Jurnalisme Warga

Asyiknya Bergiat di Social Enterprise

BISNIS dengan jenis Social Enterprise (SE) atau yang dikenal sebagai kewirausahaan sosial akhir-akhir ini sedang marak

Asyiknya Bergiat di Social Enterprise
IST
NIA ROBIATUN J, wirausaha, pendiri Niyaz Empowering People (NEP), dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Kuta Alam, Banda Aceh

OLEH NIA ROBIATUN J, wirausaha, pendiri Niyaz Empowering People (NEP), dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Kuta Alam, Banda Aceh

BISNIS dengan jenis Social Enterprise (SE) atau yang dikenal sebagai kewirausahaan sosial akhir-akhir ini sedang marak. Social Enterprise memiliki begitu banyak pengertian, tapi pengertian secara umum dari berbagai praktisi usaha adalah gabungan dari aktivitas berbisnis dan juga kepandaian mengatasi masalah sosial yang ada secara beriringan.

Di Aceh, British Council dan Rumbia  mengadakan Active Citizens Social Enterprise (ACSE) untuk kedua kalinya pada 2-5  September 2019 di Kuta Alam, Banda Aceh. Rumbia merupakan organisasi yang berkomitmen membangun ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan energi terbarukan dan peningkatan pengetahuan mengenai energi bersih. Lembaga ini berbasis di Aceh dan sudah berdiri sejak Desember 2016. Sedangkan British Council merupakan salah satu organisasi budaya yang bergerak di bidang pendidikan dan merupkan organisasi yang berasal dari Inggris. British Council Indonesia berkantor pusat di Jakarta.

Kegiatan ACSE kali ini terlaksana berkat dukungan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapedda) Aceh yang memfasilitasi tersebut.  Acara tersebut dilaksanakan di Gedung  Bapedda Aceh lantai 4 di Jalan Tgk H Mohd. Daud Beureueh Nomor 26 Kuta Alam, Banda Aceh.

Kegiatan ACSE diikuti oleh 25 orang terpilih dari hampir 100 orang yang melamar pada aplikasi yang telah disediakan. Sebanyak 25 orang tersebut berasal dari latar belakang pekerjaan dan keahlian yang berbeda. Para peserta ada yang berasal dari pelaku wirausaha murni, aktivitis sosial, anak muda, guru, pemerhati masalah perempuan dan anak, bahkan difabel. Diharapkan nantinya Social Enterprise ini dapat diterapkan untuk mengatasi beberapa permasalahan sosial sekaligus menyejahterakan rakyat Aceh.

Saya salah satu peserta dalam acara ACSE tersebut. Awalnya saya lakukan beberapa terobosan sosial di bisnis saya, tapi saya masih merasa pengetahuan saya tentang kewirasahaan sosial sangat terbatas dan kurang mendalam. Dari beberapa pemaparan yang diberikan oleh para fasilitator yaitu Bang Zulfikar (Rumbia), Mas Jimmy (British Council Jakarta), dan Mba Ita (British Council Jakarta) membawa banyak manfaat bagi saya dan peserta lainnya.

Pelatih memaparkan dan mendiskusikan apa itu Social Enterprise  dan bedanya dengan kegiatan murni sosial atau bisnis konvensional. Setelah itu kami juga mempelajari berbagai model SE yang umumnya dilakukan. Selanjutnya kami membahas empat modul pembelajaran, di antaranya: Saya, Saya & Kamu, Kita & Komunitas,  dan yang terakhir adalah Aksi & Rencana Berkelanjutan.

Pada saat mempelajari modul pertama dengan tema Saya. Para peserta diajak mengenali visi, misi, potensi dan juga hal-hal apa saja yang menjadi prioritas masing-masing pada diri sendiri. Peserta disuruh menggambarkan diri dalam bentuk apa saja yang mencerminkan diri  sendiri. Lalu peserta diminta menyebutkan tujuh hal atau nilai yang sangat menjadi prioritas dalam keidupan masing-masing peserta. Dalam sesi ini, fasilitator juga mengajak para peserta untuk melihat identitas yang tersembunyi (hiden identity) yang ada dalam diri. Dalam kaitannya dengan ini, diri kita sebenarnya seperti gunung es. Bagian atas adalah bagian kecil  yang terlihat seperti halnya identitas fisik. Sedangkan bagian yang tersembunyi adalah bagian yang ada dalam diri kita yang tidak tampak dengan mata seperti halnya sifat, kejujuran, dan prinsip-prinsip hidup yang kita pegang erat. Pada kenyataannya, gunung es ini jika tertabrak sebuah kapal yang lebih dahulu tertabrak adalah bagian dasarnya. Jika hal ini dianalogikan dengan sebuah interaksi sosial,  bagian pada diri kita yang sangat mudah bergesekan dengan orang lain adalah bagian yang tersembunyi.

Dalam kaitannya dengan SE, para peserta diajak menilik kembali apa yang menjadi poin unik dari sebuah SE yang harus mencakup  tiga hal, yakni produk/jasa, dampak sosial, dan pendekatan/strategi.

Kami juga diajarkan untuk memikirkan triple bottom line dalam sebuah SE yang kami miliki. Di dalam triple  bottom line tersebut,  aspek ekonomi yang menjadi dasar dapat memunculkan tiga hal, mencakup: lingkungan, dampak budaya, dan dampak sosial.

Modul kedua adalah membahas mengenai Saya & Kamu. Dalam modul ini dijelaskan tentang tiga level dalam SE. Jika diibaratkan SE ini adalah tubuh maka tiga level ini mecakup kepala yang berupa pendekatan-pendekatan bisnis, hati yang berupa dampak sosial/nilai-nilai, dan yang terakhir kaki yang berupa pendekatan SE dan  juga proses yang harus dilaluinya.

Kita & Komunitas adalah tema modul ketiga yang diajarkan pada pelatihan ini. Peserta diberikan sebuah tantangan  bagaimana mengidentifikasi alat untuk bertumbuh yang dapat terlihat dari analisis diagram antara potensial benefit  dan potensial sosial yang ada dalam masing-masing SE yang tengah dijalani.  Peserta juga dapat mengidentifikasi kekuatan dan level of interest apa pun yang berkaitan dengan SE yang dijalani, baik itu aktivitas SE maupun berbagai  pihak yang terkait.

Pada modul keempat Aksi dan Rencana Berkelanjutan, yang dibahas adalah mengenai identifikasi resiko di dalam sebuah SE yang mencakup legal hukum, SDM, operasional,  dan sosial. Selain itu, peserta juga diajarkan mempelajari  target-target dalam sebuah SE.

Hari terakhir pelatihan tersebut diisi dengan studi banding ke Natural Aceh yang telah bertahun-tahun menjalankan pemberdayaan petani tiram di Alue Naga dan juga masyarakat sekitar di bidang ekonomi dan pendidikan. Program dan pemaparan dari Natural Aceh memberikan penggambaran mengenai beberapa hal yang telah kami pelajari pada pelatihan ACSE.

Sesi terakhir ditutup dengan penguatan business  model canvas yang bukan saja dapat diterapkan di bisnis murni, tapi juga di dalam SE yang sedang atau akan kami buat. Sejatinya pelatihan ini diharapkan membangun kesadaran dan kepekaan kami untuk mulai memikirkan dan melakukan  SE dan menjadi pelaku SE atau yang lebih dikenal dengan Social Entrepreneur. Memang benar Social Enterprise bukan obat sapu jagat yang dapat mengatasi semua permasalahan sosial di Aceh, tapi dengan berani membangun SE kita dapat mengurangi permasalahan sosial di lingkungan sekitar.  Insyaallah. musimbunga@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved