Salam

Pikirkan Kontruksi Anti Puting Beliung

BENCANA puting angin puting beliung kini makin sering melanda daerah-daerah di Aceh. Jika dulu, puting beliung hanya terdengar beberapa bulan sekali

Pikirkan Kontruksi Anti Puting Beliung
Dok: Hardi
Gazebo milik BUMDes Karya Mandiri Desa Pulau Baguk di objek wisata Pulau Panjang, Pulau Banyak, Aceh Singkil, rusak tertimpa pohon yang rubuh akibat puting beliung, Minggu (11/8/2019) malam. 

BENCANA puting angin puting beliung kini makin sering melanda daerah-daerah di Aceh. Jika dulu, puting beliung hanya terdengar beberapa bulan sekali. Tapi kini hampir setiap pekan bencana itu menghantam bumi Aceh dan merusak harta benda serta mengancam nyawa warga.

Peristiwa terbaru, puting beliung menghantam lima desa di Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat, pada Minggu (18/8) menjelang petang. Data sementara, ada 25 rumah yang rusak.

Di antara rumah yang rusak adalah milik Nek Ainan (60). Atap rumahnya terangkat disapu puting beliung. Bukan hanya atap, puting beliung juga mengangkat dan menghempaskan tubuh Nek Ainan ke areal persawahan berjarak sekitar tujuh meter dari rumahnya. "Ibu Ainan menangis. Warga dengan cepat mengangkat tubuh Bu Ainan dari sawah," ujar seorang warga.

Nek Ainan tinggal seorang diri di rumah berkonstruksi permanen. Rumah itu merupakan bantuan untuk kaum dhuafa yang dia terima beberapa tahun lalu. Dan, kini wanita renta ini pun harus menjalani perawatan serta mengungsi dari rumahnya.

Seringnya puting beliung menghantam Aceh, secara otomatis memaksa kita mengenali bencana atau fenomena alam ini. Puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum lima menit. Orang awam menyebut angin puting beliung adalah angin Leysus. Di Indonesia, masing-masing daerah memiliki sebutan tersendiri terhadap angin yang sering datang tiba-tiba dan menakutkan itu.

Leysus kerap muncul pada masa transisi dari musim panas ke penghujan. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika fenomena puting beliung sebenarnya merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi. Angin tersebut lebih sering terjadi di musim pancaroba dibanding musim lainnya.

"Kejadian hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi/pancaroba musim baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya dan musim hujan saat kondisi cuaca pagi cerah dan terik," jelas BMKG.

Selain itu, puting beliung terjadi di lingkup yang lokal. Luasannya hanya 5‑10 km dengan waktu paling lama 10 menit saja. Angin ini sering terjadi di siang atau sore hari, jika tidak paling lambat sore sebelum matahari tenggelam. Namun, kedatangan angin ini tidak bisa diprediksi secara spesifik. BMKG menyebut dia hanya bisa diprediksi 0,5 ‑ 1 jam sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda‑tandanya dengan tingkat keakuratan kurang dari 50 persen.

Angin tersebut berasal dari awan Cumulonimbus, bukan dari pergerakan angin Monsoon maupun pergerakan angin pada umumnya). Namun perlu dicatat bahwa tidak semua awan Cumulonimbus menimbulkan puting beliung. BMKG juga mengatakan kecil kemungkinan angin ini kembali ke tempat yang sama yang pernah dilewatinya dalam kejadian itu.

Untuk mengurangi risiko bahaya angin puting beliung yang bisa muncul secara acak, BMKG menyarankan warga untuk memangkas pohon rimbun dan lapuk, memperkuat bagian rumah yang rapuh jika terkena angin, serta memperkuat benda‑benda yang rawan roboh tertiup angin, seperti baliho dan lainnya.

Menurut Stanley Wangsaraharja, Ketua Bidang Infrastruktur Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), rumah berkontruksi anti puting beliung sudah dirasa penting untuk dikembangkan. Ia mengatakan saat ini sebenarnya sudah berlangsung prosesnya. Setidaknya sudah terlihat dalam penggunaan material‑material yang telah teruji secara nasional (SNI) dalam pengembangan proyek rumah dijual, khususnya untuk developer‑developer besar dan sebagian developer independen.

Pemikiran untuk mengembangkan rumah anti puting beliung sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 2005, ketika sejumlah wilayah di Pulau Jawa paling sering dihantam puting beliung. Tahun 2018 saja, tercatat ada 500 kali lebih Leysus memporak-porandakan sejumlah daerah di tanah air, dan Aceh termasuk daerah yang sering dipelintir puting beliung.

Maka, ke depan, pemerintah bersama stake holdernya selain menyosialisasikan serta menerapkan bangunan anti gempa, juga harus anti puting beliung untuk memberi rasa aman kepada warga. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved