Breaking News:

Sastra

Redaktur Seni KOMPAS, Putu Fajar Arcana: Hanya Koran Indonesia yang Punya Halaman Sastra

Seminar tersebut rangkaian Festival Sastra Bengkulu yang digelar Imaji, dihadiri sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia.

SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Redaktur Seni KOMPAS Putu Fajar Arcana menerima buku kumpulan puisi "Perjalanan" diterbitkan Festival Sastra Bengkulu dari Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, Jumat (13/9/2019) malam. 

Lalu terdapat pula Oospost yang berganti nama menjadi Soerabajaasch Handelsblad tahun 1853. Di Batavia terbit De Java Bode pada tahun yang sama.

Sementara koran-koran berbahasa Melayu terbit Jawa Bromartani (1855), Surat Khabar Melayu (1856), dan Selompret Melayu yang bertahan sampai tahun 1911. Koran-koran ini memuat cerpen dan cerita.

"Sampai sekarang kita ketahui, puluhan koran, terutama pada terbitan Sabtu dan Minggu memuat karya sastra, sebagai bagian dari sajian isi dalam merebut pembaca. Kompas Minggu, memuat cerpen sejak tahun 1967. Walau sempat terhenti selama beberapa tahun, Sejak tahun 1978 cerpen-cerpen di Kompas tidak pernah berhenti. Puisi kemudian menyusul menjadi sajian di hari Minggu, yang kemudian sejak awal Maret bermigrasi di hari Sabtu," ujarnya.

Puluhan koran di berbagai daerah sampai saat ini masih memuat tulisan berupa cerpen, puisi, kritik, dan bahkan cerita bersambung.

Tapi zaman kemudian berubah. Sastra saat ini banyak ditulis di media-media sosial.

Teknologi internet telah membuka ruang kreativitas baru yang dimanfaatkan generasi milenial. Menurut Putu sekarang banyak ditemukan komunitas puisi di internet dengan beragam bentuk dan tampilan.

Pembicara lain dalam seminar itu Wacana Minda dari Malaysia, membahas tentang puisi yang memiliki identitas pembelaan terhadap tanah air.

Ia menyebut beberapa contoh puisi Malaysia dan Indonesia yang melahirkan puisi-puisi yang sangat kuat dengan identitas kebangsaan.

Ia membentangkan kertas kerja berjudul "Puisi Nusantara: Manifestasi Suara dan Jati Diri Keamanan Sejagat."

Pada bagian lain pernyataannya, Wacana Minda menyebutkan, di Malaysia penulis bisa mendapatkan imbalan yang cukup besar. Untuk satu tulisan esai dibayar sampai RM 500 atau setara 5 juta rupiah dan puisi RM 300 atau setara 3 juta rupiah.

"Ya bisa memberi tambahan penghasilan," kata Wacana Minda.(*)

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved