerombolan ikan seukuran lidi mengerubuti kaki. Tak sampai di situ, ikan-ikan itu memberikan gigitan kecil ke kaki yang terendam air. Sensasi gigitan manja kawanan ikan Rawa Singkil, berhasil mengendurkan ketegangan otot kaki.
Raga berat beranjak, namun senja segera tiba. Saya harus segera kembali dari lokasi tak bersinyal itu sebelum malam tiba.
Hari itu tenaga Serambi, Pukak Dragon, Sukardi, dan Jeck yang naik satu perahu sedang dikuras. Baru melaju puluhan meter arah pulang kopling mesin perahu copot tertahan sampah.
Kami kembali mengeluarkan sisa tenaga mendorong perahu. Beruntung perahu yang ditumpangi Kepala Pelaksana Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil, Mohd Ichsan, Si Win, dan Vetor yang berangkat bersama kami, datang.
Perahu kami digandeng agar bisa berbagi tenaga ke luar dari tengah rawa. Pukul 21.00 WIB kami tiba di perkampungan. Perjalanan naik perahu ke Rawa Singkil, menyusuri kelak-kelok sungai Lae Treup memang menguras tenaga. Butuh fisik prima dan nyali kuat.
Namun semua itu terbayar lunas bila berhasil menembus hamparan air rawa. Di perjalanan tumbuhan kantung semar, bunga bakung, serta tanaman akuatik siap memanjakan mata.
Suguhan pemandangan sebetulnya sudah tersedia sejak berada di sungai Singkil. Kawanan kerbau dihinggapi bangau putih serta buaya berukuran besar berjemur di pinggir sungai.
Dari Kota Singkil, ke Lae Treup bisa di tempuh dengan naik perahu kecil. Setelah melewati Desa Rantau Gedang dan Teluk Rumbia, belok kiri. Sensasi berpetualang di Lae Treup lebih sempurna bila menginap di pondok pencari lele. Bisa juga pulang pergi.
Berangkat pukul 07.00 WIB pagi dari Desa Rantau Gedang, pastikan jika tak berniat nginap Lawah Kerabang tujuan paling jauh. Melewati itu, dipastikan kemalaman dalam perjalanan pulang. Pastikan masuk Lae Treup bersama pemandu berpengalaman. Sebab di dalam banyak cabang anak sungai yang bentuknya mirip.(Dede Rosadi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/gerombolan-ikan-menggigit-kaki-yang-direndam-di-sungai-lae-treup-rawa.jpg)