Salam

Semoga Layanan Kabinet Nova Lebih Memuaskan  

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Senin (2/9) merombak jajaran kabinetnya mulai dari eselon II, III, dan IV dengan total pejabat

Semoga Layanan Kabinet Nova Lebih Memuaskan   
Serambinews.com
Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, ,melantik 24 pejabat eselon II, Senin (2/9). 

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Senin (2/9) merombak jajaran kabinetnya mulai dari eselon II, III, dan IV dengan total pejabat yang mengalami pergeseran 547 orang. Khusus untuk eselon II, ada satu jabatan yang tak sempat terisi pada hari itu, yakni posisi Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) Aceh.

Jabatan Kepala ULP ini sebelumnya diduduki Irawan Pandu Negara. Dalam pelantikan pejabat kemarin, dia dimutasi sebagai Kepala Sekretariat Majelis Pendidikan Aceh (MPA). Pandu sendiri tidak hadir dalam pelantikan itu karena yang bersangkutan dikabarkan sedang berada di luar kota.

Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah MKes, mengatakan kekosongan Kepala ULP takkan berlangsung lama. Mengingat stok pejabat definitif hasil rekrutmen dua tahun lalu sudah habis, maka posisi Kepala ULP akan diisi pelaksana tugas (Plt). Untuk diketahui, dalam proses penjaringan dua tahun lalu ada dua nama yang terjaring, yakni Nizarli dan Irawan Pandu Negara. Namun dalam perjalanan, Nizarli mengajukan pengunduran diri, sehingga diangkat Pandu sebagai penggantinya.

Anggota Badan Anggaran DPRA, Iskandar Usman Al Farlaky berharap kekosongan jabatan kepala ULP segera diisi, agar proses tender paket proyek dari APBA 2019 bisa terkejar. ABila terlambat akan menimbulkan efek keuangan tidak baik sehingga akan menghasilkan Silpa (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) yang lebih banyak untuk APBA 2020,@ ujarnya.

Iskandar juga berharap proses mutasi bersar ini berdampak positif pada percepatan serapan dan realisasi fisik APBA. Selain itu juga dapat membangun sinergitas antara SKPA (Satuan Kerja Pemerintah Aceh) dengan legislatif dan stakeholder lainnya, serta mendesain program merakyat dengan turun langsung ke lapangan. AJadi, langkah ini harus mampu memberi dampak positif bagi peningkatan sektor ekonomi mikro dan makro masyarakat Aceh,@ katanya.

Nova Iriansyah mengatakan, tujuan mutasi ini untuk memaksimalkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dengan melahirkan inovasi dan gagasan gagasan kreatif yang sangat ditunggu tunggu masyarakat.

Ya, kreativitas lembaga pemerintah untuk menghasilkan inovasi layanan publik kian beragam. Namun, setiap inovasi pelayanan publik yang diciptakan penyelenggara negara harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Dan, di sini dibutuhkan birokrat‑birokrat yang berkompeten.

Menurut psikolog terkenal dunia berkebangsaan Amerika Serikat, David C Mc Clelland, kompetensi adalah karakteristik yang mendasar yang dimiliki seseorang yang berpengaruh langsung terhadap atau dapat memprediksikan kinerja yang sangat baik. David Mc Clelland berpendapat bahwa kompetensi ini ibarat Agunung es@, tempat keterampilan dan pengetahuan membentuk puncaknya yang berada di atas air. Bagian yang di bawah permukaan air tidak terlihat dengan mata, namun menjadi fondasi dan memiliki pengaruh terhadap bentuk dari bagian yang berada di atas air.

Untuk ukuran organisasi pemerintah di dawerah ini, kompetensi seorang pejabat antara lain berkaitan dengan kemampuan berupa pengetahuan, keterampilan, kecakapan, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk menjalankan tugas dan tanggungjawab yang diamanatkan kepadanya.

Maka, ketika Plt Gubernur Aceh berharap bahwa para pejabat yang baru dilantiknya itu bisa bekerja lebih baik ‑‑dengan penekanan pada lahirnya kreativitas dan inovasi dalam pelayanan publik‑‑ yang menjadi pertanyaan kita adalah, apakah semua pejabat itu memiliki kompetensi?

Akhirnya kita ingin ingatkan kembali bahwa tujuan reformasi birokrasi adalah membangun kepercayaan masyarakat (public trust building) dan menghilangkan citra negatif birokrasi pemerintahan. Sedangkan sasaran reformasi birokrasi adalah terwujudnya birokrasi yang bersih, efektif, efisien, produktif, transparan, dan terdesentralisasi.

Seperti dikatakan Nova Iriansyah, yang ditunggu‑tunggu masyarakat adalah perubahan pola pikir birokrat dari ingin dilayani menjadi pelayan yang menyenangkan masyarakat. Dari pola budaya santai, malas malasan dan tidak berdisiplin, menjadi pola budaya kerja keras, bersemangat, inovatif, kreatif, dan berdisiplin. Dari sistem tatakelola pemerintahan yang birokratik ke sistem pemerintahan bercorak bisnis/wirausaha. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved