Opini
Kebermaknaan Hidup
Maka kebermaknaan hidup bersifat personal dan subjektif, namun kebermaknaan hidup berorientasi pada sesuatu yang positif
Oleh Adnan, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh
Setiap orang pasti ingin memperoleh kebermaknaan hidup. Yaitu bermakna bagi diri, keluarga, dan sosial. Sebab, satu keunikan manusia adalah ingin menjaga eksistensi diri dengan mengeksplorasikan segala potensi yang dimiliki.
Ketika manusia mampu mengeksplorasi seluruh potensi tersebut akan merasa kebermaknaan hidup. Maka kebermaknaan hidup bersifat personal dan subjektif, namun kebermaknaan hidup berorientasi pada sesuatu yang positif. Mustahil kebermaknaan hidup cenderung kepada sesuatu yang negatif, destruktif, dan amoral.
Konsep kebermaknaan hidup (meaning of life) digagas oleh Frankl dengan teorinya bernama logotherapy. Sebuah aliran psikologi yang meyakini adanya dimensi rohani atau spiritual dalam diri seseorang yang terlihat dari ekspresi diri. Mulanya gagasan ini muncul dari pengalaman hidup Frankl di sebuah kamp pembantaian Hitler. Ketika itu, ia berpendapat bahwa kehidupan yang sesungguhnya tatkala hidup penuh makna. Menurut Ancok, kebermaknaan hidup merupakan motivasi pendorong untuk berbuat sesuatu yang positif dan berguna bagi individu lain (Aisyah, 2007). Sebab, sebagai makhluk sosial hidup seseorang tidak akan terlepas dari hidup orang lain.
Untuk itu, apa pun status sosial seseorang dapat memperoleh kebermaknaan hidup. Pendidik akan merasa bermakna hidupnya tatkala mendidik dengan penuh ketulusan dan kebahagiaan. Jurnalis akan merasa bermakna hidupnya tatkala mampu menyajikan berita yang aktual dan faktual bagi pembaca. Pedagang akan merasa bermakna hidupnya tatkala mampu melayani konsumen dengan penuh kejujuran.
Penceramah akan merasa bermakna hidupnya tatkala mampu menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar. Dan, pejabat akan merasa bermakna hidupnya tatkala mampu mencurahkan segala potensi untuk mensejahterakan masyarakat. Maka kebermaknaan hidup merupakan orientasi setiap manusia dalam pergulatan hidup.
Sumber kebermaknaan
Sebab itu, Schultz (1991) mengemukakan tiga nilai yang merupakan sumber kebermaknaan hidup seseorang. Pertama, nilai-nilai cipta dan kreatifitas (creative values). Hal ini menunjukkan bahwa kebermaknaan hidup seseorang diperoleh dari hasil karya, cipta, dan kreasi yang dimiliki. Artinya, seseorang akan merasa hidupnya bermakna tatkala dapat terlibat dalam mengkaryakan dan menciptakan sesuatu yang kreatif dan inovatif sehingga dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Maka tatkala hasil karya itu berguna dan dimanfaatkan oleh orang lain, pada saat itulah muncul kebermaknaan hidup pada diri seseorang.
Selain itu, seseorang yang memiliki kebermaknaan hidup dengan nilai cipta dan kreatif tercermin dari sikap dan cara melibatkan diri dalam pekerjaannya. Semisal, sebuah pekerjaan akan dikerjakan dengan senang hati, bahagia, optimistis, ramah, profesional, dan bekerja di atas standar. Hal itu dilakukan untuk memperoleh kebermaknaan hidupnya. Maka seseorang yang acuh tak acuh, malas, dan ceroboh dalam bekerja menunjukkan ia belum mendapatkan kebermaknaan hidup dalam pekerjaan tersebut. Akibatnya, ia bekerja seenaknya, asal-asalan, tidak berkualitas dan bekerja di bawah standar.
Kedua, nilai-nilai penghayatan (experiental values) yaitu kebermaknaan hidup yang diperoleh dengan mencoba memahami, menghayati, dan meyakini nilai-nilai yang terhampar dalam kehidupan, semisal kebenaran, keindahan, kesempurnaan, keadilan, kasih sayang, kesyukuran, dan keimanan. Semisal, sebagai makhluk sosial seseorang akan merasa bermakna hidup ketika saling berkasih sayang dengan sesama.
Seorang ahli ibadah akan merasakan kebermaknaan hidup tatkala dekat dengan Allah swt, sehingga ia berusaha sekuat tenaga agar kewajiban kepada Allah swt selalu tertunaikan. Ketika seseorang sudah merasakan kebermaknaan hidup dengan ibadah, maka ia ingin berlama-lama di tempat sujud. Hal ini persis seperti para sufi yang selalu menjadikan hamparan alam semesta sebagai media untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah swt.
Selain itu, manusia beriman akan memperoleh kebermaknaan hidup tatkala mampu mensyukuri pemberian Allah Swt (Qs. Ibrahim: 7). Yaitu menempatkan pemberian Allah swt pada tempat yang diridhai-Nya. Sehingga dalam kondisi apapun ia akan tetap berprasangka baik (huznuzhan) kepada Allah swt. Tatkala memperoleh kenikmatan ia akan bersyukur, dan tatkala mendapatkan musibah ia bersabar. Sungguh kedua sikap tersebut yang membuat kebermaknaan hidup pada diri manusia beriman.
Sesuai sabda profetik: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, apabila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka yang demikian itu kebaikan baginya. Dan, apabila tertimpa kesusahan, ia pun bersabar, maka yang demikian itu kebaikan baginya" (HR Muslim).
Maka penghayatan merupakan sumber penting dalam memperoleh kebermaknaan hidup. Di sinilah diperlukan kecerdasan nalar dan spiritual untuk mengkaji dan menelaah (tafakkur) alam jagat raya. Dari sanalah lahir manusia yang sempurna (insan kamil) sehingga memperoleh kebermaknaan hidup. Sebab itu, banyak nilai-nilai yang dapat dihayati, dipahami, dan diyakini agar membuat seseorang memiliki kebermaknaan hidup. Karena hidup yang sesungguhnya tatkala mampu merasakan kebermaknaan hidup.
Ketiga, nilai-nilai sikap (attitudinal values) yaitu kebermaknaan hidup yang diperoleh dalam bersikap ketika berada dalam kondisi tertentu. Semisal, sikap tabah yang dimiliki seseorang tatkala berada dalam kondisi tidak menguntungkan, dan selalu mengambil hikmah atas setiap kondisi yang dialami (Qs. Ali Imran: 191). Sebab, kehidupan dunia merupakan kehidupan yang penuh lika-liku, hambatan dan rintangan, cobaan, dan ujian. Tidak ada satu pun manusia yang menjalani kehidupan dunia, termasuk para Nabi dan Rasul, yang tidak mengalami cobaan dan ujian.
Bahkan, ujian dan cobaan akan diberikan sesuai dengan kadar keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang maka akan semakin berat ujian yang diterima. Sebab itu, para Nabi dan Rasul merupakan orang-orang yang paling berat menerima cobaan dan ujian (Qs. Al-Baqarah: 285). Semisal, Nabi Nuh as menghadapi umat yang sangat biadab dan tidak patuh, serta keluarganya yang ingkar. Nabi Musa as yang berhadapan dengan Fir'aun, nabi Ibrahim as berhadapan dengan raja Namruz hingga dilemparkan ke dalam api, nabi Ayub as diuji dengan sakit parah, Nabi Muhammad Saw diuji dengan kejahiliyahan umat, dan lain-lain.
Akan tetapi, ketika semua ujian dan cobaan, hambatan dan rintangan, dan lika-liku kehidupan diterima dengan tabah dan sabar. Bahkan selalu mencari hikmah dari setiap cobaan yang ditimpakan dan selalu berprasangka baik kepada-Nya, saat itulah seseorang akan memperoleh kebermaknaan hidup. Berbeda dengan orang-orang yang suka menghujat cobaan dan ujian, mereka tidak akan memperoleh kebermaknaan hidup dalam setiap musibah.
Sebab, mereka menganggap musibah adalah wujud kebencian Allah swt kepadanya (Qs. Al-Fajr: 15-16). Padahal, satu kebermaknaan hidup akan diperoleh tatkala menganggap musibah adalah bukti cinta Allah swt kepada seorang hamba (Qs. Al-Ankabut: 2-3).
Sebab itu, semakin menyadari bahwa yang paling urgen dalam kehidupan seseorang adalah kebermaknaan hidup. Bukan harta yang melimpah yang dicari, tapi kebermaknaan harta. Bukan jabatan tinggi yang dikejar, tapi kebermaknaan jabatan. Harta dan jabatan hanyalah bunga-bunga kehidupan (zahrah al-hayah ad-dunya). Pun, bukan hanya keluasan ilmu, tapi kebermaknaan ilmu yang dipelajari. Ilmu akan bermakna tatkala beorientasi untuk beramal, bukan untuk menyombongkan diri. Maka setiap orang pasti menginginkan kebermaknaan hidup. Hidup akan terasa hampa tatkala hidup tak bermakna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/adnan-dosen-bimbingan-konseling-islam.jpg)