Jurnalisme Warga

Berkaca pada Ketangguhan Masyarakat Lancang Paru

GAMPONG Lancang Paru yang berada di Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay) merupakan desa penghasil garam

Berkaca pada Ketangguhan Masyarakat Lancang Paru
IST
ASWADI LAPANG, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Jaya dan Ikatan Alumni Magister Ilmu Kebencanaan (Ikamik) Unsyiah, melaporkan dari Pidie Jaya

OLEH ASWADI LAPANG, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Jaya dan Ikatan Alumni Magister Ilmu Kebencanaan (Ikamik) Unsyiah, melaporkan dari Pidie Jaya

GAMPONG Lancang Paru yang berada di Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay) merupakan desa penghasil Jurnalisme Warga. Di gampong ini ada dua cara memproduksi garam, yaitu dengan cara memasak dan menjemur. Selain memproduksi garam, mata pencaharian utama masyarakat Lancang Paru adalah nelayan tradisional. Hanya beberapa orang saja warga Lancang Paru yang bekerja di pemerintahan.

Lancang Paru juga salah satu gampong yang dihantam bencana tsunami tahun 2004 dan kemudian diguncang gempa darat pada tahun 2016.

Saya sebagai staf DRR di Yayasan PKPA dalam Program Resilient Aceh ingin mengetahui dampak dari bencana gempa darat terhadap masyarakat Lancang Paru pada Desember tahun 2016, bagaimana cara mereka menyelamatkan diri dalam gelap gulita akibat terputusnya arus listrik, dan apa saja kebutuhan yang diperlukan masyarakat untuk mendukung lahirnya desa tangguh bencana.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa warga setempat tentang bencana yang telah dialami, ternyata saat tsunami tahun 2014 ada beberapa orang warga Lancang Paru yang meninggal. Korban meninggal karena lanjut usia, sedang terbaring karena sakit di rumah, dan satu lagi korbannya adalah orang yang berkebutuhan khusus. Sedangkan pada saat gempa bumi tahun 2016 tidak ada korban jiwa di desa ini. Hanya  beberapa warga yang terluka.

Sebenarnya kesiapsiagaan masyarakat pada saat gempa bumi darat tahun 2016 masih kurang. Buktinya, warga tidak melindungi kepala, banyak yang terjebak oleh perabotan rumah tangga, kemudian terlalu dini melakukan evakuasi tanpa memperhatikan efek daripada evakuasi dini sebelum adanya peringatan dini. Oleh karena itu, peringatan dini sangat penting untuk menghindari jatuhnya korban pada saat evakuasi, antara lain, seperti saling mendahului pada akhirnya terjadi tabrakan, serangan jantung, kemalingan, kebakaran, dan lain-lain.

Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, kami gelar workshop tentang pengembangan rencana aksi desa. Pesertanya adalah perwakilan dari perangkat desa, perwakilan pemuda, perwakilan petani garam, perwakilan perempuan, dan perwakilan kader kesehatan desa. Hasil dari workshop tersebut lahir organisasi desa yang membicarakan tentang isu pengurangan risiko bencana, adanya jalur evakuasi, adanya alat peringatan dini baik modern maupun berbasis kearifan lokal, serta tersedianya perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

Selang beberapa hari setelah workshop, saya langsung menyusun struktur keanggotaan yang berjumlah 30 orang sebagai pengurus. Masyarakat yang terlibat dalam pengurus organisasi desa dalam isu pengurangan risiko bencana adalah perwakilan dari unsur-unsur yang tersebut di atas serta masyarakat yang sudah pernah terlibat dalam berbagai organisasi lainnya maupun yang sudah berpengalaman dalam hal pengurangan risiko bencana. Setelah pengurus terpilihnya, organisasi tersebut kami beri nama Tim Siaga Bencana Gampong (TSBG) dan sekalian saya buat strukturnya. Terdiri atas ketua umum, sekretaris, dan bendahara. Kemudian, kami susun bidang-bidangnya, yaitu bidang early warning system (EWS), bidang evakuasi, bidang kesehatan, dan bidang logistik. Setiap bidang mempunyai ketua dan anggota.

Kemudian kami susun draf standard operating proceduru (SOP) sebagai suatu gambaran terstruktur dan tertulis tentang langkah-langkah yang telah disepakati bersama oleh seluruh komunitas masyarakat di Lancang Paru yang menjadi pengurus Tim Siaga Bencana Gampong tentang siapa yang melakukan apa, saat kapan, di mana, dan bagaimana pelaksanaannya. 

Prosedur dibutuhkan saat pelaksana  kegiatan yang terdiri atas berbagai  komunitas masyarakat di Lancang Paru dan menjadi pengurus Tim Siaga Bencana Gampong  yang  memiliki  kewenangand4 otonom dan kegiatan tersebut menuntut waktu yang singkat untuk direspons. Dalam  penanggulangan  bencana  yang  memiain liki  waktu  tanggap  singkat  seperti  gempa dan tsunami, prosedur merupakan suatu keharusan hinggs24 a dapat memintas jalur koordinasi dan mempercepat upaya penanganan demi memperkecil risiko yang mungkin timbul.

Tujuannya adalah untuk menghimpun kekuatan yang tersedia dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga gampong dalam pelaksanaan kesiapsiagaan dan penanganan darurat bencana, khususnya bencana tsunami di Gampong Lancang Paru Kecamatan Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya, mempersingkat waktu tanggap khususnya pada masa-masa krisis yang waktunya relatif singkat, dan mengurangi dampak negatife akibat bencana yang timbul secara cepat, tepat, efektif, dan efisien dengan menggunakan sumber daya internal.

Prosedur   dasar   yang   digunakan   untuk   menyusun   prosedur   ini   adalah SOP bencana gempa bumi berpotensi tsunami Kota Banda Aceh. Setelah draf SOP rampung kemudian draf tersebut saya bawa ke BPBD Pidie Jaya yang diterima oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan untuk “dibedah” sebelum SOP itu difinalisasi.

SOP telah tersedia, kemudian masyarakat yang akan menjadi pengurus Tim Siaga Bencana Gampong (TSBG) kami buat kegiatan finalisasi SOP dan penyusunan Tim Siaga Bencana Gampong. Kegiatan ini kami lakukan dua hari, mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Pada hari pertama finalisasi SOP dan pada hari kedua pemilihan ketua umum, ketua bidang, dan susunan anggota Tim Siaga Bencana Gampong sekaligus pengukuhan yang dilakukan oleh Kalaksa BPBD Pijay. Kegiatan ini dihadiri oleh Pengurus Tim Siaga Bencana Gampong yang sudah terpilih, PMI Kabupaten Pidie Jaya, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Pijay, Muspika Kecamatan Bandar Baru, dan dihadiri beberapa wartawan.

Hasil dari kegiatan tersebut adalah adanya satu SOP bencana gempa bumi berpotensi tsunami untuk Gampong Lancang Paru dan Pengurus Tim Siaga Bencana Gampong Lancang Paru. Selanjutnya kami gelar pelatihan kepada Tim Siaga Bencana Gampong tentang pelatihan pertolongan pertama dan pos pengungsian. Untuk pertolongan pertama pematerinya dari Markas PMI Pijay dan untuk pos pengungsian kami hadirkan pemateri dari BPBD Pijay.

Sebagaimana kita ketahui, pertolongan pertama yaitu pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera/kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar. Medis dasar adalah tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam atau awam yang terlatih secara khusus. Pelaku pertolongan pertama adalah penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar. Semoga Tim Siaga Bencana Gampong Lancang Paru yang telah dilatih dapat menjadi agen dalam pengurangan risiko bencana, baik di gampongnya maupun di gampong-gampong lainnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved