Opini

Islam dan Keacehan

Mengapa kita mesti menyoal tentang keacehan seorang Aceh di masa dimana hibridisasi kultur dan nilai sudah semakin populer

Islam dan Keacehan
IST
Syukri Rizki, Alumni Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry, Kandidat Master Program Southeast Asian Studies di Goethe University, Jerman

Oleh Syukri Rizki, Alumni Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry, Kandidat Master Program Southeast Asian Studies di Goethe University, Jerman

 Mengapa kita mesti menyoal tentang keacehan seorang Aceh di masa dimana hibridisasi kultur dan nilai sudah semakin populer dan berkempang pesat, hingga menambah ragam warna jati diri seseorang? Haruskah kita tetap bertahan di atas defenisi keacehan yang didefinisikan oleh pendahulu kita yang tidak menyaksikan betapa hebatnya perkembangan teknologi di masa kini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita mesti terlebih dahulu menginternalisasi dimana duduk persoalannya. Karena kalau tidak, kita tidak akan bisa tiba pada satu keseragaman kesepakatan untuk status kacehan.

Di zaman yang serba canggih ini, kita terpapar nyaris setiap hari dengan suguhan bacaan, tayangan, tontonan, dan kuliah bebas yang mengadopsi berbagai macam nilai; sebagiannya tersaring seadanya, sisanya terakses bebas tanpa filter sama sekali. Sehingga, mau tidak mau kita wajib sadar untuk menyoal kembali bagaimana sepatutnya menjadi seorang Aceh.

Kita bergumul dengan pertanyaan yang belum terjawab secara memuaskan: apakah orang Aceh adalah orang yang memiliki kartu indetitas Aceh semata, apakah peranakan Aceh yang menjadi diaspora juga termasuk Aceh, apakah orang Aceh harus bersuku Aceh, atau apakah orang Aceh adalah yang fasih bertutur bahasa Aceh. Setiap orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang Aceh berhak menjawab.

Nilai masa silam

Pergerseran nilai adalah keniscayaan yang sulit dipungkiri. Ia terjadi karena insan yang hidup dengan suatu nilai ingin memperkaya fitur nilainya. Di Aceh, tentu ada orang-orang yang sudah merasa mantap menetapkan definisi diri mereka sendiri tentang bagaimana menjadi orang Aceh, dan sebagian lainnya memilih untuk tidak ambil pikir dan mengikuti arus mainstream agar bisa berada di posisi aman. Kendati demikian, eloknya kita melihat bagaimana para pendahulu menkonstruksikan keacehan sehingga terwariskanlah nilai itu kepada kita sekarang.

Alangkah ironinya jika bangsa sebesar Aceh acuh tak acuh terhadap keagungan masa silamnya. Di ujung barat pulau Sumatera ini, masyarakat dengan berbagai latar belakang sosial hidup, makan dan minum dari hasil bumi Aceh. Secara natural, koeksistensi dengan berbagai corak sosial masyarakat juga sudah ada sedari dulu.

Di atas semua itu, Islamlah yang memberi warna paling dominan dengan rahmatan lil alamin-nya, dan mayoritas bangsa Aceh memang memilih agama ini untuk menjadi bagian dari identitas mereka.

Di jalan agama suci ini mereka hidup, bahkan berdiri tegap dan mantap menentang penjajahan yang bukan hanya ingin menistakan mereka secara fisik, tapi juga ingin ikut campur dalam corak warna keacehan yang sudah dipilih sendiri oleh bangsa Aceh. Menjadi syahid adalah obsesi para pemuda Aceh demi marwah kalimat syahadat yang menjadi kontrak mati identitas mereka. Keteguhan itu pun diwariskan melalui media petuah, hadih maja, hikayat, tambeh, dan senandung tidur anak-anak, dengan harapan generasi berikutnya akan memegang erat agama ini dan memprioritaskannya di atas segala-galanya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved