Opini

Memerdekakan Peserta Didik  

William Butler Yeats (Poet, 1865-1939). Kalimat di atas disebut-sebut berasal dari seorang penyair berkebangsaan Irlandia

Memerdekakan Peserta Didik   
IST
SYAMSUL BAHRI, M.A., Guru MAN 2 Banda Aceh, Peneliti LSAMA Aceh

Oleh Syamsul Bahri, MA

Guru MAN 2 Banda Aceh, Peneliti LSAMA Aceh

Education is not filling a pail but the lighting of a fire; William Butler Yeats (Poet, 1865-1939). Kalimat di atas disebut-sebut berasal dari seorang penyair berkebangsaan Irlandia, W.B. Yeats (1865-1939). Terjemahan leterlek yaitu "Pendidikan itu bukan sedang mengisi ember tapi menyalakan api."

Secara ringkas, ada dua pernyataan dapat diambil dari kalimat tersebut; yang pertama, "pendidikan bukan sedang mengisi ember," dan yang kedua, "melainkan sedang menyalakan api." Dua adagium yang berlawanan, dan memiliki makna yang sangat berbeda.

Karena terdapat distingsi yang berlawanan, sehingga pengaplikasian dua kalimat itu pun akan jauh berbeda, dan pada akhirnya menciptakan hasil yang berbeda pula. Ketika kalimat pertama dimaknai, maka akan nampak bahwa peserta didik diibaratkan sebuah ember ataupun botol yang siap di isi air. Air yang di isi, akan sama jenis dan rasanya dengan air yang telah terisi (dalam ember). Dengan kata lain, proses pendidikan seperti ini tidak jauh berbeda dengan istilah indoktrinasi pendidikan, yaitu memberikan ajaran secara mendalam tanpa kritik dengan proses monoton ataupun satu arah. Seperti ada satu acuan (cetakan) kue, adonen kue akan berbentuk seperi acuan tersebut.

Proses pendidikan seperti ini tidak akan memerdekakan peserta didik, melainkan akan menghambat perkembangan intelektualitas mereka. Mengapa? Karena guru menciptakan peserta didik sesuai keinginannya, bukan sesuai dengan bakat dan potensi mereka sendiri.  Jika sudah seperti ini, anak didik dapat diproyeksikan sebagai diri guru itu sendiri, bukan sebagai generasi yang hidup untuk masa depan.

Terkait hal ini ada satu ungkapan Ali Bin Abi Thalib, yaitu, "Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu." Jelas sekali, di sini anak didik yang didik dengan cara indoktrinasi, seperti mencetak karakter dan intelektualitas guru itu sendiri, bukan menciptakan mereka untuk zamannya.

Dalam hal ini, proses pendidikan tidak akan mencapai hasil yang maksimal, dan generasi masa depan akan minim kreativitas dan terus-terusan menjadi generasi konsumtif. (baca: Quo Vadis Pendidikan Kita, Serambi Indonesia 03/ 06-2019).

Ada pun pernyataan kedua, "tetapi sedang menyalakan api." Secara sederhana menyalakan api berarti memberikan cahaya, atau untuk menerangkan. Dapat pula diterjemahkan sebagai suatu proses pendidikan yang menciptakan peserta didik untuk masa depan lebih baik, untuk mencerahkan masyarakat, memajukan daerah dan negara. Memberikan hal baru, menciptakan produk baru yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, proses pendidikan pun harus seperti menyalakan api.

                                                                                                                           Menyalakan apiapi

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved