Opini

Dana Otsus; Aceh Beternak Kemiskinan?  

Potret buram kemiskinan Aceh nampaknya masih menjadi bahan diskusi yang panjang bagaikan kita menonton drama bersambung dalam ratusan episode

Dana Otsus; Aceh Beternak Kemiskinan?   
IST
Ishak Hasan, Dosen Unsyiah, ditugaskan di UTU

Dr. Ishak Hasan, M.Si.

Dosen Unsyiah ditugaskan sebagai Wakil Rektor II di UTU

Potret buram kemiskinan Aceh nampaknya masih menjadi bahan diskusi yang panjang bagaikan kita menonton drama bersambung dalam ratusan episode. Drama kemiskinan di Aceh telah mengundang banyak perhatian. Bahkan beberapa waktu yang lalu di harian ini juga ada yang mengatakan bahwa kemiskinan di Aceh mengherankan dunia (Serambi Indonesia, Selasa, 23 Juli 2019).

Terakhir yang juga tidak kalah menarik yang dipentaskan oleh TV One dalam program tayang ILC Selasa malam 3 September 2019, Rizal Ramli menyorot bahwa Dana Otsus Aceh telah ditilep oleh elite Aceh. Karenanya Aceh tidak bisa menjadi contoh yang baik. Aceh menyandang predikat provinsi termiskin di Sumatera.

Bukan hanya Rizal Ramli saja yang mengatakan bahwa Aceh sebagai provinsi termiskin di Sumatera, tetapi juga data statistik yang ada telah memperkuat pernyataan tersebut. Beberapa saat setelah tayangan ILC di TV One tersebut mengundang berbagai komen, ada yang setuju dan juga ada yang tidak.

Sebenarnya masalah kemiskinan di Aceh ini sudah menjadi masalah klasik. Isu ini sering timbul tenggelam, dimunculkan sesuai dengan moment yang ada. Misalnya ketika pilkada, pileg, dan juga ketika momen strategis lain seperti sengaja dimunculkan dan menjual isu ini untuk mengambil keuntungan.

Diskusi skala kecil, bahkan seminar skala nasional sudah pernah dipentaskan di Aceh, baik di kampus, NGO, dan berbagai kalangan lain yang semuanya ditujukan untuk mengentaskan kemiskinan di Aceh sudah terlalu banyak untuk disebutkan. Bahkan banyak hasil penelitian di perguruan tinggi dan pihak terkait lainnya sudah dihasilkan, hanya saja implementasinya yang masih kurang.

Sudah terlalu banyak rekomendasi strategi, dan kebijakan, termasuk juga alokasi anggaran dalam beberapa tahun terakhir, baik dana yang bersumber dari DAU, DAK, dan juga dana Otonomi Khusus telah digelontorkan. Namun semua itu belum mampu memberikan perubahan yang signifikan pada pengurangan kuantitas kemiskinan. Makanya tidak heran jika kemiskinan di Aceh mengundang banyak pertanyaan.

Bahkan saya sering mengatakan pada mahasiswa bahwa kemiskinan di Aceh telah berayun antara kemunafikan dan kesalehan, antara sayang dan kebencian. Perumpamaan tersebut bukan tanpa alasan. Kemunafikan lebih saya tujukan kepada perilaku kita yang mengetahui bahwa kemiskinan adalah keburukan dan kehinaan yang meruntuhkan martabat kita.

Sementara kesalehan adalah perilaku yang menampakkan bahwa kita perlu berdamai dengan kemiskinan, karenanya kita bolehlah berlama-lama dalam kemiskinan. Karena kemiskinan bisa menjadi lahan amal yang memberatkan timbangan untuk masuk surga. Mereka yang ingin berdamai dengan kemiskinan memiliki keyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah bersama mereka.Karena Nabi Muhammad mengasihi orang-orang miskin, oleh sebab itu kemiskinan harus dipelihara.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved