Breaking News:

Berita Abdya

Daya Beli Masyarakat Abdya Menurun, Diduga Ini Penyebabnya

Pedagang usaha pertokoaan mengeluh lantaran omset penjualan berkurang drastis dibandingkan situasi normal.

Penulis: Zainun Yusuf | Editor: Taufik Hidayat
Serambinews.com
Suasana usaha pertokoan di Jalan Selamat, Kota Blangpidie, ibukota Kabupaten Abdya yang sepi pengunjung sehingga omset penjualan pedagang setempat menurun. Foto direkam, Minggu (8/9/2019). 

Laporan Zainun Yusuf | Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Daya beli masyarakat Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), semakin menurun, terlihat dari suasana Kota Blangpidie sepi pembeli. Pedagang usaha pertokoaan mengeluh lantaran omset penjualan berkurang drastis dibandingkan situasi normal.      

Kota Blangpidie telah lama dikenal sebagai ‘kota dagang’ karena aktivitas perdagangan yang sangat hidup. Pengujung Kota Blangpidie  bukan saja dari Kabupaten Abdya, melainkan banyak dari Kabupaten Aceh Selatan dan Kabupaten Nagan Raya, terutama pada hari libur kerja, Sabtu dan Minggu.

Belakangan ini jumlah pengunjung terjadi penurunan sehingga berdampak berkurang omset penjualan para pedagang yang membuka usaha pertokoaan. Bahkan, ada pedagang yang terancam kelanjutan usahanya.  

Pemilik Toko Setia 88 di  Jl Selamat, Buyong ketika ditanya Serambinews.com, Minggu (8/9/2019) menjelaskan, susana sepi pembeli terjadi lebih satu tahun terakhir.

“Pengunjung tampak ramai menjelang Idul Fitri dan Idul Adha lalu, setelah itu kembali sepi, ” katanya.

Omset penjualan bahan konveksi atau pakaian jadi menurun tidak kurang 60 persen, bahan grosir rata-rata turun 40 persen.

“Omset penjualan yang agak lumayan bagus bahan sarung dan kain potong atau kain bakal baju perempuan sebagai kelengkapan kado acara perkawinan,” kaya Buyong.    

Dulu, katanya, pada hari Sabtu dan Minggu, pengunjung Kota Blangpidie banyak dari Kabupaten Nagan Raya, terutama dari Darul Makmur (Alue Bilie) dan Aceh Selatan, khususnya dari Labuhan Haji dan Meukek. “Sekarang jauh berkurang, paling-paling tinggal sekitar 10 sampai 20 persen lagi,” ungkap Buyong.   

Pengusaha Toko Konveksi (kain dan pakaian jadi), barang elektronik dan perabotan rumah tangga di Kota Blangpidie  juga mengeluh akibat omset penjualan menurun drastis.

Salah seorang pedagang di ‘kota dagang’ itu menjelaskan, ada pedagang sudah menutup usahanya akibat tidak mampu membayar sewa toko sebagai tempat usaha.

Penurunan omset penjualan juga dialami toko yang menyediakan bahan, alat dan obat-obat pertanian dan perkebunan.

“Penurunan mencapai 50 persen,” kata Rizal, pemilik Toko Delima Tani di Jalan Ilyas Blangpidie, Minggu, kemarin.

Permintaan obat pembasmi gulma atau racun rumput tanaman perkebunan dan petanian jauh berkurang, termasuk pupuk non subsidi dan alat-alat pertanian lainnya. “Coba lihat sendiri, berapa orang yang keluar masuk toko,” kata Rizal.    

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved