Mihrab

Memperkuat Ukhuwah di Bulan Muharram

PERSATUAN dan kesatuan bangsa Indonesia di awal-awal kemerdekaan masih belum kuat seperti sekarang

Memperkuat Ukhuwah di Bulan Muharram
IST
Tgk Habibi Muhibuddin Waly

PERSATUAN dan kesatuan bangsa Indonesia di awal-awal kemerdekaan masih belum kuat seperti sekarang. Selain gangguan dari luar, perselisilan juga datang dari dalam, khususnya di kalangan umat Islam, seperti pemberontakan DI/TII.

Kondisi ini membuat Presiden pertama RI, Ir Soekarno mencari cara bagaimana memperkuat ukhuwah. Saat itulah, Soekarno meminta bantuan seorang ulama KH Wahab Hasbullah untuk mencari sebuah motode efektif untuk memperkuat ukhuwah antarsesama.

Solusi yang diberikan saat itu harus saling bersilaturahmi. Namun Soekarno mengaku sudah cukup sering mendengar istilah silaturahmi. Dia lantas meminta metode lain yang lebih efektif untuk diadopsi demi mempersatukan umat. KH Wahab Hasbullah akhirnya menjawab, kalau begitu kita buat acara yang diberi nama halal bihalal.

Demikian sekelumit kisah disampaikan Mudir (Pimpinan) Dayah Al Waliyah, Lamreung Darul Imarah, Aceh Besar, Tgk Habibi Muhibuddin Waly, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Kantor LKBN Antara Biro Aceh, Rabu (28/8) malam.

Tgk Habibi menjelaskan, asal usul istilah halal bihalal sekarang diadakan oleh umat Islam di Indonesia, berasal dari KH Wahab Hasbullah.

Bagaimana cara halal bihalal jatuh setelah Muharram. Ketika perjumpaan antara Soekarno dengan ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut itu pada bulan Ramadhan. Sehingga pada 1 Syawal dilaksanakanlah acara itu.

Dalam perjalanan, halal bihalal menjadi tradisi umat muslim di Indonesia yang selalu diperingati setelah hari raya. Makin ke sini, dirinya melihat peringatan halal bihalal mulai sepi. Kenapa demikian? Karena ada kelompok-kelompok sangat terang menjelaskan kegiatan tersebut bid'ah. Padahal itu penting sekali.

"Maka tidak perlu tunggu Muharram, kita mulai saja sekarang memperkuat ukhuwah. Semisal saya bertemu anda di jalan. Apakah ada salam atau tidak," terangnya.

Tgk Habibi mengungkapkan, Muharram merupakan bulan dimana banyak sekali peristiwa aneh dan besar dalam sejarah yang terjadi. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat At-Taubah Ayat 36 yang artinya, "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram".

Di antara 12 bulan dalam setahun, Allah SWT memuliakan beberapa bulan, yang oleh ayat Surat At-Taubah disebut sebagai arba'atun hurum (empat bulan yang suci).

Nah ketika Sahabat bertanya, ya Rasululah apa maksud dari arba'atun hurum? Rasul menjawab, di antara empat bulan yang haram itu adalah Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Maka Muharram adalah satu bulan yang disucikan oleh Allah.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved