Jurnalisme Warga

Ziarah ke Makam Abuya Tanoh Merah

Aceh Singkil merupakah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Aceh, berada di jalur barat Sumatra yang menghubungkan Banda Aceh-Medan

Ziarah ke Makam Abuya Tanoh Merah
IST
KHAIRUDDIN, S.HI., M.Ag., Koordinator Warung Penulis Chapter Aceh Singkil, aktivis lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), melaporkan dari Tanah Merah, Aceh Singkil

OLEH KHAIRUDDIN, S.HI., M.Ag., Koordinator Warung Penulis Chapter Aceh Singkil, aktivis lembaga Keluarga Sakinah  Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), melaporkan dari Tanah Merah, Aceh Singkil

Aceh Singkil merupakah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Aceh, berada di jalur barat Sumatra yang menghubungkan Banda Aceh-Medan. Namun, jalurnya agak berbukit dan perlu dilakukan banyak perbaikan akses jalan agar keterpencilan wilayah ini dapat diatasi.

Di Aceh Singkil banyak lahir ulama karismatik yang sangat disegani, dihormati, dan dicintai karena keilmuan, kearifan, dan kedermawanannya. Salaj satunya adalah Syeikh Haji Bahauddin Tawar yang lebih dikenal dengan julukan Abuya Tanoh Merah. Penamaan tokoh berbasis lakab tempat sudah biasa bagi masyarakat Aceh, terutama bagi kalangan dayah. Seperti Abu Kuta Krueng, Abu Bakongan, dan Aba Lamno.

Abuya Tanoh Merah adalah salah seorang ulama karismatik yang memiliki pengaruh sangat besar dalam dunia pendidikan, terutama di daerah Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.

Abuya Tanoh Merah lahir tanggal 5 Februari 1927 di Desa Seping, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil. Desa ini dulunya ramai dikunjungi para pedagang karena letaknya persis di jalur perhubungan Lae Cinendang, Lae Souraya, dan Lae Singkil yang merupakan jalur transportasi saat itu. Ayahnya bernama Tuan Muhammad Tawar dan ibunya bernama Bunda Andak.

Setelah menamatkan sekolah rakyat (SR) pada 1942 di Rimo, Aceh Singkil, Abuya Tanoh Merah bersama abangnya, Abuya Tgk Khalil Rahmatullah ‘alaih--pendiri Pesantren Raudhatul Muttaqin di Sibungke--menuntut ilmu di Pesantren Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan yang diasuh oleh Tgk Muda Waly Alkhalidi Asy-Syafi’ie As-Sunni Rahmatullah ‘alaih, seorang ulama yang tersohor bukan hanya di Aceh, tetapi juga ke mancanegara.

Setelah itu, Abuya Tanoh Merah tertarik untuk berangkat menimba ilmu ke Sumatera Barat. Pada 1952, ia berangkat ke Melalo, Padang Panjang, belajar langsung kepada seorang ulama besar di sana, yakni Syaikh Zakaria Labai Sati Rahmatullah ‘alaih. Lebih kurang dua tahun di sana, karena alasan sakit ia pun kembali ke kampung halamannya di Seping.

Setelah sembuh, beliau kembali ke Pesantren Labuhan Haji dan menikah dengan Ummi Siti Khadizah binti Abdul Majid, putri kampung Sibungke, pilihan abangnya, Abuya Khalil. Setelah menikah, ia memboyong istrinya ke Labuhan Haji untuk melanjutkan pendidikan tingkat Bustanul Muhaqqiqin hingga tamat.

Pada tahun 1953, beliau kembali ke Aceh Singkil, tepatnya di Kuta Niokh, untuk membangun madrasah kecil. Kemudian, tahun 1962 beliau pindah ke Desa Tanah Merah dengan niat membangun sebuah madrasah yang merupakan lanjutan dari madrasah sebelumnya. Pesantren itu bernama Darul Muta’allimin.

Pada awal berdirinya Pesantren Darul Muta’allimin, sama halnya di pesantren lain yang penuh dengan tantangan dan rintangan, cobaan datang terus silih berganti. Di antaranya ialah ada sekelompok warga yang berasal dari luar Desa Tanah Merah tidak senang dengan berdirinya pesantren tersebut sehingga melakukan apa saja demi tidak berkembang pesantren ini. Misalnya, mereka potong Teluk Gambir agar jalur ke Tanah Merah terputus dan pesantren akan lumpuh total.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved