Info Haji 2019
Pelataran Tawaf Makin Panjang
Masjidil Haram diperluas dan direnovasi. Salah satu tujuannya adalah untuk menampung jamaah lebih banyak dan lebih ramah lansia
Laporan MOHD DIN, WARTAWAN Serambi Indonesia
Masjidil Haram diperluas dan direnovasi. Salah satu tujuannya adalah untuk menampung jamaah lebih banyak dan lebih ramah lansia. Sewaktu perluasan itu, kuota haji sempat dikurangi, sehingga masa antre haji makin panjang.
Sejak tahun lalu perluasan mataf (pelataran tawaf) sudah siap. Bagian bangunan berbentuk kerucut putih peninggalan Kesultanan Otoman tidak terlihat lagi.
Satu persatu pilar, atap, dan tembok bangunan yang berdiri pada tahun 1920-an dirubuhkan. Lantai mataf kian leluasa hingga terasa lapang ketika melakukan tawaf. Setelah selesainya perluasan Masjidil Haram, maka bangunan pun makin luas. Bangunan masjid baru yang berada di samping belakang kini sudah disambungkan.
Bagi jamaah umrah atau jamaah haji yang muda dan berbadan sehat, suasana masjid yang lapang kini telah hadir di depan mata. Luas lantai tawaf (mataf) menjadi berlipat-lipat, kapasitasnya empat kali dari yang dahulu. Suasana berdesakan sudah terurai terutama di musim puncak haji.
Namun, setelah perluasan lantai mataf, beban baru jamaah lanjut usia atau mereka yang menggunakan kursi roda bertambah berat. Mereka harus melakukan tawaf di lantai dua dan tiga Masjidil Haram. Akibatnya, jarak tempuh putaran tawaf menjadi semakin panjang. Setiap satu putarannya akan mencapai satu kilometer.
Dengan demikian, sesuai dengan ketentuan putaran tawaf tujuh putaran, maka jamaah lansia dan menggunakan kursi roda harus menempuh perjalanan hingga lebih dari tujuh kilometer.
Tentu saja, setelah melakukan tawaf untuk menuntaskan ibadah haji atau umrah sebelum diperbolehkan melakukan ‘tahalul’, para jamaah harus melakukan sai. Bila satu putaran sai jaraknya mencapai 405 meter, maka untuk tujuh kali jalan tersebut jamaah pun harus berjalan 2,8 kilometer lebih.
Alhasil bila ditotal, untuk menyelesaikan prosesi tawaf dan sai seorang jamaah haji dan umrah harus menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 10 kilometer. Jarak yang lumayan jauh.
Lalu berapa lama tawaf diselesaikan seandainya ada jamaah yang mengantarkan orang tuanya melakukan tawaf dengan menggunakan kursi roda? Jawabannya tergantung kemampuan jasmani, kesempatan waktu, dan suasana kepadatan area tawaf yang ada di Masjidil Haram.
Pada hari ketika tidak ada jamaah umrah (yakni setelah Idul Fitri sampai datangnya rombongan pertama jamaah haji), suasana arena tawaf masih lengang. Orang tawaf memang masih tetap ada sepanjang waktu, cuma jumlahnya tak terlalu banyak. Bahkan antrean untuk mencium Hajar Aswad hanya sekitar sepuluh orang saja.
Pada saat itu orang yang berada di Masjidil Haram dapat mencium Hajar Aswad secara lebih leluasa. Waktu untuk tawaf pun sangat singkat, tak lebih hanya 10 menit untuk tujuh putaran. Saking longgarnya pada saat itu bisa shalat sunat di Hijir Ismail sepuasnya atau berulangkali.
Namun, suasana ini sontak berbalik ketika jamaah haji sudah mulai berdatangan. Area tawaf menjadi hiruk-pikuk. Mencium Hajar Aswad dan shalat di Hijir Ismail atau berdoa persis di depan Multazam menjadi barang langka.
Dalam suasana padat itu maka tawaf di lantai dua bersama para lansia dan jamaah yang memakai kursi roda benar-benar jadi pilihan. Bahkan, para asykar yang pada hari biasa masih bisa memberikan sedikit kelonggaran bagi jamaah berkursi roda tawaf di mataf, maka begitu menjumpai jamaah seperti ini maka langsung mengarahkan agar naik tempat tawaf yang berada di lantai dua.
Alhasil, karena memakai area tawaf di lantai dua itu, waktu tawaf menjadi panjang yang awalnya tak lebih dari 10 menit itu, kini bisa 2 hingga 3,5 jam. Dengan semakin luasnya area tawaf, maka proses tawaf memakan jarak yang lama. Kalau memakai tempat tawaf di lantai dua dan menyelesaikan sai sekaligus maka setiap jamaah harus menempuh perjalanan sepanjang kurang lebih 10 kilometer.
Maka, terutama untuk para calon haji dan umrah yang lanjut usia atau memakai kursi roda, mulai sekarang bersiaplah secara serius. Ingat haji itu ibadah yang membutuhkan kemampuan fisik.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/laporan-mohd-din-pemimpin-perusahaan-serambi-indonesia.jpg)