16 Balita Terkapar Bakteri E. coli Penyebab Diare

Tim Dinas Kesehatan (Dinkes) Bener Meriah memastikan bahwa air yang dikonsumsi warga di Kampung Burni Pase

FOTO: DINAS KESEHATAN BENER MERIAH
DIARE - Seorang balita yang mengalami diare dirawat di Puskesmas Buntul Kemumu, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Minggu (25/8/2019). 

REDELONG -  Tim Dinas Kesehatan (Dinkes) Bener Meriah memastikan bahwa air yang dikonsumsi warga di Kampung Burni Pase, Kecamatan Permata, mengandung bakteri Escherichia coli atau biasa disingkat E. coli. Bakteri inilah yang menyebabkan puluhan balita terkapar karena menderita diare. 

Sebagaimana diketahui, setidaknya 18 warga Burni Pase dalam sepekan ini terjangkit diare. Umumnya diderita balita, yakni mencapai 16 orang. Dua orang lagi dewasa. Dinkes setempat bahkan harus merujuk empat bayi di bawah lima tahun itu untuk dirawat di RSUD Muyang Kute. Bupati Bener Meriah juga sudah menetapkan kondisi ini menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kepala Dinas Kesehatan Bener Meriah, Iswahyudi, kepada Serambi,  Minggu (25/8), mengatakan, setelah kasus diare mewabah, pihaknya mengambil sampel air yang dikonsumsi warga pada Sabtu (24/8)  siang. Lalu, dilakukan pengujian di laboratorium milik Dinas Kesehatan setempat.  Pada Minggu (25/8)  siang, hasil pun diperoleh. "Kita sudah lakukan uji laboratorium dan ternyata air di sana positif mengandung E. coli atau sudah tercemar," kata Iswahyudi.

Dikatakan, kehadiran bakteri E. coli merupakan indikator bahwa air tersebut tercemar. “Ternyata setelah kita cek di sana warga tidak memiliki sanitasi untuk limbah manusia. Air limbah hanya mengalir di permukaan tanah dan tergenang. Itu kan sangat cepat sekali menularkan penyakit," ucap Iswahyudi. Selama ini warga Burni Pase menggunakan jamban cemplung.  Jamban semacam ini jelas tidak memenuhi standar kesehatan. Karena terbuka, lalat dan kecoa bebas ke luar-masuk jamban, kemudian bisa saja hinggap di makanan.

"Biasanya lalat suka hinggap pada air yang tergenang limbah manusia, lalu hinggap di makanan. Makanya kami menduga penyebab diare akibat cara hidup masyarakat yang tidak bersih," tegasnya.

Terkait sumber air, kata dia, berasal dari gunung.  Warga di gampong tersebut menggunakan air gunung untuk konsumsi dengan cara mengalirkan ke rumah-rumah menggunakan selang.  Hari ini, warga Kampung Burni Pase dijadwalkan bergotong royong membersihkan lingkungan, sehingga jauh dari zat dan bakteri pencemar.  Sementara Dinas Kesehatan setempat akan melakukan desinfektan air, yakni

membunuh kuman atau bakteri patogen yang ada di dalam air.(c51)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved