Opini

Kita Kehilangan Etika-Estetika

Buktinya sejak berabad yang lalu masyarakat Aceh sudah terkenal memiliki dan penyumbang nilai keadaban yang tinggi

Kita Kehilangan Etika-Estetika
IST
Ishak Hasan, Dosen Unsyiah, ditugaskan di UTU

Oleh Ishak Hasan, Dosen Unsyiah, ditugaskan di UTU

Tulisan ini tidak ingin mengatakan bahwa orang Aceh tidak memiliki etika dan estetika. Buktinya sejak berabad yang lalu masyarakat Aceh sudah terkenal memiliki dan penyumbang nilai keadaban yang tinggi, baik dari segi kearifan lokal, kekayaan seni dan budaya, nilai religius keislaman yang kuat yang telah lama tertanam di bumi Aceh, nilai kejuangan dalam memerdekan bangsa dari penjajahan asing dan keramahan dalam menerima orang luar yang datang ke Aceh.

Masih banyak nilai-nilai positif lainnya yang telah menjadi perekat dalam membangun bangsa Indonesia. Akan tetapi akibat konflik dan bencana alam skala besar di Aceh, juga faktor keterbukaan informasi yang sangat masif mengalami dan banyak terjadi pergeseran, bahkan tergradasinya nilai-nilai yang telah lama ada dalam masyarakat. Degradasi nilai menyebabkan beberapa sisi kehidupan masyarakat  Aceh menjadi pudar.

Dikhawatirkan jika hal ini berlangsung lama maka bukan tidak mungkin masyarakat Aceh semakin susah untuk maju, bahkan semakin tertinggal dengan bangsa-bangsa beradab lainnya di muka bumi ini. Tabiat-tabiat buruk yang muncul tersebut dapat ditarik ke dalam dua aspek besar yaitu, aspek Etika dan Estetika. Aspek etika lebih kepada akhlak yang ditampilkan masyarakat Aceh dalam keseharian mereka ketika mereka berinteraksi dengan orang lain, dengan aturan hukum, dan entitas lainnya.

Misalnya etika dan kepatuhan dalam berlalu lintas, etika dalam mengedepankan kepentingan-kepentingan pribadi daripada kepentingan umum, menyerobot dan menggunakan tanah negara tanpa izin, tingginya kasus korupsi, narkotika, merasa tidak berdosa ketika mengurangi kualitas barang-barang publik dan lainnnya. Demikian juga dari aspek estetika terlalu banyak untuk ditampilkan di sini.

Aspek estetika lebih kepada penghayatan masyarakat untuk nilai-nilai keindahan, keteraturan, dan keserasian, baik dalam seni bertutur kata, keindahan dan keteraturan fisik, keserasian interaksi dengan lingkungan dan lainnya. Aspek ini juga sangat mudah ditemui di seluruh wilayah Aceh, termasuk di pusat peradaban Aceh, Kota Banda Aceh.

Ketika kita rajin melayangkan pandangan ke hal-hal yang menyimpan nilai-nilai tersebut tidaklah terlalu sulit untuk dilihat. Lihat saja seperti halaman-halaman toko dan pasar di Kota Banda Aceh sangat sedikit yang tertata rapi, parkir sembarangan, pasar-pasar tradisional hampir semuanya kotor dan menebar aroma yang tidak sedap. Lihat saja pasar ikan, ayam, daging buang sayuran, hampir semuanya kotor.

Hampir tidak ada satu pun pasar tradisional di Aceh yang bisa ditunjuk sebagai contoh yang bagus bagi orang luar yang ingin menyaksikan sebagai pencerminan bahwa pelakunya adalah mayoritas umat Islam yang baik. Saya sering mengatakan pada mahasiswa sebagai contoh untuk menyentakkan nalar mereka agar bisa bisa memberi contoh yang terbaik di masa depan, adalah bahwa pasar ikan, pasar daging dan pasar ayam yang paling jorok di atas muka bumi ini adalah pasar Peunayong.

Mahasiswa saya malah terkejut ketika saya mengatakan seperti itu, tetapi mereka menjadi percaya ketika mereka melihat dengan mata kepala sendiri bersama dengan teman-temannya bahwa di alam nyata memang kondisi pasarnya sangat memprihatinkan. Selain itu banyak pedagang kecil lainnya yang penuh sesak menggelar dagangannya sekitran pasar tersebut. Jalan-jalan menjadi sempit.

Hampir semua pasar di seluruh Aceh tidak ada yang nyaman indah bernilai seni. Yang ada adalah potret buram yang kurang sedap dipandang mata. Nilai estetika lainya dengan sangat mudah kita melihat di seluruh wilayah Aceh, di mana pinggran jalan raya semakin sempit, pembatas-pembatas jalan dirusakkan untuk didiriikan kios dan ruko. Lihat saja di kawasan Lhoknga seperti tidak ada yang bersalah ketika orang-orang membuka lapak dagangannya di pinggiran dan bahkan sudah mengambil badan jalan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved