Eksistensi Bahasa Keluwat, Aceh Selatan

Indonesia merupakan salah satu bangsa yang besar, bangsa yang memiliki bahasa daearah yang beranekaragam, namun tidak semua bahasa daerah

Eksistensi Bahasa Keluwat, Aceh Selatan
SERAMBI/SAID KAMARUZZAMAN
Penyuluhan Bahasa Indonesia 

Oleh : Rahman Mahlil, Relawan Bintang Sekorong Aceh Selatan

Indonesia merupakan salah satu bangsa yang besar, bangsa yang memiliki bahasa daearah yang beranekaragam, namun tidak semua bahasa daerah memiliki ribuan penutur aktif, bahkan ada beberapa bahasa daerah telah mengalami kepunahan.

Hal tersebut menandakan bahwa bahasa daerah yang ada belum dilestarikan secara maksimal. Agar potensi yang ada dapat dikembangkan, maka perlu pelestarian dengan baik yang dilakukan oleh semua kalangan.

Pelestarian budaya menjadi tugas dan kewajiban seluruh elemen masayarakat untuk terus menjaga agar budaya tersebut tidak hilang termakan perubahan zaman.  Kemajuan teknologi dan semakin pragmatisnya masyarakat menjadikan pelestarian budaya sangat perlu untuk dilakukan demi terjaganya warisan budaya. Tidak mudah memang untuk melakukannya, butuh kesabaran, ketenangan dan komitmen tinggi dalam menjalankannya.

Hal ini juga dirasakan oleh masyarakat Keluwat, Aceh Selatan yang notabene menyandang predikat sebagai wilayah Rajo Lelo. Bahasa Keluwat merupakan salah satu bahasa yang menjadi identitas kuat Kabupaten Aceh Selatan. Rata-rata keberadaan penutur bahasa Keluwat ada di beberapa kecamatan di Aceh Selatan, yaitu: di Kecamatan Kluet Timur, Kluet Tengah, dan sebagian di Kluet Selatan, Kluet Utara, dan Pasie Raja. Bahasa Keluwat merupakan bahasa yang terancam akan punah, hal tersebut terlihat dari rendahnya jumlah penutur aktif bahasa keluwat sehingga sangat berdampak pada eksistensi tradisi lisan, adat istiadat, ritual kusus, pengetahuan tradisional, seni tradisional, permainan rakyat, tarian landok sampot, meubobo, meukato, meusebuku, pertunjukkan Rajo Lelo, dan keberadaan bahasa Keluwat itu sendiri secara keseluruhan.

Dari sejumlah karifan lokal keluwat yang ada, belum ada yang dilestarikan, sehingga perlu pengembangan dari segenap pihak, baik itu secara perorangan, kelompok maupun langsung dari pemerintah pusat hingga daerah. Saat ini yang terjadi di Keluwat adalah minimnya literatur atau sumber rujukan yang menerangkan tentang kebudayaan Keluwat.

Menanggapi fenomena itu, pemangku dan pelaku kebudayaan dan bahasa Keluwat belum  da upaya secara signifikan untuk melakukan pelestarian. Banyak faktor yang menjadi penyebab hal tersebut terjadi, berdasarkan hasil wawancara dan observasi bahwa dalam menghadapi derasnya arus globalisasi budaya dan era digital saat ini. Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa banyak anak-anak muda malu belajar kebudayaan Keluwat, karena menurut mereka tidak zaman lagi. Faktor ekonomi yang dirasa kurang menguntungkan menjadi alasan lain peneyebab rendahanya generasi muda Keluwat berkeinginan mempertahankan kebudayaan Keluwat.

Belum adanya aturan hukum atau peraturan daerah (PERDA) yang mengatur khusus tentang melestarikan bahasa Keluwat. Belum dilakukan pencatatan dan pembukuan bahasa Keluwat. Tidak ada motivasi untuk memanfaatkan, menjaga, mempertahankan dan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Tidak ada keinginan generasi Keluwat untuk meningkatkan pengetahuan tentang bahasa Keluwat secara nyata. Masyarakat belum sepenuhnya diberdayakan sebagai salah satu pendukung eksistensi bahasa Keluwat. Belum dilakukan pembinaan, penyuluhan kepada masyarakat Keluwat untuk menciptakan masyarakat yang sadar bahasa Keluwat.

Selain itu, kebanyakan sekolah di Aceh Selatan tidak memiliki program pembelajaran untuk menanamkan budaya lokal secara khusus, baik dalam kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler maupun intrakurikuler. Di perpustakaan sekolah sebagian besar juga sulit di temukan buku-buku tentang bahasa Keluwat. 

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved