Salam

Parkir Tidak Terurus Sebabkan Kemacetan  

Anggota PRK Banda Aceh, Irwansyah ST, menyorot tajam segala sisi terkait perparkiran kendaraan di wilayah ibu kota Provinsi Aceh

Parkir Tidak Terurus Sebabkan Kemacetan   
Serambi
Sejumlah mobil dan sepeda motor parkir sembarangan di jalan protokol Kota Bireuen. SERAMBINEWS.COM/FERIZAL HASAN 

Anggota PRK Banda Aceh, Irwansyah ST, menyorot tajam segala sisi terkait perparkiran kendaraan di wilayah ibu kota Provinsi Aceh. Sebagai sumber pemasukan bagi daerah, perparkiran dianggap balum cukup maksimal sumbangannya. Sedangkan pengurusan lapak parkir juga dinilai belum tertib sehingga di sana-sini mengganggu kelancaran lalu lintas, bahkan menjadi salah satu penyebab kemacetan.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Banda Aceh didesak segera memperhatikan secara serius persoalan perparkiran. Antara lain, Irwansyah mewacanakan beberapa hal terkait dengan urusan parkir di Banda Aceh. Wakil rakyat ini misalnya menyarankan Pemko menerapkan kawasan tertib parkir. Lalu, ia juga menganjurkan penerapan tarif parkir progresif seperti di mall-mall yang tarifnya semakin lama kita parkir akan semakin mahal pula biaya parkir yang harus kita bayar.

Anjuran itu disampaikan mengingat wilayah Kota Banda Aceh yang sempit ini semakin diramaikan oleh pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak terkendali. Padahal, luas areal parkir semakin lama semakin menyempit. Yang terus terjadi adalah sebagian besar badan jalan kini menjadi lahan parkir, termasuk kendaraan plat merah milik pemerintah atau kendaraan-kendaraan plat hitam milik pegawai pemerintah yang kantornya tak menyediakan areal parkir yang cukup.  Para pegawai memakirkan kendaran di tepi kiri dan kanan jalan sehingga menjadi penyebab kemacetan.

Lalu, di tempat-tempat lain, para pedagang bermobil atau bergerobak juga mengambil badan jalan untuk lapak jualan sejak pagi hingga malam. Maka, ketika Pemko Banda Aceh merencanakan pembukaan Mall Pelayanan Publik di kawasan Pasar Aceh, yang harus dibereskan lebih dulu adalah hal-hal yang menyangkut parkir kendaraan. Mulai lokasinya, pengelolanya, tarifnya, dan lain-lain.

"Karena, ketika semua jenis perizinan akan dibuat di situ, dan pelayanan publik akan ada di situ maka lalul lintasnya akan semakin padat. Sekarang saja sudah macet-macet, maka saat mall pelayanan publik beroperasi, tentu kemacetan akan semakin parah," ujar Irwansyah.

Pemko Banda Aceh memang punya konsep perparkiran berbayar progresif yang pilot proyeknya ada di Jalan Panglima Nyak Makam. Namun, menyusul penerapan parkir bertarif progresif itu, hampir semua usaha di lokasi itu harus gulung tikar. Pertama, karena lapak usahanya memang menyempit, kedua lahan parkirnya juga sangat terbatas, jadi pengunjung menurun drastis.

“Khusus Jalan P Nyak Makam, harus dikaji ulang agar tidak ada yang dirugikan, Misalnya dengan menerapkan sistem parkir progresif portal secara merata di sepanjang ruas jalan tersebut, jangan hanya pada satu titik seperti yang sudah ada saat ini. Pemko pun perlu segera menyiapkan regulasi seperti peraturan walikota (Perwal) guna menjamin praktik retribusi dengan tarif progresif berjalan lancar,” kata anggota DPRK tadi.

Pembukaan mall-mall baru seperti di Pasar Aceh baru dan Jalan Panglima Nyak Makam harus benar-benar dipikirkan jalan-jalan alternatif agar tak menimbulkan kemacetan, seperti yang sering terjadi di sekitaran Suzuya Mall Setui atau di sekitaran Plaza Aceh (eks Hermes Mall) Beurawe.

Untuk itulah, kembali kita ingatkan bahwa ruang terbuka atau landskap adalah adalah ruang yang harus direncanakan, karena di sana merupakan tempat pertemuan banyak aktivitas masyarakat. Di antara ruang terbuka itu adalah tempat parkir, jalan , dan trotoar. Yang terjadi saat ini adalah sebagian jalan dan hampir semua trotoar terampas menjadi tempat parkir dan lapak jualan. Sehingga ruang-ruang terbuka itu sudah tidak lagi berfungsi sesuai peruntukannya.

Memang, banyak pemerintah kota yang mengeluh tentang susahnya menertibkan perparkiran dan pedagang di jalanan. Namun,  banyak juga pemerintah kota yang sukses menerapkannya secara baik. Banyak juga kota yang perparkirannya tertib, arus lalu lintasnya lancar, serta para pedagang tak membuka lapak di sembarang tempat. Jadi, dalam urusan penertiban, termasuk soal sampah, Banda Aceh harus “berkiblat” ke kota-kota yang sudah sukses! Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved