Jurnalisme Warga

Kilas Balik Pacu Kude Tradisional Gayo

Tradisi pacuan kuda merupakan ekspresi nyata masyarakat Gayo dalam memperingati momen-momen tertentu

Kilas Balik Pacu Kude Tradisional Gayo
IST
NAZARUDDIN, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh dan alumnus Dayah Teungku Chiek Oemar Diyan, Aceh Besar, melaporkan dari Gayo

OLEH NAZARUDDIN, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh dan alumnus  Dayah Teungku Chiek Oemar Diyan, Aceh Besar, melaporkan dari Gayo

Tradisi pacuan kuda merupakan ekspresi nyata masyarakat Gayo dalam memperingati momen-momen tertentu. Kebiasaan ini telah terekam sebelum terjadinya ekspansi militer Belanda I ke Aceh pada tahun 1873. Berdasarkan tuturan turun-temurun masyarakat setempat, kebiasaan yang telah menjadi permainan rakyat tersebut dimulai sejak pertengahan tahun 1850. Bermula dari permainan yang sangat sederhana bahkan dianggap iseng (sebagaimana yang telah dialami bahwa pemenang lomba tidak mendapatkan hadiah), lalu menjadi suatu kebiasaan yang cukup membanggakan dan mengesankan. Tercatat  bahwa awal mula permainan  khas tanah  Gayo  ini   diadakan  di  Kampung   Bintang (sekarang menjadi Kecamatan Bintang) sekitar tahun 1850. Area ini terletak di sebelah timur pinggir Danau Laut Tawar. Kebiasaan ini biasanya dimainkan pascapanen atau dikenal dalam istilah lokal dengan istilah luwah berume atawa luwes belang (Rusdi, 2011). Saat  itu,  dengan  sengaja  para  pemuda menangkap  kuda sekitar menggunakan   kain karung (opoh kerung) untuk kemudian diadu kecepatan lajunya. Terlebih jika bertemu dengan sesama  pengendara   kuda   sebaya   lainnya,   mengajak   untuk   adu   kecepatan   adalah   sebuah keniscayaan. Panjang lintasan masa itu kurang lebih 1,5 km, memanjang searah garis pantai, sehingga dikenal dengan sebutan Pasir Bintang. Menariknya, para joki ketika itu tidak diperkenankan bertanding jika belum melepas bajunya. Semua terkesan cukup sederhana sekaligus sebagai ajang uji nyali. Meskipun kuda saat itu berfungsi sebagai alat  transportasi,  memburu, dan  membajak, namun kerap  dimainkan  sebagai ajang hiburan rakyat.   Lambat   laun,   kuda   pilihan  terbaik dijadikan sebagai kuda pacu meski nantinya membutuhkan perawatan khusus. Pilihan kuda pacu juga berdasarkan kelayakan, di antaranya memiliki kaki serupa dengan kijang dan pusaran terbang (Rusdi, 2011). 

Di   era   1912,   pemerintah   kolonial   Belanda   memindahkan   area   pacuan   kuda   ke   pusat   kota, tepatnya di Blang Kolak (hari ini dikenal dengan lapangan Musara Alun), sebagai langkah untuk menyatukan   rakyat   setempat.   Lebih   dari   itu,   tujuan   utama     kolonial   saat   itu   adalah  untuk memperingati hari  ulang tahun Ratu Wilhelmina yang kebetulan bertepatan pada pengujung bulan Agustus. Adapun alasan  masyarakat  berpacu adalah  sebagai  ajang untuk mempertahankan atau memperebutkan gah (semacam harga diri atau status sosial).

Selain itu, akhir Agustus biasanya akan lebih cerah dan jarang hujan, sehingga lebih mendukung digelar pacuan kuda pada saat itu.  Dalam kesempatan ini pula, Belanda mulai mengenalkan hadiah untuk pemenang berupa pakan kuda, bingkisan, dan  piagam  kepada para jawara. Penghargaan yang demikian  terus  berkelanjutan hingga saat ini. Mulai dari sini pula, para joki mulai dikenakan baju yang beraneka warna. Lalu tanpa   disadari,   permainan   ini   menjadi   rutinitas   tahunan   sejak   awal   tahun   1930   yang   juga melibatkan beberapa kampung tetangga (Rusdi, 2011).

Meriahkan HUT RI

Setelah merdeka, tepatnya pada tahun 1956, tradisi pacuan kuda diambil alih oleh pemerintah setempat, bersamaan dengan mekarnya pemerintah daerah kabupaten Aceh Tengah. Tradisi ini menjadi simbol perjuangan rakyat sehingga digalakkan setiap memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia.  Upaya dalam meningkatkan fasilitas atau layanan untuk permainan rakyat ini terus dievaluasi. “Hingga tahun 1995, pejantan kuda pacu dari Australia didatangkan lalu disilangkan dengan kuda betina lokal sehingga dijuluki dengan ‘kuda astaga’ (Autralia-Gayo),” ungkap salah seorang peserta pacu kuda dari Aceh Tengah.

Kuda   ini   diakui  lebih  besar   dan  cepat,  sehingga   membutuhkan   lapangan   yang  membentang cukup luas. Maka tidak asing lagi jika hari ini para pengunjung menjumpai kuda-kuda jumbo yang terdapat di  Dataran Tinggi Gayo. Pacuan kuda tradisional ini dalam istilah lokal dikenal dengan pacu kude, berasal dari istilah bahasa setempat. Akhir-akhir ini mulai populer dengan sebutan Pacu Kude Tradisional Gayo.Penisbatan Gayo di akhir sebagai identitas yang tentunya mempunyai pesan, kesan, dan ciri khastersendiri. Melingkupi waktu, tempat, cara, dan tujuan pagelaran permainan rakyat tersebut.  Kuda yang diikutsertakan dalam even ini berasal dari enam perwakilan. Selain daerah serumpunAceh Tengah (sebagai tuan rumah), Bener Meriah, dan Gayo Lues. Aceh Tenggara, Aceh Besar,dan Sumatra Barat juga ikut serta.  Kurang lebih jumlah kuda secara keseluruhan hampir mencapai 400-an ekor. Terdiri atas 16s bulu (A, B, C, D, E, dan F), berurutan dari yang paling ideal sampai kelas kuda lokal. Di setiap   ronde   biasanya   akan   berlaga lima hingga delapan kuda   (meski   kemudian  ada   yang   tidak   ikut bertanding karena kuda tiba-tiba tidak terlalu bersahabat dan ini lumrah). Dari satu putaran yang dilalui, dua kuda tercepat akan maju  ke babak selanjutnya, baik kategori muda atau pun tua. Sebagaimana biasanya, pacu kude dwitahunan ini (memeriahkan hari lahir kabupaten dan hari kemerdekaan) ini kembali diadakan di Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Dimulai   sejak   26  Agustus   lalu   hingga  1  September.  Tidak  hanya menyaksikan pacuan kuda, pendatang juga dapat menikmati suasana pameran di sekitar area pacu. Di antaranya wisata permainan anak, wisata kuliner, dan tentunya kopi Gayo. Arena pacu kuda tidak terlalu jauh dari pusat kota, sehingga tak terlalu mempersulit pengunjung untuk   menuju   lokasi.   Adapun   jadwal  pacuan   diadakan  mulai   pagi,  siang,   dan   sore  (jika memungkinkan).   Area   pacu   selalu disesaki   oleh pengunjung, termasuk para pelajar yang diarak ke arena.    

Di sisi lain, para penonton berasal dari semua kalangan, baik laki atau pun perempuan, bahkan anak-anak terlihat begitu antusias ikut meramaikan. Mereka datang dari berbagai kabupaten/kota Provinsi Aceh, Sumatera Barat, bahkan mancanegara. Menariknya, tak perlu merogoh saku untuk menikmati permainan ini. Teriakan juri dengan humor khasnya menambah kemeriahan suasana pacu, terlebih di garis awal dan akhir lintasan. Warna kostum cerah sang joki pun cukup membantu saat mendukung kuda andalan. Sesampai di garis finish, para joki juga tak jarang mendapatkan bonus dari tim kudanya. Adapun joki dalam pacu kude ini diperankan oleh remaja dan sudah mengenakan atribut cukup lengkap, seperti helm, rotan (memperepat laju), dan kostum.

Selain itu, para pemilik kuda jugatak lengah dalam menentukan jokinya. Joki yang diikutsertakan tentu yang telah terlatih, karena perannya sangat menentukan.  

Harapan saya tentang event  ini tentunya agar dapat dilestarikan budaya leluhur dan sebagai simbol cinta Tanah Air. Tradisi pacu kude diharapkan juga mampu menanamkan nilai-nilai persatuan dan keislaman. Ini sejalan dengan tema yang diusung panitia “mari kita berpacu dengan sportivitas”. Tanpa diduga, pacu kude berlangsung dengan  khidmat dan menghibur.  Bukan tanpa alasan, kesan itu boleh jadi berkaitan dengan anjuran Islam. Keahlian menunggang kuda merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan dalam Islam di antara dua lainnya: berenang dan memanah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved