Seni

Penyair "Celana" Joko Pinurbo, Temukan Kebahagiaan Saat Naik Angkot ke Pendopo Gubernur Bengkulu

Penyair asal Yogyakarta, Joko Pinurbo yang terkenal dengan puisi "Celana" menemukan empat kebahagiaan saat menghadiri Festival Sastra Bengkulu.

Penyair
Hand-over dokumen pribadi
Penyair Joko Pinurbo bersama peserta Festival Sastra Bengkulu, Sabtu (14/9/2019) 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Penyair asal Yogyakarta,  Joko Pinurbo yang terkenal dengan puisi "Celana" menemukan empat kebahagiaan saat  menghadiri Festival Sastra Bengkulu, 13-15 September 2019.

Kebahagiaan pertama, saat ia mendengarkan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menyampaikan sambutan  pada pembukaan Festival Sastra Bengkulu, Jumat (13/9/2019) malam di  Pendopo Gubernuran.

"Cara beliau berbahasa mencerminkan sikap egaliter, tak ada kasta, ini menurut saya istimewa," kata Joko Pinurbo mengawali  seminar   "Sastra, Anak Muda dan Tradisi" yang diikuti penyair dan mahasiswa Universitas Bengkulu, di Aula FKIP Universitas Bengkulu, Sabtu (14/9/2019).

Kebahagiaan kedua, lagi-lagi saat penyair yang akrab disapa Jokpin ini,  mendengarkan sambutan Dekan FKIP Universitas Bengkulu, Prof. Sudarwan Danim,  ketika membuka seminar tersebut. 

"Pak Dekan membebaskan dari hal-hal yang bertele-tele dan seremoni," kata Joko Pinurbo. Menurutnya kedua figur ini bisa menjadi sumber inspirasi  dalam mendorong perubahan dalam masyarakat.

Kebahagiaan ketiga, saat Joko Pinurbo dan peserta Festival Sastra Bengkulu naik angkot ke Pendopo Gubernur Bengkulu  menghadiri pembukaan festival.

"Jarang dan hampir tidak pernah terjadi angkot mengantar penyair sampai ke halaman gubernuran. Kalau di tempat lain, sudah diusir, angkot masuk gubernuran," kata Joko Pinurbo.

Ia mengatakan peristiwa itu harus  ditangkap sebagai peristiwa puitik. 

“Ini ungkapan simbolik dan inspiratif. Biasanya peristiwa ini seperti ini hanya ada dalam fiksi. Tapi ini peristiwa nyata," kata Jokpin.

Kebahagiaan keempat, Joko Pinurbo mendapati hadirnya bibit-bibit muda pengarang Bengkulu. Ia menyemangati bibit-bibit muda itu agar tekun dan intensif berkarya, memasuki dunia gelap ekologi bahasa, yang selama ini dikuasai oleh bahasa birokrat, bahasa politik dan bahasa pengacara. Terakhir muncul bahasa buzzer yang berkembang di dunia internet.

Seminar Sastra tersebut juga menampilkan pembicara Putu Fajar Arcana, redaktur kebudayaan KOMPAS,  Wacana Minda, penulis dari Malaysia, Kurnia Effendi, kurator sastra, Muhammad Subhan pegiat literasi Padang Panjang, serta dua  penyair Aflaha Rizal, dan Wendi Fermana.(*)

Baca: 7 Manfaat Mengonsumsi Belimbing Wuluh, Mengatasi Risiko Diabetes hingga Turunkan Berat Badan

Baca: 6 Atlet Taekwondo Pidie Perkuat Tim Aceh di Pra PON Tangerang Banten

Baca: Kisah Suku Maya Memilih Masuk Islam, Kebersihan Jadi Alasan

Baca: Visa Progresif Dihentikan, Ini Ketentuan Baru Soal Visa Umrah yang Harus Diketahui

Baca: ESDM Aceh & PT Mifa Promosikan Batu Giok Aceh di Dunia Internasional.

Baca: Begini Reaksi Warga Setelah Mendengar Teriakan Karyawati Koperasi yang Dirampok

Pria Berpistol

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved