Opini

Aceh Butuh Percepatan Syariat Islam

Era milenial seperti sekarang ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi dengan berkembangnya media internet mempercepat akses informasi

Aceh Butuh Percepatan Syariat Islam
IST
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Oleh M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Era milenial seperti sekarang ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi dengan berkembangnya media internet mempercepat akses informasi dan teknologi bagi kemajuan bangsa, namun di sisi yang lain, masuknya budaya luar yang bertitik balik pada merosotnya moral dan ahklak manusia.

Pada masa kelasik, anak-anak ketika keluar dari rumah hanya akan melihat hutan dan alam, sekarang di dalam rumah sekalipun seorang anak dapat melihat dunia melaui medsos, youtube, atau game online. Efek baliknya, budaya luar akan mempengaruhi pola fikir anak baik cara berbicara, gaya hidup, bahkan ideologinya. Ini merupakan tantangan orantua dan lembaga sosio-keagamaan dalam mendidik dan membina anak zaman milenial.

Banda Aceh sebagai sebuah kota syariat Islam seharusnya memiliki masyarakat dan lingkungan yang penuh akan kesadaran terhadap identitas nilai-nilai syariat, tapi realitas hari ini tidak sedikit warga Kota banda Aceh baik lingkungan mahasiswa atau masyarakat umum yang melanggar batas-batas ajaran Islam. Padahal, visi Kota Banda Aceh adalah menjadi basis terciptanya kota gemilang dalam bingkai syariat.

Jika dianalisa dan diobservasi lebih lanjut, fenomena ini terjadi karena belum pahamnya masyarakat terhadap nilai syariat Islam secara kaffah. Masyarakat memiliki pemahaman keislaman yang terkotak-kotak sehingga butuh sebuah mediasi untuk saling mensinergikannya.

Pada lingkungan pelajar yang duduk di bangku SMA bahkan SMP, dampak pergaulan bebas sangat memprihatinkan. Berlakunya sistem pendidikan uni-sex (menggabungkan siswa lelaki dan perempuan dalam satu kelas) menjadikan siswa lebih fokus menghabiskan waktu untuk menarik perhatian lawan jenisnya daripada serius pada belajar-mengajar. Fenomena ini dapat terlihat dari karakter siswa yang ingin selalu tampil beda, gaul, dan populer di kalangannya. Padahal, ada beberapa sekolah di Aceh yang menganut sistem terpisah, yaitu Fatih Bilingual School, dan beberapa dayah pada umumnya.

Bila melihat pada lingkungan kampus, gaya hidup mahasiswa diwarnai dari intensitas mereka yang hobi nongkrong di warung kopi (warkop). Warkop di Aceh memang sudah menjadi trend dan kebiasaan pusat ngumpul masyarakat, sehingga layak Aceh dijuluki; negeri sejuta warung kopi.

Identitas ini sejatinya tidak terlalu buruk, masalah selanjutnya adalah hampir 80% waktu mahasiswa dihabiskan di warkop dari pagi hingga petang bahkan malam. Corak ini tentu bertentangan dengan hakikat bangsa Aceh tempo dulu yang menjadikan masjid atau menasah sebagai pusat pertemuan dan mufakat.

Problema warung kopi tidak hanya berhenti di ranah itu, mahasiswa dengan layanan wifi gratis hanya fokus menghabiskan waktunya untuk memainkan game online. Padahal, MPU Aceh telah menfatwakan; salah satu game online haram dimainkan di Aceh karena dapat merusak moral dan psikologi remaja.

Gejolak ini tentu sangat meresahkan, apalagi mahasiswa pada umumnya adalah pelajar perantauan yang jauh dari kontrol dan pengawasan orangtua masing-masing. Biaya yang dikirim untuk kuliah disalahgunakan dengan budaya yang tidak sepatutnya, sehingga tidak jarang, bagi mahasiswa demikian akan telat selesai kuliah bahkan berhenti di tengah jalan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved