Opini

Pura-pura Baik dan Baik Pura-pura

Penjaga rumah yang melakukan kejahatan (Serambi, 4/9/2019), dan tren kejahatan yang menimpa generasi milenial semakin meningkat

Pura-pura Baik dan Baik Pura-pura
Sulaiman Tripa, Ketua Bagian Hukum dan Masyarakat FH Unsyiah 

Oleh Sulaiman Tripa, Ketua Bagian Hukum dan Masyarakat FH Unsyiah

Dalam seminggu ini, ada dua berita kecil yang bisa jadi tidak semua orang membacanya. Penjaga rumah yang melakukan kejahatan (Serambi, 4/9/2019), dan tren kejahatan yang menimpa generasi milenial semakin meningkat (Serambi, 5/9/2019). Ada satu kesamaan dari dua berita ini, bahwa pelaku kejahatan, sebelum melakukan aksinya, terlebih dahulu memperlihat sikap yang pura-pura baik.

Kejahatan yang dilakukan penjaga rumah, cermin dari betapa orang yang dipercaya bisa melakukan kejahatan terhadap orang yang selama ini membiayai sebagian kebutuhan hidupnya. Posisi ini bisa digeser dan dilihat lebih luas dengan motif pura-pura baik, misalnya pencurian yang dilakukan oleh pelaku yang sudah mengenal persis rumah incarannya.

Pola ini yang juga dilakukan terhadap generasi milenial. Ada sifat positif dari generasi ini, adalah cepat mempercayai orang yang terkesan baik. Pemilik motor dengan mudah mempercayai peminjam, padahal mereka baru saling kenal. Mereka duduk berjam-jam dan saling ngobrol entah apa padahal orang di sampingnya tidak diketahui siapa sebenarnya.

Motif pura-pura baik, dengan mudah mengelabui para korban. Sudah banyak kasus, dimana orang-orang yang melakukan kejahatan, namun diawali dengan perilaku yang seolah-olah ingin berbuat baik. Jika ingin disederhanakan, keadaan demikian adalah sebagai kejahatan yang didahului dengan perilaku baik.

Sebenarnya "kejahatan" dan "perbuatan baik" adalah sesuatu yang bertolak belakang. Kejahatan merupakan perbuatan yang jahat, sifat yang jahat, atau perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, asal kata "kejahatan" adalah "jahat", yang berarti sangat jelek, buruk, sangat tidak baik, terkait dengan kelakuan, tabiat, dan perbuatan. Sedangkan "perbuatan baik" adalah sesuatu yang diperbuat atau dilakukan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Kata pura-pura baik sangat mirip dengan posisi ingin "membantu", atau upaya untuk memberikan pertolongan bagi orang lain yang membutuhkan. Kata membantu seyogianya berimplikasi kepada perbuatan baik. Kesan ini yang kemudian diputar-putar. Pura-pura baik, dan baiknya pura-pura. Baik, kok pura-pura? Tetapi itulah yang terjadi.

Dengan konsep demikian, pertanyaan pentingnya adalah bagaimana bisa kejahatan dapat bergabung dengan kesan perbuatan baik?

Bagi orang yang belajar hukum dan ilmu hukum, suasana ini di satu sisi dapat dipahami, walau di sisi lain, seharusnya tidak boleh terjadi. Ada hukum yang menjamin semua problematika kehidupan. Tidak ada masyarakat yang tanpa hukum. Relasi ini pernah diingatkan seorang seorang filsuf, Cicero, dengan kata-kata, ubi societas ibi ius-di mana ada masyarakat di sana ada hukum.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved