Kesehatan

RSU Cut Meutia Batasi Pelayanan Pasien Gunakan CT Scan, Ini Alasannya

Namun, setelah tim teknisi dari distributor di Jakarta, alat pemindai otak dan sumsum tulang belakang tersebut, sudah dapat digunakan tersebut.

RSU Cut Meutia Batasi Pelayanan Pasien Gunakan CT Scan, Ini Alasannya
Alat medis Rontgen dan Scaning RSUD Langsa, sejak berapa pekan terakhir tidak bisa dimanfaatkan karena mengalami kerusakanSelasa (4/8). Akibatnya sebagian pasien butuh di scaning harus dirujuk ke RS di Medan dan pasien rontgen harus di bawa ke RS Cut Meutia Langsa. SERAMBI/ZUBIR 

Laporan Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Alat kesehatan Computerized Tomography Scanner (CT-Scan) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia Aceh Utara sudah mulai difungsikan pada Senin (9/9/2019).

Alat tersebut rusak pada awal Juni 2019 lalu, sehinggga pelayanan bagi pasien yang membutuhkan alat tersebut terhenti selama tiga bulan.

Namun, setelah tim teknisi dari distributor di Jakarta, alat pemindai otak dan sumsum tulang belakang tersebut, sudah dapat digunakan tersebut.

“Jadi ke depan alat tersebut akan dioperasionalkan dengan sangat hati-hati dan jumlah pasien yang dilayani dengan alat tersebut juga akan dibatasi, tujuannya agar alat tersebut tidak rusak lagi,” ujar Humas RSUD Cut Meutia Saiful kepada Serambinews,com, Selasa (10/9/2019).

Baca: Untuk Pertama Kali, BPKS Raih Penghargaan BMN Award 2019 dari Kementerian Keuangan

Baca: Timnas Indonesia Dibantai Thailand di SUGBK, Malaysia Juga Dikalahkan UEA

Baca: Musisi Aceh, RIALDONI Go Nasional, Teken Kontrak dengan Label Musik Ternama di Jakarta

Disebutkan, sebelumnya pasien yang dilayani dengan menggunakan alat tersebut setiap harinya mencapai 25 sampai 30 orang.

Namun, kedepan direncanakan jumlah pasien yang bisa dilayani setiap harinya dengan alat CT-Scan tersebut hanya 10 orang saja.

“Sehingga alat tersebut tidak cepat rusak, karena memperbaiki alat tersebut membutuhkan biaya besar,” ujar Saiful.

Alat tersebut pernah rusak pada September 2016, sehingga harus diperbaiki dengan dana yang dibutuhkan mencapai Rp 1,8 miliar.

Bahkan, pelayanan saat itu juga terhenti lama. Sedangkan untuk tahap kedua untuk mengganti spare part dana yang dikeluarkan untuk alat tersebut capai Rp 72 juta.

“Tapi masih ada garansi sampai sebulan ke depan, kita harapkan jangan rusak lagi, sehingga kita bisa tetap member pelayanan kepada pasien,”pungkas Saiful.(*)

Penulis: Jafaruddin
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved