Jurnalisme Warga

Mi Burung Dara dan Mi Rusa di Seulawah

Saat melakukan perjalanan darat yang jauh kita harus memiliki stamina prima, apalagi bila jarak tempuhnya melebihi 100 km

Mi Burung Dara dan Mi Rusa di Seulawah
IST
CHAIRUL BARIAH, Kepala Biro Umum Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah 

CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Lembah Seulawah, Aceh Besar

Saat melakukan perjalanan darat yang jauh kita harus memiliki stamina prima, apalagi bila jarak tempuhnya melebihi 100 km. Badan pasti terasa lelah dan penat, terlebih kalau kita yang menyetir. Maka, dibutuhkan tempat istirahat atau rest area  yang nyaman, tersedia sajian aneka makanan dan minuman, plus fasilitas umum yang memadai.

Saat beberapa kali melewati kawasan Seulawah, Aceh Besar, dalam perjalanan dari Bireuen ke Banda Aceh, saya penasaran dengan gaya promosi sebuah warung kopi yang terkesan layak sebagai rest area. Cikgu Kopi, nama warkopnya. Dalam perjalanan kali ini, sepulang menghadiri pesta perkawinan keponakan saya di Banda Aceh, saya sempatkan mampir di warung ini.

Pertama memasuki area Cikgu Kopi, saya terkesan karena disambut beberapa ekor merpati. Burung dara tersebut seakan mengiringi langkah saya masuk ke dalam warung. Saya berusaha menangkapnya, tapi gagal. Memanglah jinak-jinak merpati, didekati dia lari, dihindari dia datang.

Saya juga terkesan pada penataan ruangannya yang menggunakan kursi dan meja dari bahan bambu menurut bentuk aslinya. Mejanya dari kayu. Setelah duduk, saya memanggil salah seorang pelayan dan memesan beberapa menu, salah satunya adalah  mi burung puyuh. Sebenarnya yang saya inginkan adalah mi burung merpati atau mi burung dara. “Tapi stok sudah habis,” kata pelayan. 

Di sini juga tersedia mi daging rusa, menu yang langka dan jarang tersedia di warung lain. Setelah memesan makanan, azan Asar pun berkumandang. Pelayan menghampiri kami dan mengatakan, “Bu pesanannya nanti setelah shalat Isya ya?” Saya heran dan hampir marah kenapa harus selama itu menunggu. Eh, ternyata dia silap, maksudnya setelah shalat Asar. Saya pun tersenyum.

Semua karyawan di sini laki-laki dan begitu mendengar azan, mereka meninggalkan tugasnya bergegas menuju musala mungil. Tak ada satu pun karyawan yang tinggal menemani tamu. Semua pesanan,  pembayaran, dan kegiatan lainnya ditunda. Ini juga hal yang unik, membuat saya penasaran dan ingin bertemu pemiliknya. Saya dan keluarga yang tadinya duduk santai bergegas untuk shalat, tapi karena tempatnya terbatas kami pun menunggu giliran.

Saya turuni tangga menuju kamar mandi yang letaknya agak ke bawah. Airnya dingin, tempatnya bersih. Lokasinya di sisi Gunung Seulawah, diselimuti kabut dan ditemani burung.

Seusai shalat semua karyawan mulai sibuk melayani tamu. Keinginan  saya ingin bertemu dengan pemilik warung akhirnya tercapai. Salah seorang karyawan menunjuk ke luar, “Itu Bu, Cikgunya.” Tanpa menyia-nyiakan waktu saya langsung menemuinya. Dalam bayangan saya orangnya pasti sudah berumur dan mungkin menjelang pensiun jika ia pegawai. Saat itu sang Cikgu sedang mengarahkan kendaraan di parkiran, lalu dengan mengucapkan salam saya perkenalkan diri dan memohon waktu untuk berbincang. Beliau menyambut saya dengan ramah. Sungguh di luar dugaan ternyata cikgu yang satu ini masih sangat muda. Dia kelahiran di Laweung, Pidie, tahun 1981. Namanya Bustami, sudah menikah dan punya lima anak.

Dia mulai bercerita tentang kisah hidup dan perjalanan bisnisnya. “Kelihatan wajah tua karena berat perjuangan dalam hidup,” katanya sambil tersenyum.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved