Salam

Aceh Butuh Banyak Inisiator Belajar Gratis

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mengangkat satu kisah menarik tentang sang pengabdi ikhlas untuk kemanusiaan

Aceh Butuh Banyak Inisiator Belajar Gratis
DOK PRIBADI
Lukman mengajari anak yatim dan fakir miskin di ruang terbuka. 

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mengangkat satu kisah menarik tentang sang pengabdi ikhlas untuk kemanusiaan. Namanya, Lukman. Umurnya 35 tahun, berasal dari Lhok Kaju, Kecamatan Indra Jaya, Pidie. Sehari-hari ia bekerja sebagai  tenaga Program Keluarga Harapan (PKH) pada Dinas Sosial Pidie.

Tapi yang menarik dari sosok Lukman adalah dia wakafkan waktu, tenaga, dan kemahirannya berbahasa Inggris untuk berbagi ilmu yang didapatnya di bangku kuliah kepada orang lain, terutama kepada mereka yang kurang mampu secara ekonomi.

Sejak tahun 2010, alumnus Universitas Muhammadiyah Aceh ini berinisiatif membuka lembaga pendidikan bahasa Inggris di kampung halamannya. Diberi nama  Lhok Kaju English Center.

Peminat kursus bahasa Inggris yang diselenggarakan Lukman terus bertambah dari hari ke hari. Saat ini sudah 978 orang yang bergabung menjadi murid Lukman. Murid terbanyaknya adalah anak yatim dan anak-anak dari keluarga miskin. Daya tarik program pendidikan ini ada dua: gurunya yang profesional dan belajar tanpa dipungut bayaran.

Atas kepeloporan dan keikhlasannya menyelenggarakan pendidikan gratis ini Lukman sudah berkali-kali mendapat penghargaan sebagai inisiator belajar gratis. Di antaranya, Lukman mendapat hadiah emas murni dari Pemkab Pidie untuk kategori pendidikan bahasa Inggris gratis. KNPI dan Dinas Sosial Pidie pun memberinya award untuk kategori pemuda inspirasi pendiri pendidikan gratis.

Jujur saja, kita haru dan bangga membaca kisah ini. Lebih bangga lagi adalah karena penggeraknya seorang pemuda yang juga bukan orang kaya. Ia telah membuktikan bahwa ketiadaan uang bukan jadi faktor penghalang dalam menuntut ilmu.

Lukman juga paham betul bahwa untuk bisa hidup maju di era modern ini penguasaan bahasa Inggris semakin penting.

Selain itu, mulai banyak dermawan yang memberi sumbangan spontan kepada Lukman supaya peserta didiknya bisa menikmati air dan snack gratis saat belajar. Hal itu terwujud karena Lukman dikenal sebagai sosok yang jujur. Dia amanah dalam mengelola uang donasi para dermawan. Per minggu dia lapor di medsos setiap pengeluaran di lembaga nirlaba itu. Transparansi ini yang membuat donasi untuk lembaga yang dipimpinnya terus mengalir.

Di luar sosok Lukman, Aceh sebetulnya punya beberapa figur dan lembaga yang giat mencerdaskan anak bangsa secara gratis. Misalnya saja ada Forum Lingkar Pena (FLP), Forum Aceh Menulis (FAMe), Yayasan Cahaya Aceh, Yayasan 3R, Ummi PAUD, dan lain-lain. Semua lembaga ini, sesuai spesifikasinya menyelenggarakan pendidikan atau pelatihan gratis per minggu. Ada yang lingkupnya hanya untuk satu kabupaten atau kota saja, ada pula yang lingkup kiprahnyanya se-Aceh, seperti FLP, FAMe, dan Yayasan 3R. Mereka inilah salah satu komponen yang diakui atau tidak telah berkontribusi mencerdaskan anak bangsa, terutama dari kalangan tak berpunya di Aceh.

Kehadiran lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan seperti ini semakin diperlukan sehingga semakin banyak peserta didik mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan, terutama bekal kecakapan hidup (life skill) secara gratis.

Perlu kita dorong dan apresiasi jika ada pemuda Aceh seperti halnya Lukman di Pidie yang tampil sebagai pelopor belajar gratis. Tak berlebihan juga jika kita punya anak yang berjiwa sosial dan memiliki keahlian khusus di bidang tertentu untuk kita dorong dan arahkan menjadi pekerja sosial tanpa pamrih untuk kemajuan masyarakatnya. Aceh butuh pribadi-pribadi pengabdi tulus seperti ini dalam jumlah yang tak terbatas untuk Aceh hebat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved