Salam

Lebih Baik Berbaju Aceh Saat Menikah  

Calon pengantin yang akan menikah di rumah atau dalam masjid di Aceh Barat hingga kemarin masb banyak yang mengenakan pakaian ala Eropa

Lebih Baik Berbaju Aceh Saat Menikah   
SERAMBINEWS.COM/JAFARUDDIN
Adalah Khairul Rizal (29) mahasiswa asal Desa Matang Panyang Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara mendatangi rumah pengantin wanita yang dipersuntingnya dengan cara menunggang kuda. 

Calon pengantin yang akan menikah di rumah atau dalam masjid di Aceh Barat hingga kemarin masb banyak yang mengenakan pakaian ala Eropa alias kebarat-baratan atau sering juga disebut pakaian seloyor. Padahal, sejak Desember 2018 Aceh Barat sudah mensahkan Qanun tentang Pelestarian Kebudayan Aceh Barat yang di dalamnya turut tercantum keharusan para calon pengantin menggunakan pakaian adat Aceh ketika menikah.

Fenomena masih menggunakan pakaian yang disebut kebarat-baratan itu terlihat hampir merata di Aceh Barat. Bahkan, termasuk di masjid kabupaten yakni Masjid Agung Baitul Makmur yang memang ramai digunakan pasangan untuk melangsungkan ijab kabul.

H Mawardi Basyah Ssos, seorang anggota DPRK setempat mempertanyakan pelaksanaan Qanun Pelestarian Kebudayaan Aceh Barat yang sudah disahkan pada Desember 2018 lalu. Pasalnya, qanun yang mewajibkan setiap calon pengantin mengenakan pakaian adat Aceh saat menikah belum diterapkan secara tegas. “Kita mendorong pemkab segera menerapkan qanun itu. Langkah awalnya adalah melakukan sosialisasi atau penyuluhan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan, qanun merupakan produk hukum harus segera diaplikasikan sehingga tidak sia-sia. Untuk penerapan qanun itu, paparnya, pemkab perlu duduk dengan lembaga lain seperti Majelis Adat Aceh (MAA) serta menyurati masjid-masjid serta desa-desa guna segera mengaplikasikan qanun yang sudah disahkan DPRK Aceh Barat tersebut. “Kita berharap calon pengantin yang selama ini pakaiannya kebarat-baratan segera beralih menggunakan pakaian adat kita di Aceh,” harapnya.

Untuk pelestarian budaya Aceh, kita tentu sangat mendukung penerapan qanun itu. Sebab, sesungguhnya mengenakan baju adat –tidak saat menikah saja-- kapan pun pasti akan sangat membanggakan pamakainya. Bukan hanya kita yang pakai, baju Aceh dipakai orang luar kita juga sangat bangga. Sebagai contoh, hampir semua orang Aceh pasti merasa tersanjung ketika melihat Wapres Jusuf Kalla menggunakan baju Aceh yang lengkap saat upacara 17 Agustus 2019 di Istana Negara Jakarta.

Dari segi model dan bahan, baju Aceh untuk pria dan wanita sangat sopan dan layak dibawa ke dalam masjid. Jadi, tidak ada masalah yang harus menjadi keberatan bila kelak qanun itu diterapkan. Jika perlu, semua kabupaten/kota di Aceh bisa mengikutinya. Apalagi, baju adat Aceh itu sekarang banyak tersedia di tempat penyewaan yang tarifnya sangat terjangkau. Jadi, tak ada alasan yang harus menjadi keberatan para calon pengantin terhadap penerapan qanun tersebut.

Setiap calon pengantin pasti ingin terlihat ganteng dan cantik pada hari bahagianya. Momen penting dalam hidup itu,  menjadi raja dan ratu sehari merupakan hal paling dinantikan  setiap pria dan wanita. Oleh sebab itu tampil ganteng dan cantik sempurna menjadi suatu keharusan bagi pasangan pengantin.

Jika sebelumnya tren busana pengantin menggunakan gaun bertema nasional atau internasional, sepertinya tren tersebut mulai ditinggalkan. Sejak beberapa tahun terakhir, pasangan pengantin lebih banyak menggunakan busana dengan konsep tradisional dan kembali ke adat pada saat izab kabul atau menikah.

Para make up artis ternama mengaku tren busana pengantin saat ini kembali ke konsep tradisional. Mereka menuturkan, ada beberapa keunggulan ketika pengantin memakai busana adat, di antaranya melestarikan budaya, dengan mengangkat adat istiadat, ada kepuasan tersendiri bagi pengantin saat memakai pakaian adat di momen berharga , baik pada saat prewedding, akad, maupun resepsi.

Dan para budayawan juga sangat bangga atas perkembangan positif dalam penggunaan pakaian adat pada berbagai event penting di tingkat nasional maupun daerah. Maka, selamat berbangga dalam balutan busana tradisional kita yang banyak ragamnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved