Opini

Sudah Merdekakah Pendidikan Kita?  

Jika berbicara pendidikan sebagai pondasi sebuah negara, benarkah pendidikan kita sudah merdeka yang sebenarnya? Atau hanya kemerdekaan "semu"

Sudah Merdekakah Pendidikan Kita?   
IST
Dr. Sri Rahmi, MA, Dosen UIN Ar Raniry, Ketua Asosiasi Prodi Manajemen Pendidikan Islam se-Indonesia

Oleh Dr. Sri Rahmi, MA, Dosen UIN Ar Raniry, Ketua Asosiasi Prodi Manajemen Pendidikan Islam se-Indonesia

 Bulan ini tepat 74 tahun Indonesia merdeka. Sudah cukup tua jika diibaratkan umur manusia. Tapi apakah seluruh Indonesia ikut merasakan kemerdekaan itu? Atau kemerdekaan saat ini hanya serentetan seremonial dan euforia belaka? Apa hakikat sebuah kemerdekaan?

Jika berbicara pendidikan sebagai pondasi sebuah negara, benarkah pendidikan kita sudah merdeka yang sebenarnya? Atau hanya kemerdekaan "semu" yang kita rayakan setiap tahunnya? Dengan hitungan umur yang sudah tidak muda lagi, terlihat pendidikan negara kita belum menemukan wujud yang jelas dan selalu dalam keadaan uji coba.

Begitu memasuki awal Agustus, kita selalu disuguhi oleh pemandangan penuh suka cita di sudut kota sampai ke pelosok desa. Pedagang bendera merah putih hampir sepanjang jalan protokol bahkan sampai ke ujung jalan desa dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Kantor dan rumah-rumah seantero Indonesia raya diminta mengibarkan bendera dan umbul-umbul warna warni pertanda hari kemerdekaan telah tiba.

Belum lagi berbagai bentuk perayaan dan permainan rakyat yang telah dipersiapkan setiap desa, lembaga pendidikan dan berbagai instansi pemerintah serta swasta lainnya. Pelaksanaan karnaval, pawai dan berbagai hiburan lainnya dilakukan di banyak tempat. Doorprice yang menggiurkan juga disediakan pada acara panjat pinang yang merupakan kegiatan wajib di 17-an.

Pastinya nominal rupiah yang dikeluarkan dalam melaksanakan serentetan agenda 17-an bukan sedikit. Lalu, apakah manfaatnya dihabiskan uang untuk itu semua? Atau 17-an hanya menjadi ajang menghabiskan duit negara saja. Pertanyaan yang menggelitik hati dan pikiran adalah, apakah itu kemerdekaan? Apakah setelah Agustus berlalu kita akan bahagia sebagaimana dirasakan setiap orang yang merasa merdeka? Bagaimana sebenarnya kemerdekaan yang diinginkan seluruh rakyat Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan?

Karut marut pendidikan

Berbicara pendidikan sebagai suplemen penting bagi anak bangsa, ada perasaan miris yang menghinggapi sanubari kita. Bagaimana bisa kuat dan stabil sebuah negara jika pendidikan negara tersebut masih belum menemukan jati dirinya. Lembaga pendidikan baik itu lembaga pendidikan agama maupun pendidikan umum mulai dari tingkat dasar sampai ke perguruan tinggi merupakan "pabrik" tempat melahirkan sumber daya manusia ke depan. Rusak dan bahkan hilangnya peradaban suatu negara akan dimulai dari melemahnya sumber daya manusia yang ada di negara tersebut.

Dalam Undang-Undang ditegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran. Namun, faktanya harus diakui bahwa sampai saat ini pendidikan kita masih penuh dengan berbagai permasalahan. Belum meratanya pendidikan yang bagus dan berkualitas di seluruh Indonesia memunculkan problem besar saat sistem zonasi diterapkan. Selain itu masih sangat banyak anak-anak Indonesia yang putus sekolah hanya karena keterbatasan dana atau transportasi menuju sekolah. Banyak anak usia sekolah yang terpaksa atau dipaksa mencari nafkah di jalanan pada jam sekolah.

Pendidikan karakter yang mulai diterapkan di Indonesia beberapa tahun lalu, bahkan telah masuk dalam kurikulum juga masih dianggap gagal. Hal ini terbukti masih banyaknya dekadensi moral di kalangan anak usia sekolah. Model sekolah berasrama yang tidak aman bagi anak ataupun program full day yang belum ramah anak masih menghantui negara ini. Anak masih terkesan "dipenjara" sambil menunggu orangtuanya pulang kerja dan menjemput mereka. Ekstrakulikuler yang ada di sekolah juga belum benar-benar mencerminkan bakat minat anak. Malah banyak sekolah yang meminta anak untuk memilih ekstrakulikuler yang telah ditetapkan sekolah tanpa peduli apakah itu sesuai atau tidak dengan bakat minat si anak.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved