Opini

OTT KPK Perlu Dievaluasi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan suatu badan khusus yang dibentuk guna berperang melawan tikus-tikus negara yang semakin

OTT KPK Perlu Dievaluasi
IST
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Oleh M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan suatu badan khusus yang dibentuk guna berperang melawan tikus-tikus negara yang semakin menjamur. Bisa dibilang, ini adalah badan hukum yang paling rawan dan krusial, mengingat target operasional KPK kerap dihuni oleh kaum elit penguasa, elit politik, dan kaum pemilik power lainnya. Terbukti, hampir semua oknum berpengaruh KPK memperoleh ancaman, kriminalisasi, bahkan dianiaya.

Kiprah KPK bisa dibilang bervisi positif, yakni memberantas korupsi yang secara histori sudah mendarah daging sejak pemerintah kolonial Belanda. Anehnya, begitu mulianya tujuan KPK, masih saja ada yang melemahkan dalam beragam aspek. KPK pernah disebut `wanita penggoda', `tukang nangkepin orang', `penjebak' dan masih banyak lagi yang semua itu dianggap sebagai klaim bahwa KPK keluar dari kinerja terhormatnya.

Padahal, sudah berapa kasus yang menjadi pencapaian dan prestasi KPK, mulai dari golongan standar hingga kelas kakap, semuanya digerek tanpa pandang bulu. Kendatipun masih ada oknum yang berhasil keluar sebagai tahanan KPK (menang di peradilan), namun pada akhirnya secara kuantitas, setiap oknum koruptor yang diklaim bersalah oleh KPK jarang bisa bebas. Ini membuktikan bahwa, sebelum menangkap target, KPK bergerak dengan bukti yang kuat sehingga operasi penangkapannya yang populer disebut OTT (Oprasi Tangkap Tangan) berjalan sesuai harapan.

Mirisnya, begitu gencarnya KPK berjuang memerangi korupsi, eksistensi para koruptor masih saja ramai dan tidak kehilangan tajinya. Seolah KPK hanya menangkap mereka yang gagal dalam 'bermain cantik', sedangkan oknum yang cerdas bersembunyi di balik bayang politik, mereka slow-slow aja. Secara logika, berarti ada kendala pada kiprah KPK khusunya terhadap oknum yang dinilai perlu diberikan dosis yang lebih tinggi.

Mencegah lebih baik

Para pelaku koruptor yang berhasil diciduk KPK dalam program OTT-nya, seringkali mengaku dijebak. Para tahanan KPK selalu ngotot dan berjuang bahwa mereka tidak bersalah hingga putusan akhir yang mengambil kejelasan dari beragam proses panjang yang dijalani. Kita selaku masyarakat Indonesia yang menginginkan negara ini bersih dari koruptor tentu mendukung sepenuhnya program KPK, bahkan OTT ini layak diapresiasi.

Akan tetapi, program OTT ini perlu mendapat evaluasi atau minimal ada program pendamping agar misi KPK lebih efisien. Salah satunya adalah program pencegahan sebelum penghukuman. Pencegahan di sini bertujuan mengawal jalannya distribusi aliran dana sehingga peluang tindakan korupsi dan sejenisnya bisa diantisipasi.

Visi KPK secara umum adalah menangkap pelaku korupsi sebanyak-banyaknya. Semakin banyak temuan di lapangan menandakan semakin seriusnya KPK dalam mengemban harapan rakyat. Polemik selanjutnya adalah, apakah program yang demikian efektif memberantas korupsi secara kaffah? Atau justru hanya mempopulerkan KPK saja tanpa mengurangi kuantitas koruptor di Nusantara?

Jangan sampai ada anggapan `miring' bahwa KPK tidak akan memberantas korupsi secara totalitas karena akan berefek pada eksistensi KPK itu sendiri. Dalam arti, jika korupsi benar-benar hilang di Indonesia, berarti akan ada satu titik dimana KPK tidak dibutuhkan lagi (dibubarkan). Jika konsep ini ada pada pola fikir elit KPK, berarti mereka gagal dan hanya menghabiskan uang negara.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved